Badan POM Komitmen Bersama Pemda Dan Lintas Sektor Dalam Pengawasan Kosmetik Tampa Izin Edar Serta Mengandung Bahan Berbahaya

  • Whatsapp

Alreinamedia. Batam. (16/4/19).
Badan Pengawas Obat Dan Makanan Repubkik Indonesia adakan seminar tentang pengawasan obat kosmetik tampa izin edar dan mengandung bahan berbahaya, bertempat BWP (Best Western Premier) Hotel Panbil, Senin (15/4).

Read More

Sebagai pembicara dalam seminar panitia pelaksana dari Badan POM Provinsi Kepri menghadirkan ( 1). Dra. Mayagustina Andarini. M. Sc. Apt. (Deputi II Bidang Pengawasan Obat Tradisional , Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik) dengan materi Kebijakan” Pengawasan Kosmetik”. (2). Drs. Arustiyino. Apt. MPH (Direktur Pengawasan Kosmetik) materi ” Pengawasan kosmetik ilegal dan/atau mengandung Bahan Berbahaya ”. (3). Yosef Dwi Irwan. S. Si. Apt. (Kepala Balai Besar POM di Batam) materi seminar berjudul ” Sistem Pengawasan Obat dan Makanan di Provinsi Kepri”, dan (4). Dra. Tita Nursjafrida. Apt. M.dadan M.K.M (Kepala Sub Direktorat Pengawasan Keamanan dan Mutu Kosmetik) dengan materi ” Mekanisme Pengawasan Post Border dalam Rangka Peningkatan Pengawasan Pemasukan Kosmetika Impor ”.

Mayagustina mengatakan bahwa sepanjang tahun 2018 BPOM menemukan obat dan makanan ilegal mengandung BD/BB senilai Rp 164 M. Diantara obat dan makanan ilegal tersebut,
terdapat 126 M untuk kosmetik ilegal, artinya temuan terbesar oleh BPOM di Indonesia adalah jenis kosmetik, dibanding dengan obat-obatan, pangan,”.

Sehingga ini perlu tindakan bersama lintas sektor maupun pelaku usaha untuk bisa paling tidak mengurangi peredaran kosmetik ilegal harapan Mayagustina, walaupun kita sudah melakukan MOU dengan pihak kepolisian, kejaksaan dan Bea Cukai. Itu masih tingkat pimpinan, saja. Jadi harapan kita kedepannya akan melakukan MOU juga dengan tingkat daerah. Sehingga sasaran nya lebih ketat lagi dalam pengawasan kita tegas Mayagustina. Penyebab maraknya peredaran ilegal kosmetik di Indonesia adalah Banyaknya demand terhadap kosmetik mengandung bahan berbahaya tanpa izin edar, adanya kebijakan Post Border. Demand masyarakat terbentuk karena konsumen menginginkan efek yang instan terutama untuk perawatan kulit dengan harga murah.

Sehingga, lanjutnya, kebutuhan ini dimanfaatkan oleh produsen untuk memperoleh keuntungan besar dalam waktu relatif singkat dengan menyediakan kosmetika mengandung bahan berbahaya.

Sementara itu, tahun 2003-2017 BPOM sendiri telah mengeluarkan publik warning sebanyak 557 item produk kosmetika kerena mengandung bahan dilarang.

Dikatakan, pelaku usaha saat ini lebih mudah untuk mendapatkan notifikasi dari BPOM, hanya 14 hari kerja, namun mungkin ada komunikasi yang agak terhambat.

“Maka itu kita mencari alasannya kenapa, kita akan perbaiki dengan cara menambahkan subside di notifikasi, dengan cara chatting, sehingga pelaku usaha lebih mudah lagi untuk berkomunikasi dengan pihak BPOM,” ujarnya.

Ditempat yang sama, Direktur Pengawasan Kosmetik BPOM RI, Drs.Arustiyono, APT, MPH mengatakan bahwa maraknya peredaran kosmetik ilegal di Indonesia terdapat di Kepri khususnya Batam, mengingat posisi Batam sangat strategis berdekatan dengan negara Singapura dan Malaysia.

Untuk itu, kedepannya kita akan mendiskusikan hal ini lebih mendalam lagi, dengan Mengandeng Instansi pemerintah maupun swasta serta stakeholder lainnya,” ucap Arustiyono.

Disamping itu, Kepala BPOM Kepri, Yosef Dwi Irawan mengatakan bahwa sepanjang tahun 2018 pihaknya menyita sedikitnya 418.316 buah obat dan makanan ilegal dengan nilai ekonominya mencapainya Rp 4,7 miliar.

Sebanyak 418.316 item obat dan makanan ilegal tersebut diantaranya obat ilegal 104.257 buah dengan nilai ekonomi Rp 302.264.000 dan obat tradisional 130.923 item dengan nilai ekonomi Rp 302.264.000, sementara kosmetik 131.818 item mencapai Rp 2,2 M,” jelasnya. Yosef menghimbau kepada masyarakat agar lebih bijak dan cerdas dalam memilih obat dan makanan yang akan dibeli dan dikonsumsi, dengan cara Cek Klik, “Cek Klik adalah cek kemasan, cek label, cek izin edar dan cek kadaluarsa,” tutupnya. (Ramadan)

  • Whatsapp

Related posts