Berita

Cara Saya Dapat Cuan: Pentingkah Diceritakan?

×

Cara Saya Dapat Cuan: Pentingkah Diceritakan?

Sebarkan artikel ini



Pada masa kini, istilah “dalam situasi ekonomi yang sulit” sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Hal ini wajar mengingat kondisi perekonomian yang tidak stabil, bahkan bagi sebagian orang terasa sangat memprihatinkan.

Memenuhi kebutuhan pokok saja sudah menjadi tantangan besar, apalagi untuk kebutuhan sekunder atau tersier. Mencari penghasilan di dunia digital pun tidak lagi mudah seperti dulu. Persaingan semakin ketat, bahkan bisa dikatakan lebih sengit daripada anggaran yang dikelola oleh Pak Purbaya.

Biaya pendidikan dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di kampus semakin meningkat dan terasa tidak masuk akal. Tugas pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menekan angka kemiskinan pun terasa jauh dari harapan. Program-program yang seharusnya membantu justru menimbulkan masalah baru.

Contohnya adalah Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), yang awalnya dimaksudkan untuk meningkatkan kesehatan anak sekolah, malah menyebabkan banyak kasus keracunan. Alih-alih meningkatkan gizi dan kecerdasan anak, program ini justru penuh dengan muatan politik karena melibatkan pejabat sebagai pengelola dan vendor SPPG.

Bertahan hidup dalam situasi seperti ini, rakyat kecil hanya bisa melakukan apa saja demi bertahan hidup. Bukan untuk menumpuk kekayaan seperti anggota parlemen yang menuntut berbagai tunjangan, tapi sekadar agar dapur tetap ngebul.

Sejak pindah dari Bogor ke Lamongan, saya merasakan gejolak ekonomi yang cukup berat. Dulu, pekerjaan dari blogging masih banyak dan bayaran lumayan. Sekarang situasinya jauh berbeda: job semakin jarang, bayarannya kecil, dan pencairannya lama—bahkan bisa dua bulan.

Namun, apa pilihan lain yang kita punya? Mau buka usaha, terkendala modal. Mau kerja kantoran lagi, usia sudah kepala empat. Kalau tak ada ordal, rasanya sulit kan?

Akhirnya, yang bisa dilakukan hanyalah mengerjakan apa pun yang bisa menghasilkan uang. Berikut beberapa pekerjaan yang saya lakukan:

  1. Blogging

    Saya mulai serius menekuni blogging sejak 2015, saat sudah tak lagi punya pekerjaan tetap. Punya blog dengan domain sendiri membuat saya bersemangat menulis dan ikut berbagai lomba. Waktu itu hadiah lomba besar dan bervariatif: ada smartphone, kamera, laptop, bahkan uang puluhan juta pernah saya bawa pulang.

Sayangnya, masa kejayaan blogging sudah meredup. Brand kini lebih memilih bekerja sama dengan YouTuber atau influencer di Instagram ketimbang blogger. Bulan Juli lalu saya sempat diajak nangkring bareng Alreinamedia.com di Batu, Malang—sungguh jadi oase di tengah gersangnya online job. Bukan cuma kopdar dengan Kompasianer Jatim, juga ketemu Bang Uyuy yang selama ini cuma kenal tampang. Lalu ada undangan lain pada pertengahan September dari sebuah brand laptop asal Taiwan dengan bayaran lumayan—meski kesempatan seperti itu jelas semakin jarang.

  1. Mengedit dan menulis

    Pekerjaan lain yang masih saya tekuni adalah menyunting naskah. Kalau sedang ada order, hasilnya lumayan. Misalnya, beberapa waktu lalu saya mendapat proyek mengedit buku biografi dari penerbit indie di Bogor. Untuk 400 halaman, saya dibayar Rp3 juta. Bayarannya cepat pula, aduhai surga—walau saya mesti bantu mengoreksi anatomi naskah.
Baca Juga :  Pilih Foundation Anti-Jerawat Sempurna

Ada juga order proofreading disertasi seorang dosen dengan bayaran Rp1,5 juta, tapi waktu pengerjaannya cuma 2-3 hari. Kurang tidur, tapi apa boleh buat—yang penting ada fulus. Gas terus! Selain itu, saya juga membantu menulis laporan pesanan teman, dengan bayaran sekitar Rp200 ribu per tulisan sepanjang 4–5 halaman. Tidak besar, tapi tetap saya syukuri karena bisa bikin beberapa tulisan dengan bahan yang sudah tersedia.

  1. Me-layout buku

    Pekerjaan me-layout naskah atau tata letak buku sebenarnya menyenangkan karena lebih menuntut kreativitas ketimbang ketelitian seperti saat mengedit. Sayangnya, laptop saya yang sudah lemot sering kali menghambat pekerjaan. Tarifnya juga fleksibel. Beberapa bulan lalu, misalnya, seorang teman memesan paket lengkap—edit naskah, layout isi, dan desain sampul—dengan bayaran Rp600 ribu. Terbilang sangat kecil, tapi saya terima demi menjaga hubungan baik dan, tentu saja, karena butuh uang. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT.

  2. Mengajar les

    Sejak setahun lalu saya kembali mengajar, mulai dari les bahasa Inggris di lembaga kursus hingga persiapan UTBK di sebuah SMA. Sistemnya freelance, jadi kalau tidak ada jadwal, ya tidak dibayar. Sering juga kelas mendadak dibatalkan karena siswa berhalangan, padahal saya sudah mengosongkan waktu. Misalnya ada tawaran liputan, saya relakan. Tahu-tahu siswa berhalangan karena sesuatu sehingga amsyiong deh enggak dapat apa pun.

Kendati begitu, tetap saya syukuri karena bisa bertemu siswa-siswa muda dan berbagi pengalaman serta semangat belajar kepada mereka. Uang hanyalah lembaran (yang sayangnya begitu berharga), hiks.

  1. Jemput anak sekolah

    Beberapa bulan terakhir, saya dan istri juga menerima jasa jemput anak sekolah. Kami bergiliran menjemput anak tetangga karena orang tuanya sibuk bekerja. Upahnya Rp50 ribu untuk tiga kali jemput—tidak besar, tapi lumayan daripada lumanyun. Garing, biarin! Kadang jadwalnya mendadak batal karena orang tuanya sempat pulang lebih cepat. Ya sudah, belum rezeki. Kalau rizki anaknya Sule yang pintar menyanyi.

  2. Jual buku bekas

    Sejak Tokopedia diakuisisi TikTok, jualan buku bekas jadi makin sulit. Dulu tiap bulan ada saja buku terjual, tapi sekarang bisa berbulan-bulan tanpa satu pun transaksi. Shopee pun sama. Mereka mudah sekali menutup toko hanya karena harga buku lebih murah dari pasaran—padahal itu jelas buku bekas!

Baca Juga :  Mulai Hari Ini, Masyarakat Umum Sudah Bisa Melakukan Vaksin Booster

Seharusnya admin Shopee belajar membaca dulu sebelum bertindak, biar tidak seperti aparat yang asal menyita buku karena dianggap “berbahaya”.

  1. Jual rongsokan

    Kalau ini sih langkah terakhir dan tentunya manasuka. Saat honor atau bayaran belum cair, saya kadang melirik barang bekas: buku tulis lawas, kardus, botol plastik, bahkan perabot lama. Sebenarnya manfaatnya ganda: selain dapat cuan juga rumah semakin lega tanpa sampah bertumpukan. Toh barang-barang yang dilego itu sering mengendon tak terpakai hingga berbulan-bulan.

Kalau teman-teman butuh cuan, boleh tuh sambangi pojok loak atau tukang sampah terdekat. Mereka dengan senang hati menerima apa yang kita anggap “sampah”. Ubet, ngliwet.

Selain kertas bekas atau perabotan rusak, mereka menerima hape atau ponsel bekas loh—apa pun versi dan kondisinya. Lumayan buat beli paket data (atau mungkin 5 kilo beras) ketimbang menumpuk di rumah jadi sarang nyamuk dan tikus atau demit—nauzubillah!

Hidup memang tak mudah dalam situasi ekonomi yang sulit. Tapi selama masih bisa berusaha dan bersyukur, kita selalu punya cara untuk bertahan—meski sekadar mengerjakan apa saja yang bisa menghasilkan sedikit cuan. Yang penting halal, akur?

Kata orang Jawa, “ubet, ngliwet”, asal mau bergerak serius, selalu ada jalan (pemasukan) buat kita bisa makan (ngliwet). Apakah teman-teman Kompasianer mengalami gejolak ekonomi yang berpengaruh pada kondisi pendapatan keluarga? Atau puny ide meraup cuan secara gampang tapi berlimpahan? Haha…. Share dong di kolom komentar!