Berita

Air Mata Haru Saat Bilqis Kembali ke Orang Tua Kandung, Dianggap Anak Sendiri oleh Suku Anak Dalam

×

Air Mata Haru Saat Bilqis Kembali ke Orang Tua Kandung, Dianggap Anak Sendiri oleh Suku Anak Dalam

Sebarkan artikel ini

Penemuan Bilqis: Kembalinya Bocah 4 Tahun ke Pelukan Keluarga

Bilqis, seorang bocah perempuan berusia empat tahun yang sempat hilang dan diduga menjadi korban penculikan, akhirnya kembali ke pelukan keluarganya dalam kondisi selamat. Kejadian ini memicu rasa haru dan simpati luas dari masyarakat setelah video perpisahan antara Bilqis dengan warga Suku Anak Dalam (SAD) viral di media sosial.

Suasana Haru Saat Pemulangan

Dalam rekaman video yang beredar luas, Bilqis tampak menangis sambil memanggil orang tuanya. Di sekelilingnya, seorang lelaki, seorang perempuan, dan dua anak lainnya yang disebut sebagai warga SAD ikut larut dalam tangis. Mereka terlihat enggan berpisah dengan bocah kecil itu. Momen perpisahan tersebut menjadi puncak dari kisah pencarian yang sempat menyita perhatian publik.

Bilqis dinyatakan hilang setelah dilaporkan diculik di kawasan taman kota yang ramai pada akhir Oktober lalu. Setelah upaya pencarian intensif oleh kepolisian dan warga, Bilqis akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat di wilayah tempat tinggal komunitas SAD.

Proses Pemulangan dan Penyelidikan

Pihak kepolisian memastikan proses pemulangan dilakukan dengan pendampingan petugas dan melibatkan lembaga perlindungan anak. “Anak sudah dalam kondisi baik dan kini bersama keluarganya. Kami masih mendalami motif dan pihak yang terlibat dalam kasus dugaan penculikan ini,” ujar salah satu pejabat kepolisian setempat.

Baca Juga :  10 Game PPSSPP Terbaik untuk Android dengan Grafis Menakjubkan dan Seru

Sementara itu, keluarga Bilqis menyampaikan rasa syukur mendalam atas kembalinya sang buah hati. “Kami hanya bisa berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Kami tidak bisa bayangkan kalau anak kami tidak ditemukan,” ujar ayah Bilqis dengan suara bergetar.

Video tangis haru perpisahan tersebut kini viral di berbagai platform media sosial, menimbulkan simpati luas dari masyarakat. Banyak warganet terenyuh melihat kehangatan antara Bilqis dan keluarga SAD yang selama beberapa waktu merawatnya.

Penyelamatan Dramatis

Kasubnit Jatanras Polrestabes Makassar, Ipda Adi Gaffar, menyebut proses penyelamatan Bilqis berlangsung dramatis. Warga SAD awalnya enggan melepas Bilqis karena menganggapnya sebagai anak mereka sendiri.

“Sangat alot, karena mereka bertahan. Katanya, anak itu sudah dianggap sebagai anaknya sendiri,” kata Adi.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya sempat berkomunikasi dengan kepala suku atau Tumenggung serta warga SAD lainnya. Dari hasil pembicaraan itu diketahui bahwa praktik adopsi anak di kalangan SAD sudah sering terjadi. “Memang mereka biasa merawat anak-anak yang diadopsi. Kata salah satu tersangka juga, sudah sering membawa anak untuk diadopsi ke suku anak dalam melalui perantara bernama Lina,” ujarnya.

Adi menambahkan, komunitas SAD biasanya mengadopsi anak untuk memperbaiki keturunan. “Keterangannya, mereka hanya ingin memperbaiki keturunan. Itu alasan yang disampaikan kepada saya,” ujar Adi.

Kasus Penculikan dan Adopsi

Polisi mengungkap, pasangan Adit Prayitno Saputra (36) dan Meriana (42), warga Kabupaten Merangin, Jambi, telah beraksi sembilan kali. Mereka berpura-pura sebagai pasangan suami istri yang telah menikah sembilan tahun namun belum dikaruniai anak.

Baca Juga :  Demi Kemanusiaan, Kapolres Natuna Terjun Evakuasi Jenazah Korban Longsor Serasan

“Keduanya mengaku telah memperjualbelikan sembilan bayi dan satu anak melalui TikTok dan WhatsApp,” ungkap Adi.

Suku Anak Dalam Diduga Tertipu

Terpisah, Wahida Baharuddin Upa, pendamping hukum masyarakat SAD, menduga komunitas SAD di Jambi tertipu dalam kasus penculikan Bilqis. Ia menilai warga SAD tidak mengetahui bahwa anak yang diadopsi merupakan korban penculikan.

“Nah, menurutku begini. Ini seperti sindikat sebenarnya. Tapi kan yang kasihannya adalah orang yang mengadopsi. Tentu saja yang mengadopsi ini saya yakin niatnya adalah kepengin punya anak. Dia pikir mungkin ini adalah cara yang sudah sesuai dengan prosedur hukum. Sebenarnya yang patut dihukum adalah tentu adalah pelaku pertama,” ujar Wahida.

Wahida berharap pelaku penculikan Bilqis mendapat hukuman setimpal. “Hukumannya harusnya lebih berat karena ini menyangkut soal hak seorang anak yang kemudian dihilangkan hanya karena adopsi. Hanya karena diculik kemudian diadopsi begitu saja,” ujarnya.

Sebelumnya, polisi mengungkap Bilqis dijual ke komunitas SAD di Jambi dengan surat palsu. Surat tersebut dibuat agar seolah-olah Bilqis diserahkan secara sukarela oleh orang tua kandungnya.