Tekanan Daya Beli Masyarakat Berdampak pada Pertumbuhan Piutang Pembiayaan
Kondisi ekonomi yang sedang mengalami tekanan berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan piutang pembiayaan di industri multifinance hanya tumbuh secara tipis. Menurut data terbaru, pertumbuhan piutang pembiayaan hingga Agustus 2025 mencapai 1,26% secara year on year (YoY) menjadi sebesar Rp505,59 triliun. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar 10,18% YoY.
Penyebab Penurunan Daya Beli
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, menjelaskan bahwa penurunan daya beli masyarakat masih terjadi karena banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan dan cenderung membatasi pengeluarannya hanya untuk kebutuhan pokok. Akibatnya, keputusan untuk membeli kendaraan atau barang lain yang bersifat non-essensial ditunda.
Menurutnya, hal ini juga terlihat dari kinerja industri otomotif yang menunjukkan penurunan. Penjualan mobil roda empat turun sebesar 11%, sementara penjualan motor sudah mulai menunjukkan pertumbuhan negatif yang kecil. Meskipun pembiayaan kendaraan masih menjadi salah satu penopang utama industri multifinance, kondisi ini memberikan tantangan besar bagi perusahaan pembiayaan.
Pembiayaan Kendaraan Masih Dominan
Suwandi menyatakan bahwa sekitar 40%—50% dari portofolio industri multifinance masih didominasi oleh pembiayaan kendaraan, baik mobil maupun motor, baik baru maupun bekas. Namun, pertumbuhan dalam sektor ini juga tidak bisa diharapkan meningkat secara signifikan akibat tekanan daya beli.
Selain itu, pembiayaan alat berat juga mengalami pertumbuhan yang sangat tipis, bahkan tidak bisa mencapai angka dua digit. Menurut Suwandi, penurunan daya beli bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami oleh negara-negara lain. Faktor geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina yang belum berakhir juga turut memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Upaya Pemerintah dalam Mendorong Ekonomi
Untuk mengatasi situasi ini, pemerintah saat ini sedang giat memberikan stimulus-stimulus ekonomi yang bertujuan mendorong sektor ritel agar daya beli masyarakat dapat meningkat. Suwandi berharap upaya-upaya tersebut dapat memberikan hasil yang nyata dan mendorong perputaran ekonomi yang lebih baik.
“Ya kita harapkan apa yang sedang dilakukan oleh beliau [Menkeu Purbaya] membawa hasil dan bisa terjadi satu rangkaian atau perputaran yang bisa menumbuhkan perekonomian kita,” ujarnya.
Strategi Konservatif untuk Stabilitas Perusahaan
Meski pertumbuhan tidak meningkat, Suwandi berharap perusahaan pembiayaan tetap bisa bertahan dan stabil. Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah dengan memberikan modal kerja kepada nasabah yang sudah lunas, sehingga mereka bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan bisnis.
“Misal dengan pemberian modal kerja, nasabah yang sudah lunas ditawari diambil jaminannya untuk kebutuhan modal kerja. Mungkin mau tumbuh besar enggak bisa, yang penting masih tumbuh-tumbuh sedikit atau paling tidak jangan sampai turun,” katanya.
Proyeksi Pertumbuhan Piutang Hingga Akhir Tahun
Dari proyeksi yang disampaikan, pertumbuhan piutang pembiayaan hingga akhir tahun tidak akan jauh berbeda dari kondisi sekarang, yaitu berkisar antara 1%—2%. Yang paling penting bagi industri multifinance adalah menjaga kualitas portofolio agar tetap terjaga baik.
Kondisi Industri Multifinance Saat Ini
Sebagai informasi tambahan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa pertumbuhan piutang pembiayaan di industri multifinance pada Juli 2025 turun menjadi 1,79% secara month to month (MtM). Dengan kondisi ini, industri multifinance harus terus beradaptasi dengan situasi ekonomi yang tidak pasti dan mencari solusi inovatif untuk menjaga stabilitas bisnis.

















