Sosial

Fitri: Pelita Yatim dari Bungkus Roti dan Bantuan Tetangga

×

Fitri: Pelita Yatim dari Bungkus Roti dan Bantuan Tetangga

Sebarkan artikel ini


Di usianya yang masih belia, 15 tahun, Fitri telah belajar arti kemandirian dan kerja keras. Siswi kelas VIII SMP Negeri 1 Sungai Tabuk ini tidak memilih untuk bergantung pada belas kasihan orang lain. Sebaliknya, ia aktif mencari penghasilan tambahan dengan bekerja sebagai tukang bungkus roti sepulang sekolah.

Kesibukannya dimulai setelah jam pelajaran usai, berlanjut hingga sore hari. Dengan tekun, ia membungkus roti-roti yang akan dijual, sebuah pekerjaan yang memberinya upah sebesar Rp 20.000 per hari. Uang hasil jerih payahnya ini menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk makan dan keperluan pribadi lainnya.

“Dari hasil membungkus roti itu saya gunakan untuk makan dan keperluan lainnya,” ujar Fitri dengan senyum tipis yang terpancar di wajahnya.

Namun, semangat Fitri untuk berjuang tidak berhenti di situ. Sesekali, jika ada tetangga yang membutuhkan bantuannya untuk membelikan bumbu-bumbu masakan di pasar yang tak jauh dari kediamannya, ia siap sigap. Pekerjaan sampingan ini biasanya ia lakukan di pagi hari, sebelum berangkat ke sekolah. Dengan mengayuh sepedanya, Fitri akan menuju pasar, dan dari tugas tersebut ia bisa mendapatkan tambahan penghasilan sekitar Rp 7.000 hingga Rp 10.000.


Sepeda yang menjadi saksi perjuangan Fitri ini merupakan hadiah berharga dari almarhumah neneknya. Kendaraan roda dua inilah yang setia menemaninya dalam perjalanan menuntut ilmu di sekolah, serta memenuhi berbagai keperluan lainnya.

“Kadang tetangga yang juga sudah seperti saudara memberi saya makan, kadang juga pas bulan puasa saya buka puasa di rumah tetangga,” ungkap Fitri, menunjukkan betapa eratnya hubungan kekeluargaan yang terjalin di antara dirinya dan para tetangga.

Baca Juga :  Hari Ibu: Eva Inspirasi Perempuan Bandar Lampung untuk Belajar dan Berinovasi

Baru-baru ini, Fitri mendapat kabar gembira yang meringankan bebannya. Ia menerima bantuan sepeda listrik, yang kini menjadi sarana utamanya untuk berangkat ke sekolah. Sementara itu, sepeda pemberian neneknya kini dialihkan fungsinya untuk menemani Fitri berbelanja di pasar.


Mengenai perlengkapan sekolah, Fitri menunjukkan sikap yang luar biasa bijak. Ia tidak terlalu memusingkan hal-hal seperti sepatu atau ransel baru. Baginya, barang-barang lama peninggalan almarhumah neneknya masih sangat layak pakai.

“Masih bisa dipakai, paling biasanya beli buku. Untuk seragam juga kadang dikasih teman,” tuturnya, menunjukkan bahwa prioritasnya bukan pada materi semata.

Di tengah segala keterbatasan yang dihadapi, Fitri tetap teguh menjaga kewajiban agamanya. Ia mengaku selalu menjaga salat lima waktu, sebuah ajaran dan pesan berharga dari sang nenek semasa hidupnya.

“Nenek selalu mengingatkan agar selalu menjaga salat,” ujar Fitri, matanya menerawang mengenang nasihat berharga itu.

Rumah yang kini menjadi tempat tinggal Fitri adalah warisan dari neneknya yang telah berpulang tiga tahun lalu. Sejak Fitri kecil, kabar tentang ayah dan ibunya tidak pernah jelas. Setelah neneknya tiada, Fitri pun harus belajar hidup mandiri di rumah peninggalan tersebut. Sehari-hari, ia sangat terbantu oleh kebaikan saudara-saudara dekatnya dan para tetangga yang peduli.

Fitri: Sosok Remaja Rajin dan Berbakti di Mata Tetangga

Kebaikan hati dan sikap hormat Fitri kepada orang tua membuatnya sangat disukai oleh para tetangganya. Tak jarang, Fitri juga dengan senang hati membantu pekerjaan para tetangganya. Salah satu tetangga Fitri, Midah (48), tak henti-hentinya memuji pribadi Fitri.

Baca Juga :  Sambut HUT KORPRI, Lembaga Kepresidenan Gelar Kegiatan Sosial hingga Turnamen Olahraga

“Dia anak baik, kalau dinasihatin itu dia penurut,” ujar Midah, menggambarkan betapa mudahnya Fitri menerima arahan dan nasihat.


Midah menambahkan, meskipun Fitri hidup sendiri dan serba kekurangan, ia bukanlah anak yang pasrah menerima bantuan begitu saja. Sifat mandirinya ini justru mendorong Midah untuk mencari cara agar bisa berbagi rezeki dengan Fitri tanpa membuatnya merasa sungkan.

“Dia tu seperti harus ada yang dikerjakan dulu baru menerima diberi sesuatu,” ungkap Midah, menjelaskan keengganan Fitri untuk sekadar menerima pemberian tanpa memberikan kontribusi.

Midah mengakui, meskipun tidak selalu mampu memberikan bantuan yang besar, ia selalu berusaha semampunya untuk mendukung Fitri.

“Kalau sahur atau buka, biasanya dia datang ke tempat saya. Alhamdulillah, dia anak baik,” tambahnya dengan nada penuh kehangatan.

Tak dapat dipungkiri, kondisi Fitri yang harus banting tulang di usianya yang masih muda kerap membuat Midah merasa iba. Melihat seorang anak seusianya harus berjuang keras untuk bertahan hidup tentu menimbulkan rasa kasihan yang mendalam.

“Pastilah kita semua di sini, khususnya tetangga Fitri, kasihan sama dia,” katanya, mewakili perasaan seluruh warga yang peduli.

Lebih lanjut, Midah mengungkapkan bahwa warga lain di lingkungan mereka juga sering memberikan bantuan kepada Fitri. Bantuan tersebut beragam, mulai dari membantu membayar tagihan listrik, memberikan uang jajan untuk keperluan di sekolah, hingga memperbaiki sepeda Fitri ketika mengalami kerusakan.

“Ganti-gantian aja kita bantu si Fitri. Kadang ada juga yang memperbaiki sepeda Fitri kalau lagi rusak,” ungkap Midah, menunjukkan solidaritas dan kepedulian komunitas yang kuat terhadap Fitri.