Misteri Tenda Terakhir Untuk Pengungsi di Perumnas Balaroa

  • Whatsapp

Seribu satu kisah kami lalui sejak hari pertama pembagian bantuan untuk para pengungsi Gempa dan Tsunami Palu. Namun, ada kisah kami di perumnas Balaroa yang menurut kami tidak masuk akal.

Malam ini kami para Tim GEMPARI Jakarta baru tiba di base camp jam 10.00 malam.

Read More

Sekedar informasi, tim kami berjumlah 25 orang berasal dari Sabang sampai Merauke. Terdiri dari Pengacara, Dokter, Pengusaha, Diplomat, Guru, Polisi, Wartawan, Fotografer, Imam, Pendeta, Birokrat, Calon Legislatif, dan aku sendiri adalah seorang TKW.

Kami menyumbang 20 tenda super gede. 19 tenda telah terpasang dibeberapa titik pengungsian, kemudian di tenda yang ke-20, kami berencana menyumbangkannya ke Perumnas Balaroa.

Tiba di Perumnas Balaroa jam 4:40 sore dan kamipun menemui Kepala Desa atau Lurah setempat untuk serah terima bantuan.

Saat pemilihan lokasi pemasangan tenda kami mulai melihat kejadian yang diluar nalar. Kengerian demi kengerian kami alami.

Awalnya, ada seorang ibu yang ngotot ingin tenda dipasang di posisi yang ia tunjuk, ketika kami sampai dilokasi yang dimaksud, tiba-tiba ibu itu menghilang.

Tetapi, kejadian itu tak kami hiraukan, karena belum menyadari ada sesuatu yang aneh.

Tak lama berselang, salah satu warga mengarahkan kami memasang tenda ditempat yang lebih tinggi. Hanya satu orang diantara tim kami yang mengikuti warga tersebut.

Ketika tiba diatas tempat yang dituju warga itu juga menghilang. Alhasil, tim kami itupun bergegas turun ketakutan dengan wajah yang sudah pucat pasi.

Kengerian mulai kami rasakan saat dua anggota Polisi menemukan mayat.

Anehnya, mayat yang ditemukan itu memakai kostum atau baju yang sama dipakai polisi dihadapan kami.

Kami semua bergidik ketakutan dan langsung lari terpencar kekiri dan kanan.

Karena hampir menjelang Magrib, tim kembali berkumpul membicarakan pemasangan tenda yang tak kunjung terpasang.

Padahal, 19 tenda sebelumnya hanya butuh waktu 15 menit sudah terpasang.

Akhirnya kami sepakat memasang tenda disebuah lokasi yang kami perkirakan pas untuk tenda terakhir ini.

Tiba-tiba, muncul pak RT dan warga.

“Mau pasang disini, yakin? ini rumah kami,” kata pak RT.

Alangkah kagetnya kami, ternyata lokasi itu tepat berada diantara tumpukan mayat.

“Ya Allah… kok bisa gini,” kata ku.

Ketakutan kami memuncak dan semuanya dilanda kepanikkan, bahkan salah satu anggota tim kami kerasukan.

‘Ampun’!

Karena kejadian itu tenda tak jadi dipasang, akhirnya kami mohon izin pada warga setempat untuk pulang.

Tempat itu semakin mencekam, suara rintihan minta tolong mulai terdengar. Kami mundur langkah seribu.

“Maafkan kami”.

Setelah memasang tenda terakhir itu daerah lain, kami meluncur pulang, dalam mobil hanya ada keheningan semua tim terdiam tak bersuara.

Kemungkinan nanti dibase camp kami bisa lega?

Bahkanpun setelah sampai dibase camp, kami tak berani terpisah ada rasa aneh yang menghampiri.

Hingga saat aku mengetik cerita ini pun punggung terasa dingin.

‘Jangan jangan?’.

Palu 17 Oktober 2018
Oleh: Relawan Palu
(Facebook Inri Palallo)

Kisah ini telah sunting sesuai bahasa Redaksi alreinamedia.com, tanpa mengurangi maksud dari cerita.

Related posts