Bencana alam berupa banjir bandang dan angin kencang melanda 13 desa di lima kecamatan di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, pada Senin 10 November 2025. Meskipun banjir telah mulai surut, tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat masih melakukan pendataan dan evaluasi terkait dampak bencana tersebut.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bima, Nurul Huda, mengungkapkan bahwa curah hujan tinggi di daerah perbukitan menjadi penyebab utama banjir bandang. Menurutnya, sungai-sungai kecil yang mengalir menuju permukiman warga meluap hingga memengaruhi sebanyak 2.347 jiwa. Ratusan rumah terendam air, serta sejumlah infrastruktur rusak akibat bencana ini.
Dari lima kecamatan yang terdampak, Kecamatan Sanggar menjadi wilayah paling parah. “Banjir merendam empat desa di Kecamatan Sanggar dengan ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 80 sentimeter,” ujar Nurul saat dihubungi melalui telepon di Bima, Selasa 11 November 2025.
Di Kecamatan Wera, banjir bandang menyebabkan tebing sungai di dua desa jebol sepanjang lebih dari 200 meter setelah tidak mampu menahan derasnya arus air dari perbukitan. Selain itu, banjir juga terjadi di tiga desa di Kecamatan Bolo dan dua desa di Kecamatan Soromandi.
Sementara itu, angin kencang menerjang dua desa di Kecamatan Wawo, yaitu Desa Pesa dan Maria. Sebanyak 15 rumah mengalami kerusakan, terutama pada bagian atap. “Tiang listrik dan pohon roboh menimpa rumah warga di Desa Pesa, namun tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut,” kata Nurul.
BPBD Kabupaten Bima memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dari bencana yang menimpa lima kecamatan tersebut. Namun, bantuan tanggap darurat seperti logistik, peralatan, atap seng/spandek, perbaikan infrastruktur darurat, serta ekskavator untuk pembersihan material lumpur dan sampah sangat dibutuhkan. “Tim kami terus berkoordinasi dengan camat, aparat desa, TNI-Polri, serta dinas terkait untuk mempercepat penanganan,” ujar Nurul.
Selain itu, Nurul Huda mengingatkan warga agar segera melapor jika terjadi peningkatan debit air atau kerusakan infrastruktur akibat cuaca ekstrem. “Waspadai perubahan cuaca mendadak dan aliran air dari perbukitan. Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi beberapa hari ke depan,” katanya.
Berdasarkan Prospek Cuaca Mingguan periode terkini dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Nusa Tenggara Barat berada di antara daerah-daerah yang diminta siaga hujan lebat-sangat lebat 11-13 November 2025. Data BMKG juga mencatat wilayah sama mendapat guyuran hujan lebat sebesar 128 mm pada Sabtu lalu, 8 November 2025.















