Akses Transportasi Kunci Percepatan Pemulihan Bencana Aceh, BNPB Fokus pada Infrastruktur Vital
Aceh, Indonesia – Upaya penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda Provinsi Aceh kini menempatkan pemulihan akses transportasi sebagai prioritas utama. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa terbukanya kembali jalur transportasi sangat krusial untuk mempercepat proses pemulihan, membuka keterisolasian wilayah, serta memastikan kelancaran distribusi logistik dan evakuasi warga yang terdampak.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam pembaruan penanganan bencana yang dirilis pada Jumat, 12 Desember 2025, menjelaskan bahwa fokus pada infrastruktur transportasi ini menjadi strategi kunci dalam menghadapi situasi darurat.
Dampak Bencana dan Data Korban
Berdasarkan data sementara yang dihimpun oleh BNPB, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana ini tercatat sebanyak 995 jiwa. Angka ini mengalami penambahan lima orang dibandingkan dengan laporan sebelumnya. Namun, Abdul Muhari menekankan bahwa angka tersebut masih bersifat dinamis dan berpotensi mengalami perubahan. Proses verifikasi korban berdasarkan nama dan alamat (by name by address) masih terus berlangsung di tingkat kecamatan.
Fenomena unik sempat ditemui dalam proses verifikasi, di mana beberapa jenazah yang ditemukan di area pemakaman ternyata merupakan warga yang telah meninggal dunia sebelum bencana terjadi. Hal ini menunjukkan pentingnya ketelitian dalam setiap tahapan pendataan untuk memastikan akurasi informasi.
Selain korban meninggal, BNPB juga mencatat 226 orang dinyatakan hilang dalam peristiwa bencana ini. Sementara itu, jumlah pengungsi tercatat mencapai 884.889 jiwa. Mereka tersebar di berbagai kabupaten dan kota di seluruh wilayah Aceh, membutuhkan perhatian dan bantuan yang memadai.
Distribusi Logistik dan Kebutuhan Dasar
Dalam upaya memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi dan warga terdampak, distribusi logistik terus dioptimalkan. Jalur udara telah dimanfaatkan dengan melakukan delapan sorti penerbangan, meskipun kondisi cuaca di lapangan masih didominasi oleh hujan dan mendung.
BNPB turut menyalurkan bantuan berupa 20 ton beras Bulog melalui Bandara Rembele. Bantuan ini ditujukan untuk didistribusikan ke Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Selain melalui udara, distribusi logistik melalui jalur darat juga terus dilakukan. Tiga unit truk telah dikerahkan untuk mengangkut bantuan ke Kabupaten Nagan Raya, Aceh Selatan, Pidie Jaya, dan Bireuen, menjangkau daerah-daerah yang membutuhkan.
Prioritas Infrastruktur Vital: Jembatan Penghubung
Sektor infrastruktur menjadi perhatian serius dalam penanganan pascabencana. BNPB memprioritaskan penyelesaian empat jembatan strategis nasional yang dinilai sangat vital bagi kelancaran distribusi orang dan barang.
Progres pembangunan yang paling signifikan terlihat pada Jembatan Teupin Reudeup. Jembatan ini menghubungkan Kabupaten Bireuen dengan Kota Lhokseumawe dan telah mencapai 89 persen penyelesaian, menandakan tahap akhir perbaikan.
Selanjutnya, Jembatan Bailey Teupin Mane yang menjadi penghubung antara Bireuen dan Takengon di Kabupaten Aceh Tengah, telah mencapai 88 persen progres pembangunan. Sementara itu, Jembatan Kuta Blang, yang merupakan akses utama antara Bireuen dan Lhokseumawe, masih mencatat progres 28 persen. Jembatan darurat di Jeratah juga masih dalam tahap awal perbaikan.
“Jembatan-jembatan ini sangat vital sebagai penghubung distribusi orang dan barang,” tegas Abdul Muhari, menekankan peran krusial infrastruktur ini dalam pemulihan.
Penanganan Pengungsi dan Modifikasi Cuaca
Untuk mendukung penanganan pengungsi, BNPB telah mendistribusikan 30 tenda peleton dan 984 tenda keluarga ke wilayah Aceh Tamiang yang terdampak di 12 kecamatan. Hingga kini, delapan tenda peleton dan 664 tenda keluarga telah berhasil dipasang dan difungsikan sebagai pusat pengungsian terpadu, memberikan tempat berlindung yang aman bagi warga.
Sebagai upaya pencegahan dan mitigasi lebih lanjut, BNPB juga melaksanakan operasi modifikasi cuaca sejak 28 November 2025. Operasi ini bertujuan untuk menekan intensitas hujan yang berpotensi menghambat proses pencarian korban, distribusi bantuan, dan pemulihan infrastruktur.
Sinergi Lintas Sektor dan Peran Dinas Perhubungan Aceh
Abdul Muhari menekankan bahwa penanganan dan pemulihan pascabencana membutuhkan sinergi yang kuat antarberbagai pihak. Kerja sama lintas sektor antara kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, Tentara Nasional Indonesia (TNI)/Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta seluruh elemen masyarakat, menjadi kunci keberhasilan penanganan bencana ini.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Faisal, menjelaskan peran strategis Dinas Perhubungan Aceh sebagai subsistem transportasi di Posko Utama Lanud Sultan Iskandar Muda. Seluruh moda transportasi, baik darat, laut, maupun udara, dioptimalkan untuk mendukung operasi kemanusiaan.
Faisal merinci bahwa hingga saat ini, sebanyak 44 unit angkutan darat telah dimobilisasi dengan total muatan mencapai 133,9 ton logistik. Untuk angkutan laut, telah dilakukan 35 perjalanan menggunakan 12 kapal, yang berhasil mendistribusikan total 351 ton logistik serta mengevakuasi 991 penumpang.
Di sektor transportasi udara, Dinas Perhubungan Aceh juga mengoptimalkan penggunaan pesawat milik PT Pema Global Energy. Rute yang dilayani meliputi Banda Aceh–Gayo Lues, Banda Aceh–Rembele, dan Banda Aceh–Lhokseumawe. Melalui armada udara ini, sebanyak 102 orang korban dan relawan berhasil dievakuasi, menunjukkan efektivitas transportasi udara dalam situasi darurat.

















