Bentrokan Marawi Menjadi Pintu Masuk ISIS di Asia Tenggara

  • Whatsapp

Perlawanan sengit dari kelompok militan yang berafiliasi dengan ISIS, Maute, terhadap militer Filipina di Marawi, Mindanao, sejak Selasa pekan lalu disebut-sebut sebagai peringatan tak hanya bagi negara pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte tapi juga bagi sejumlah negara lain di kawasan.

Sebab, menurut Khairul Fahmi, pengamat terorisme dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), bentrokan yang kini masih terjadi di kota berpenduduk mayoritas Muslim dengan populasi 200 ribu orang itu, dianggap bisa memperkuat kehadiran kelompok militan disana.

Read More

Bahkan, tutur Khairul, insiden yang telah memakan korban sebanyak 103 orang ini bisa jadi pintu masuk kehadiran ISIS di Filipina, bahkan di kawasan Asia Tenggara.

“Ini pintu masuk yang sangat menarik bagi mereka [ISIS]. Jadi militan-militan yang ada di kawasan dan negara lain tertarik masuk ke selatan Filipina untuk bergabung dengan kelompok teroris yang ada di wilayah itu,” ucapnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (30/5).

Sejak mencuatnya perseteruan antara pasukan pemerintah dan militan di Marawi, bendera hitam khas ISIS yang menyalahgunakan kalimat ‘la ilaha ilallah’ atau ‘tiada Tuhan selain Allah’ berkibar di hampir seluruh penjuru kota.

Meski kelompok pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi itu belum mendeklarasikan Marawi sebagai wilayah kekhalifahannya seperti yang mereka lakukan di Libya dan Arab Saudi, banyak pengamat meyakini hal tersebut hanya soal waktu.

Selain itu, kondisi kehadiran ISIS yang kian tertekan di Timur Tengah seiring dengan gempuran koalisi internasional di Suriah dan Irak, menjadikan kelompok itu semakin menganggap penting jejaring mereka di kawasan lain.

“Karena mereka butuh memantapkan eksistensi [ISIS] di kawasan lain,” tutur Khairul.

Pengaruh ISIS disebut kian meluas ke seluruh penjuru Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. Lebih dari 60 kelompok militan disebut telah mendeklarasikan diri mereka berbaiat kepada ISIS.

Namun, dia mengatakan, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa insiden ini merupakan tanda kehadiran ISIS yang semakin jelas di Filipina atau pun di Asia Tenggara.

Keberadaan ISIS, ujarnya, bukan hanya soal pengaruh dan maraknya simpatisan kelompok itu yang bermunculan. Khairul menuturkan, kehadiran ISIS di kawasan juga perlu dilihat dari ada tidaknya koordinasi dan komunikasi hingga transfer logistik, finansial, serta pengetahuan dari kelompok Baghdadi di Timur Tengah dengan jejaringnya di Asia Tenggara.

Menurut Khairul, beberapa hal itu belum terlihat dilakukan ISIS pada simpatisan-simpatisannya di Asia Tenggara.

“Karena sejauh ini dukungan ISIS seperti pengerahan logistik, sumber daya manusia, dan pengetahuan terhadap kelompok militan di Asia Tenggara, terlebih di Filipina ini, belum terlihat menonjol,” katanya.

“Jadi saya lihat, gerakan militan [di FIlipina] ini baru sebuah ISIS wanna be. Belum ada pengakuan resmi dari kelompok itu bahwa mereka membantu dan bekerja sama dengan militan-militan,” ucapnya menambahkan.

Setelah sepekan bertempur, hari ini pemerintah Filipina mengklaim pasukannya berhasil memegang kendali penuh Marawi, memastikan pertempuran dengan militan Maute akan segera berakhir.

Tapi, menurut Khairul, momen seperti ini justru harus lebih diwaspadai baik oleh Filipina maupun negara tetangga, termasuk Indonesia.

Sebab, kepungan militer di Marawi bisa membuat para militan ‘mengungsi’ ke luar wilayah dan menyasar ke negara tetangga.

“Tidak seluruh militan Maute ditangkap oleh militer. Menurut saya Indonesia dan Malaysia menjadi daerah paling rawan [sebagai tempat pelarian] para militan dari Marawi,” katanya.

“Kawasan Filipina selatan sudah lama menjadi kawasan rawan bagi tiga negara ini [Filipina, Malaysia, dan Indonesia]. Sekarang, yang perlu dipersiapkan adalah bagaimana Indonesia dan Malaysia mengantisipasi kemungkinan buruk ini,” ujarnya menambahkan.

Related posts