Berita

7 Perilaku yang Dianggap Biasa oleh Kelas Atas Tapi Dikritik oleh Kelas Lain

×

7 Perilaku yang Dianggap Biasa oleh Kelas Atas Tapi Dikritik oleh Kelas Lain

Sebarkan artikel ini

Perilaku yang Dianggap Normal oleh Kelas Atas Tapi Dinilai Sok-Sokan oleh Lainnya

Perilaku yang dianggap biasa oleh kalangan kelas atas sering kali terlihat berbeda ketika dilihat dari sudut pandang kelas sosial lain. Kesenjangan antara kelas sosial menciptakan perbedaan dalam persepsi, sehingga tindakan yang dianggap wajar oleh satu kelompok bisa dianggap sok-sokan oleh yang lain.

Kelas atas menjalani gaya hidup yang bagi mereka normal, namun di mata masyarakat luas seringkali tampak berlebihan. Fenomena ini menunjukkan betapa kelas sosial memengaruhi cara menilai sesuatu sebagai hal yang biasa atau sebaliknya.

Berikut adalah beberapa perilaku yang dianggap normal oleh kelas atas tapi disebut sok-sokan oleh kelas sosial lain:

  • Menyebut nama tokoh terkenal dengan santai

    Dalam percakapan sehari-hari, orang-orang dari kalangan berada sering menyebutkan nama-nama besar seperti sedang bercerita tentang tetangga sebelah. Mereka akan berkata “kemarin makan siang dengan Jeff” tanpa menjelaskan bahwa Jeff yang dimaksud adalah Jeff Bezos. Bagi mereka, ini bukan bentuk pamer melainkan cara alami menceritakan aktivitas mereka karena memang bergerak di lingkungan yang sama dengan para pemimpin bisnis, politikus, dan selebriti. Namun bagi orang di luar lingkaran tersebut, cara berbicara seperti ini terdengar seperti pertunjukan prestasi ketimbang obrolan biasa.

  • Menganggap kemewahan sebagai kebutuhan dasar

    Kalangan kaya memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang apa yang dianggap sebagai kebutuhan versus keinginan. Hal-hal seperti penerbangan kelas bisnis, keanggotaan country club, pengiriman bunga segar mingguan, dan lemari pakaian bermerek bukanlah kemewahan bagi mereka, melainkan logistik dasar kehidupan. Standar “biasa” mereka bergeser drastis ketika dikelilingi oleh kemakmuran, sehingga yang dianggap mewah oleh kebanyakan orang menjadi hal rutin bagi mereka. Masalahnya muncul ketika rutinitas ini menjadi bahan percakapan, karena bisa terdengar tidak peka atau bahkan arogan bagi mereka yang berada di luar lingkaran tersebut.

  • Berbicara dalam terminologi warisan keluarga

    Di keluarga-keluarga kaya raya, percakapan sehari-hari sering kali berkisar pada konsep warisan dan kelestarian kekayaan lintas generasi. Mereka akan membicarakan tentang “mempertahankan rumah leluhur keluarga”, menjaga properti tertentu dalam perwalian, atau “melindungi nama baik keluarga” seolah ini adalah topik normal. Ketika kekayaan sudah turun-temurun atau setidaknya mapan sejak lama, wajar jika mereka memandang hidup dalam konteks warisan dan legacy. Namun bagi seseorang yang merupakan generasi pertama kuliah atau masih berjuang membayar sewa, mendengar bahasa seperti itu bisa terasa berat dan tidak relevan.

  • Menerapkan etiket sosial yang sangat formal

    Dalam budaya golongan mapan, etiket diperlakukan sebagai semacam tata bahasa sosial yang harus dikuasai dengan sempurna. Segala hal mulai dari berdiri ketika seseorang memasuki ruangan, menulis kartu ucapan terima kasih dengan tangan, hingga mengenakan pakaian formal untuk makan malam bukanlah “tambahan” melainkan sesuatu yang diharapkan. Orang-orang yang dibesarkan dalam lingkungan ini sering mempelajari perilaku tersebut dengan cara yang sama seperti orang lain belajar naik sepeda. Formalitas ini bukan permainan kekuasaan bagi mereka, melainkan memori otot yang sudah tertanam sejak kecil. Namun bagi mereka yang tidak terendam dalam dunia ini, tingkat formalitas tersebut bisa terasa kaku atau bahkan merendahkan.

  • Mengoleksi hobi-hobi bergengsi

    Ketika bertanya tentang hobi seseorang, jawaban yang diharapkan biasanya adalah membaca, berlari, atau mungkin melukis. Tetapi di antara kelompok wealthy, kamu akan sering mendengar tentang regatta berlayar, pertandingan polo, berkuda, atau mengoleksi wine yang memiliki asosiasi berabad-abad dengan kekayaan dan prestise. Bagi mereka yang berada dalam dunia itu, hobi-hobi ini sama biasanya dengan bowling atau basket jalanan karena sudah tertanam dalam budaya rumah musim panas, sekolah swasta, dan destinasi liburan eksklusif. Seringkali anak-anak diperkenalkan pada aktivitas ini sejak usia muda, sehingga tidak terasa seperti kepura-puraan melainkan seperti tradisi keluarga. Tentu saja dari luar, hobi-hobi ini bisa terlihat seperti penanda eksklusivitas yang sengaja dipamerkan.

  • Membicarakan uang secara tidak langsung

    Di kalangan golongan mapan, orang jarang berbicara tentang uang dalam istilah yang langsung dan tegas. Gaji tidak pernah disebutkan, harga dihindari, dan “kekayaan” itu sendiri sering disiratkan melalui frasa seperti “old money” atau “family office kami” sebagai bahasa sinyal halus ketimbang pernyataan blak-blakan. Ketidaklangsungan ini mungkin terasa alami di lingkaran mereka, tetapi bisa membuat orang luar merasa seperti sedang bermain teka-teki atau permainan asap dan cermin. Kebanyakan orang terbiasa dengan angka-angka polos seperti sewa, gaji, dan tagihan, sehingga ketika uang menjadi sesuatu yang diselimuti eufemisme, rasanya aneh dan mengada-ada.

  • Menunjukkan eksklusivitas tanpa usaha

    Ada sesuatu yang surreal ketika menyaksikan seseorang melewati antrean restoran selama dua jam karena maître d’ mengenal mereka secara personal. Di kalangan wealthy, perlakuan seperti ini tidak dianggap istimewa melainkan normal dan wajar. Memiliki meja pribadi yang menunggu, mengenal staf dengan nama, atau tidak pernah perlu mengantri hanyalah produk sampingan dari koneksi dan status mereka. Mereka tidak selalu memamerkannya secara sengaja, ini hanya cara kerja dalam dunia mereka yang sudah terstruktur sedemikian rupa. Tetapi bagi orang lain, menyaksikan seseorang meluncur melalui hidup dengan privilege tak terlihat bisa terasa seperti hak istimewa yang dipamerkan. Apa yang terlihat biasa dari dalam gelembung mereka terlihat seperti favoritisme luar biasa dari luar, menciptakan kesenjangan persepsi yang sangat kontras antara dua dunia yang berbeda.

Baca Juga :  Erupsi Kembali! Marapi Siaga, Warga Diminta Patuhi Panduan Pemerintah