perang-dan-konflik

Dampak Perang AS-Israel vs Iran, Freeport Waspadai Kenaikan Biaya Operasional

×

Dampak Perang AS-Israel vs Iran, Freeport Waspadai Kenaikan Biaya Operasional

Sebarkan artikel ini

Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Industri Pertambangan

Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menyatakan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah akibat perang AS-Israel terhadap Iran memiliki dampak yang luas terhadap berbagai sektor ekonomi, termasuk industri pertambangan. Ia menilai gejolak geopolitik tersebut memengaruhi rantai pasok energi hingga kinerja perusahaan secara global.

“Ya, kalau namanya situasi Timur Tengah yang tidak damai ini kan selalu, pasti ada dampak ke mana-mana. Ke seluruh dunia dampaknya pasti. Persediaan energi antara lain gitu, kan. Kalau dampak ke perusahaan pasti akan berdampak,” ujarnya saat berbicara di Kawasan Widya Chandra, Sabtu (21/3).

Menurut Tony, meskipun dampak tersebut tidak bisa dihindari, perusahaan akan melakukan langkah mitigasi agar operasional tetap optimal. “Tapi tentu kita akan coba memitigasinya. Masing-masing perusahaan juga punya cara-cara sendiri untuk memitigasi,” tambahnya.

Dampak terhadap Komoditas Tambang Lain

Dalam kesempatan itu, Tony juga menyebutkan dampak konflik terhadap komoditas tambang lain, termasuk batu bara. Namun ia menegaskan bahwa pernyataannya disampaikan dalam kapasitas berbeda. “Ini ngomong saya bukan sebagai pengusaha batubara. Tapi saya bicara mungkin sebagai Sekjen Indonesian Mining Association,” ujarnya.

Baca Juga :  Waspadai 7 Tanda Kanker Payudara yang Terabaikan

Sebagai Sekretaris Jenderal Indonesian Mining Association, Tony melihat kenaikan harga komoditas tambang sebagai konsekuensi meningkatnya permintaan global. Kondisi ini dinilai menjadi momentum bagi pelaku usaha tambang, termasuk dalam mendorong ekspor. “Tentu saja ini, kan, harganya meningkat. Harganya meningkat berarti apa? Permintaannya, kan, lebih banyak,” kata dia.

Ia menambahkan bahwa pasar komoditas tambang bersifat internasional sehingga lonjakan permintaan tidak merujuk pada negara tertentu, melainkan kondisi global secara keseluruhan. “Kalau demand, kalau kita bicara tambang, kan, ini bukan per negara. Ini, kan, international market,” ujarnya.

Target Produksi dan Pengembangan Tambang

Di sisi operasional, Freeport menargetkan produksi tahun ini mencapai 1,1 miliar pound tembaga dan 800 ribu ounces emas. Target tersebut akan ditopang oleh pengembangan tambang bawah tanah, khususnya di area Grassroot Block Cave.

Tony mengungkapkan bahwa saat ini perusahaan tengah bersiap memulai produksi di production block 2 dan 3. Tahap awal produksi diperkirakan mulai berjalan dalam waktu dekat. “Tapi mudah-mudahan dalam waktu dekat 2-3 minggu ke depan kita udah mulai bisa produksi di situ dan akan mulai ramp up,” katanya.

Baca Juga :  China Gunakan Kekuatan Negara untuk 'Tendang' Word, Perang Dagang Lawan AS Membesar

Tantangan Operasional dan Kenaikan Biaya

Adapun tantangan utama yang dihadapi perusahaan tahun ini lebih banyak berasal dari aspek teknis serta potensi kenaikan biaya operasional. Sementara dari sisi pendapatan, Tony menegaskan hal tersebut sangat bergantung pada harga komoditas global yang tidak bisa dikendalikan perusahaan. “Kalau harga, kan, bukan kita yang mengendalikan. Jadi kita kendalikan yang kita bisa kendalikan, ada produksi dan lain sebagainya, operasional, itu yang kita punya target. Bukan target keuntungan,” ujarnya.

Untuk aktivitas di Grassroot Block Cave, Freeport menargetkan produksi mulai kembali meningkat dalam beberapa minggu ke depan, khususnya di production block 2 dan 3. Sementara untuk production block 1, operasional baru akan dimulai pada tahun depan.