Banjir Melanda Kudus dan Pati: Langkah Penanganan Darurat dan Solusi Jangka Panjang
Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dilanda banjir parah sejak 10 Januari 2026. Intensitas hujan yang tinggi menjadi penyebab utama meluapnya sungai-sungai di wilayah tersebut, mengakibatkan terendamnya sejumlah kawasan permukiman, infrastruktur vital, serta jalur transportasi yang menghubungkan antarwilayah. Situasi darurat ini menyita perhatian serius dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Respons Darurat dan Penilaian Dampak
Sejak awal bencana, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) segera menerjunkan tim ke lapangan. Menteri PU Dody Hanggodo menyatakan bahwa tim tersebut bertugas melakukan respons darurat, melakukan inspeksi terhadap infrastruktur yang terdampak, serta memberikan dukungan penuh kepada pemerintah daerah dalam komando penanganan bencana. Bentuk dukungan yang diberikan meliputi pengiriman alat berat, peralatan pendukung, serta pasokan bahan dan sarana kebencanaan ke lokasi-lokasi yang terdampak.
Penanganan banjir di kedua kabupaten ini dilakukan secara terpadu. Mengingat Kudus dan Pati berada dalam satu sistem sungai, yaitu Sungai Juwana, yang menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, koordinasi antarlembaga menjadi sangat krusial.
Pengerahan Alat Berat dan Upaya Pemulihan Akses
Sebagai bagian dari respons cepat, BBWS Pemali Juana mengerahkan sebanyak 20 unit alat berat. Alat-alat ini dimanfaatkan secara optimal untuk berbagai keperluan, di antaranya:
- Menutup tanggul sungai yang jebol untuk mencegah luapan air lebih lanjut.
- Membersihkan tumpukan sampah yang menyumbat jembatan dan gorong-gorong, yang dapat menghambat aliran air.
- Melakukan penggalian alur sungai guna memperlancar arus air, yang merupakan langkah penting sejak awal bencana terjadi.
Selain penanganan banjir, upaya darurat juga difokuskan pada pemulihan akses wilayah yang terdampak longsor. Salah satu contoh nyata adalah akses utama menuju Desa Tempur di Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Jalur ini sebelumnya tertutup material longsoran, namun kini berangsur-angsur dibuka kembali. Kepala BBWS Pemali Juana, Sudarto, menyampaikan rasa syukurnya atas keberhasilan ini, menyatakan bahwa desa yang sebelumnya terisolasi kini mulai terbuka aksesnya.
BBWS Pemali Juana juga aktif berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Kolaborasi ini mencakup pengalihan alur sungai menggunakan struktur krib dan bronjong. Di atas struktur tersebut, direncanakan pembangunan jalan darurat agar dapat dilalui oleh kendaraan roda empat, memulihkan mobilitas warga.
Penanganan spesifik juga dilakukan pada longsoran tanggul Sungai Suwatu di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Upaya ini merupakan bagian integral dari strategi pengamanan sungai dan perlindungan kawasan permukiman warga dari potensi ancaman banjir.
Solusi Jangka Panjang: Normalisasi Sungai Juwana
Menghadapi masalah banjir yang berulang, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air (SDA) telah memastikan bahwa normalisasi Sungai Juana, yang melintasi Kabupaten Kudus dan Pati, akan dilanjutkan sebagai solusi jangka panjang.
Pekerjaan normalisasi ini direncanakan akan dimulai pada tahun 2026 dengan menggunakan skema anggaran tahun jamak (multi-years contract). Sudarto menjelaskan bahwa Kabupaten Pati dan Kudus dapat dianggap sebagai satu kesatuan dalam penanganan karena keduanya terhubung oleh Sungai Juana. “Normalisasi dan sudetannya mestinya bisa dikerjakan bersamaan, seperti Sungai Wulan yang sudah sukses. Terbukti tidak banjir lagi di perbatasan Demak–Kudus,” ujarnya, merujuk pada keberhasilan proyek serupa di wilayah lain.
Meskipun demikian, pelaksanaan normalisasi ini tidak bisa dilakukan secara instan. Proyek ini membutuhkan anggaran yang sangat besar dan masih menghadapi kendala signifikan dalam hal pembebasan lahan di sepanjang bantaran sungai. Proses ini memerlukan koordinasi yang intensif antar daerah.
“Paling cepat tahun ini bisa dilaksanakan jika lahan sudah selesai dibebaskan. Saat ini, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten (Pemkab) dan para pemangku kepentingan untuk menyelesaikan persoalan tersebut,” ungkap Sudarto, menekankan pentingnya penyelesaian masalah lahan sebelum pekerjaan fisik dapat dimulai.
Perkembangan Penanganan Banjir
Berdasarkan hasil rapat koordinasi yang diselenggarakan di Kantor DPRD Kudus pada 16 Januari 2026, dilaporkan bahwa sebagian besar wilayah terdampak banjir di Kabupaten Kudus telah berhasil ditangani. Genangan air dilaporkan berangsur surut seiring dengan berjalannya berbagai upaya penanganan darurat di lapangan. Keberhasilan ini merupakan buah dari sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai elemen masyarakat dalam menghadapi bencana alam.
















