Lokal

Dua Bulan Pasca-Banjir, Kutablang Lumpuh Pengungsi

×

Dua Bulan Pasca-Banjir, Kutablang Lumpuh Pengungsi

Sebarkan artikel ini

Pemulihan Pasca-Banjir dan Longsor di Bireuen: Pengungsi Menurun, Pembangunan Huntap Dimulai

Bireuen, Aceh – Kondisi pasca-bencana banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Bireuen menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Jumlah pengungsi yang sebelumnya mencapai lebih dari 55.000 jiwa, kini dilaporkan telah menyusut drastis. Berdasarkan data terbaru per Kamis, 29 Januari 2026, tercatat sebanyak 1.395 kepala keluarga atau setara dengan 4.888 jiwa yang masih mengungsi. Mereka tersebar di tujuh kecamatan yang terdampak.

Distribusi Pengungsi di Berbagai Kecamatan

Meskipun jumlah pengungsi secara keseluruhan telah berkurang, beberapa kecamatan masih menampung jumlah pengungsi yang cukup besar. Kecamatan Kutablang menjadi wilayah dengan konsentrasi pengungsi terbanyak, yaitu sebanyak 390 kepala keluarga atau 1.351 jiwa. Data ini dihimpun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen.

Berikut adalah rincian jumlah pengungsi di masing-masing kecamatan:

  • Kecamatan Jeumpa: 143 kepala keluarga dengan 391 jiwa.
  • Kecamatan Juli: 282 kepala keluarga dengan 1.145 jiwa.
  • Kecamatan Jangka: 152 kepala keluarga dengan 565 jiwa.
  • Kecamatan Peusangan: 88 kepala keluarga dengan 346 jiwa.
  • Kecamatan Peusangan Selatan: 267 kepala keluarga dengan 878 jiwa.
  • Kecamatan Peusangan Siblah Krueng: 74 kepala keluarga dengan 212 jiwa.
  • Kecamatan Kutablang: 390 kepala keluarga dengan 1.351 jiwa.
Baca Juga :  Jalan Muara Padang Banyuasin Lumpuh: Belasan Kendaraan Terjebak Lumpur

Pelaksana Harian Kepala Pelaksana BPBD Bireuen, Doli Mardian, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah pengungsi ini mencapai sekitar 8 persen dibandingkan pada puncak bencana. Saat ini, para pengungsi bertempat di berbagai lokasi, mulai dari meunasah (mushola), rumah kerabat, hingga tenda-tenda darurat yang didirikan di dekat kediaman mereka yang rusak.

Dampak Bencana dan Upaya Penanganan

Banjir dan longsor yang terjadi di Bireuen tidak hanya menimbulkan dampak pada hunian warga, tetapi juga merembet ke berbagai aspek kehidupan. Secara umum, bencana ini dilaporkan telah memengaruhi 609 desa di 17 kecamatan. Kerugian tidak hanya dirasakan dari segi ekonomi, tetapi juga mencakup kesulitan akses air bersih, terganggunya jaringan komunikasi, serta terhambatnya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Menanggapi situasi tersebut, pemerintah daerah telah mengambil langkah-langkah strategis untuk pemulihan. Salah satu prioritas utama adalah pembangunan hunian tetap (huntap) bagi para korban banjir dan longsor. Proses pembangunan ini telah dimulai secara simbolis dengan peletakan batu pertama pada Rabu, 7 Januari 2026, di Gampong Balee Panah, Kecamatan Juli.

Baca Juga :  Prabowo Tinjau Pengungsi Langkat, Beri Perhatian pada Anak Sakit

Peralihan Status dari Darurat ke Pemulihan

Proses penanganan bencana juga ditandai dengan peralihan status penanganan. Setelah status keadaan darurat bencana banjir dan tanah longsor diperpanjang untuk kedua kalinya selama 14 hari, terhitung mulai 24 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026, berdasarkan Keputusan Bupati Bireuen Nomor: 300.2.2/744/Tahun 2025, kini Kabupaten Bireuen memasuki fase transisi dari status darurat ke masa pemulihan.

Penetapan status transisi darurat ke pemulihan bencana banjir dan longsor ini tertuang dalam Keputusan Bupati Bireuen Nomor: 300.2.2/9 Tahun 2026. Masa transisi ini akan berlaku selama 90 hari, dimulai dari tanggal 7 Januari hingga 6 April 2026 mendatang. Peralihan status ini menegaskan bahwa fokus penanganan kini bergeser dari respons darurat ke upaya pemulihan jangka panjang, termasuk rekonstruksi dan rehabilitasi infrastruktur serta pemulihan kehidupan masyarakat.

Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memberikan dukungan penuh kepada masyarakat yang terdampak, memastikan bahwa proses pemulihan berjalan lancar dan semua aspek kehidupan dapat kembali normal secepatnya.