PLN Rugi Menteri Rini 'Pusing' - Alreinamedia.com PLN Rugi Menteri Rini 'Pusing' - Alreinamedia.com
PLN Rugi Menteri Rini ‘Pusing’

PLN Rugi Menteri Rini ‘Pusing’

alreinamedia.com, JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengaku pusing jika memikirkan rugi yang dipikul PT PLN (Persero) pada semester II-2018.

“Aduh yang lain dong, kepalaku pusing,” kata Rini singkat di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, dilansir metronews, Jumat, (31/8)

PLN mencatat kinerja yang kurang memuaskan pada paruh pertama 2018. Pasalnya perusahaan mencatat rugi sebesar Rp5,35 triliun pada semester I-2018.

Rugi tersebut yang disebabkan oleh membengkaknya beban usaha yang ditanggung perseroan. Beban usaha tercatat meningkat dari Rp130,25 triliun di semester I-2017 menjadi Rp142,42 triliun di semester I-2018.

Beban usaha terbesar berasal dari rugi kurs sebesar yang tercatat Rp11,57 triliun. Padahal di periode yang sama sebelumnya hanya mencatat Rp222,45 miliar.

Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Roekman mengungkapkan beban keuangan yang tercatat di semester I-2018 terbesar berasal dari rugi kurs. Oleh karena itu, PLN berharap rupiah kembali menguat.

Meski demikian Syofvi mengungkapkan kinerja operasional PLN pada paruh pertama 2018 jauh lebih positif.

“Kita berdoa supaya dolarnya bagus. Yang penting PLN operasionalnya positif jauh. Kalau kurs kan PLN kan enggak bisa kontrol ya,” ucap Syofvi.

Seperti diketahui, selain beban kurs, beban usaha tersebut terdiri dari beban bahan bakar pelumas yang mengalami kenaikan 16,73 persen dari Rp55,39 triliun periode yang sama tahun lalu menjadi Rp64,66 triliun. Lalu beban pembelian tenaga listrik naik 10,07 persen dari Rp34,35 triliun menjadi Rp37,81 triliun.

Kemudian, beban untuk pemeliharan naik 20,07 persen dari Rp7,92 triliun menjadi Rp9,51 triliun, beban dari penyusutan naik 6,5 persen dari Rp14,18 triliun menjadi Rp15,11 triliun dan beban keuangan yang mencapai Rp10,13 triliun.

Namun demikian, perseroan mencatat kenaikan pendapatan dari penjualan listrik sebesar 7,37 persen dari Rp118,43 triliun menjadi Rp127,16 triliun. Selain itu, perseroan juga mencatat pendapatan dari penyambungan listrik ke pelanggan yang meningkat dari Rp3,28 triliun menjadi Rp3,54 triliun.

Sementara untuk jumlah ekuitas dan liabilitas sampai dengan 30 Juni 2018 sebesar 1.355 triliun dengan masing-masing jumlah ekuitas sebesar Rp868 triliun dan jumlah liabilitas Rp486 triliun.

BERITA TERKINI