Kontroversi Dokumen Jeffrey Epstein: Foto Donald Trump Sempat Dihapus Lalu Dikembalikan
Kementerian Kehakiman Amerika Serikat baru-baru ini mengonfirmasi adanya penarikan sementara sejumlah dokumen dari arsip daring milik pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Salah satu dokumen yang sempat ditarik adalah foto yang menampilkan Presiden AS Donald Trump. Namun, setelah melalui proses peninjauan internal, foto-foto tersebut akhirnya diunggah kembali ke publik.
Perhatian publik terhadap hilangnya gambar-gambar ini pertama kali disorot oleh anggota Komite Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat AS dari Partai Demokrat. Mereka menemukan adanya penghapusan dua gambar cetak Donald Trump yang tersimpan dalam sebuah laci meja dalam arsip Epstein.
Detail Foto yang Ditarik
Salah satu foto yang menjadi sorotan memperlihatkan Donald Trump berdiri di tengah kerumunan perempuan yang mengenakan bikini. Foto lainnya menampilkan Trump bersama istrinya, Melania Trump, serta Ghislaine Maxwell dan Jeffrey Epstein. Meskipun sebagian gambar tampak tertutup, keberadaan foto-foto ini dalam arsip Epstein menimbulkan berbagai pertanyaan.
Setelah temuan ini dipublikasikan, pihak yang berwenang melakukan pemeriksaan ulang terhadap dokumen Epstein yang tersedia secara daring. Konfirmasi pun muncul bahwa gambar-gambar tersebut memang sempat tidak lagi muncul di platform publik.
Penjelasan Kementerian Kehakiman AS
Menanggapi hal ini, Kementerian Kehakiman AS melalui unggahan di platform X menyatakan bahwa gambar yang menampilkan foto Trump telah diunggah kembali ke halaman resmi Epstein Files. Dokumen bernomor 468 tersebut dipastikan kembali tersedia secara daring, dengan tampilan Trump yang masih terlihat jelas tanpa perbedaan mencolok dari versi aslinya.
Menurut Kementerian Kehakiman AS, penarikan sementara tersebut dilakukan sebagai langkah kehati-hatian ekstra setelah Kantor Kejaksaan Distrik Selatan New York menandai gambar tersebut untuk kemungkinan tindakan lanjutan demi melindungi para korban. “Sebagai langkah kehati-hatian ekstra, Kementerian Kehakiman sementara menarik gambar tersebut untuk peninjauan lebih lanjut,” ujar pihak kementerian.
Hasil peninjauan tersebut menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan korban Epstein tergambar dalam foto tersebut. Oleh karena itu, gambar-gambar tersebut diunggah kembali tanpa perubahan atau penyensoran tambahan. Hingga berita ini diturunkan, Donald Trump belum memberikan komentar terkait rilis dokumen tersebut. Perlu dicatat bahwa Trump sendiri tidak pernah didakwa atas pelanggaran hukum apa pun yang berkaitan dengan kasus Epstein.
Dokumen Lain yang Juga Ditarik
Selain foto yang menampilkan Trump, Kementerian Kehakiman AS juga sempat menarik sementara sejumlah foto lain. Sebagian besar dari foto-foto yang ditarik ini berupa lukisan perempuan telanjang yang ditemukan di kediaman Epstein.
Rilis Ribuan Dokumen Epstein
Ribuan dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein dipublikasikan oleh Kementerian Kehakiman AS pada Jumat (18/12/2025). Publikasi ini dilakukan beberapa jam sebelum tenggat waktu hukum yang ditetapkan menyusul pengesahan undang-undang Epstein Files Transparency Act.
Namun, banyak halaman dalam berkas yang dirilis tersebut muncul dalam kondisi yang disensor sebagian atau sepenuhnya. Alasan yang diberikan adalah untuk perlindungan terhadap lebih dari 1.200 korban dan keluarga mereka yang disebutkan dalam dokumen.
Timbulnya Pertanyaan dan Keraguan
Penyensoran yang dilakukan ini menuai pertanyaan dari berbagai pihak, termasuk sejumlah penyintas Epstein, pakar hukum, dan masyarakat umum. Beberapa anggota Komite Pengawasan DPR AS dari Partai Demokrat bahkan menyebut tindakan ini sebagai upaya Gedung Putih untuk melakukan penutupan-nutupan.
Ashley Rubright, seorang korban yang mengaku mengalami pelecehan selama bertahun-tahun setelah bertemu Epstein di Palm Beach saat berusia 15 tahun, menyampaikan keraguannya terhadap alasan penyensoran tersebut. “Melihat halaman-halaman yang sepenuhnya disensor, tidak mungkin itu hanya untuk melindungi identitas korban, dan harus ada alasan yang benar-benar kuat. Saya hanya tidak tahu apakah kita akan pernah mengetahui alasannya,” ungkap Rubright.
Pengacara Gloria Allred, yang mewakili sejumlah korban Epstein, juga mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menyebutkan bahwa masih terdapat nama dan foto korban yang seharusnya disensor, namun justru lolos dalam rilis awal dokumen. “Kami harus memberi tahu Departemen Kehakiman tentang nama-nama yang seharusnya disensor tetapi ternyata tidak disensor,” ujar Allred.
Allred menambahkan bahwa kondisi tersebut dapat menimbulkan trauma lanjutan bagi para penyintas, terutama karena beberapa gambar korban masih terlihat dalam kondisi telanjang atau berpakaian tidak lengkap. Rilis dokumen ini terus menjadi sorotan publik dan memicu diskusi mengenai transparansi dan perlindungan korban dalam kasus-kasus sensitif.

















