Berita

Gagal Menembus Gaza, 3 Relawan Global Kembali ke Indonesia

×

Gagal Menembus Gaza, 3 Relawan Global Kembali ke Indonesia

Sebarkan artikel ini

Perjalanan Relawan Global Sumud Flotilla yang Gagal Menembus Blokade Gaza

Tiga relawan dari Indonesia yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla telah kembali ke tanah air setelah gagal menembus blokade Israel di Gaza pada hari Minggu, 4 Oktober 2025. Mereka adalah aktivis Wanda Hamidah, relawan Aqsa Working Group Muhammad Fatur Rohman, dan Ketua Koordinator Indonesia Global Peace Convoy Muhammad Husein. Meski misi mereka tidak berhasil, semangat dan komitmen untuk membantu warga Palestina tetap tinggi.

Wanda Hamidah, salah satu anggota relawan Indonesia, menceritakan perjalanan penuh lika-liku dalam misi Global Sumud Flotilla. Ia mengakui bahwa dirinya dan Fatur sudah siap menerima konsekuensi apa pun, termasuk ditangkap atau dipenjara oleh Israel, demi membuka blokade Gaza dan menurunkan bantuan kemanusiaan.

“Kami sudah menghibahkan diri, bahkan nyawa kami. Kami berharap bisa membuka blokade dan memberikan bantuan dengan segala risikonya. Kami siap ditangkap, dideportasi, atau bahkan ditahan di penjara Israel,” ujar Wanda dalam jumpa pers yang digelar pada Kamis, 4 Oktober 2025.

Ia menjelaskan bahwa dirinya berangkat bersama rombongan Indonesian Global Palestine Coalition (IGPC), sedangkan Fatur berlayar bersama Aqsa Working Group. Keduanya bertemu di Pelabuhan Sidi Bou Said, pantai utara Tunisia.

Baca Juga :  Bobotoh siap kehilangan? Federico Barba indikasi semakin kuat tinggalkan Persib Bandung

Dalam perjalanan dari Tunisia, Fatur awalnya ditempatkan di kapal Observer. Namun, pada menit terakhir, kapten kapal mengurangi jumlah penumpang, sehingga Fatur dipindahkan ke kapal Kamr, sebuah sailing boat kecil yang berisi enam orang dari Indonesia, Mauritania, Aljazair, dan Tunisia.

Sementara itu, kapal-kapal lain seperti Kaiser yang ditumpangi Wanda Hamidah, Observer, dan Nusantara mengalami kerusakan saat tiba di Italia. Delegasi Indonesia terdampar di pelabuhan Sisilia, Italia, selama dua minggu menunggu kesempatan untuk bergabung dengan konvoi Global Sumud Flotilla yang akan berlayar ke Gaza.

Namun, akhirnya mereka harus menerima kenyataan bahwa tidak ada lagi kapal yang akan berlayar menuju Gaza. Akibatnya, delegasi Indonesia dan negara-negara lain yang tidak bisa melanjutkan perjalanan memutuskan untuk kembali ke negara masing-masing.

“Hingga detik kepulangan, kami masih berkumpul di kapal Nusantara karena alasan tertentu. Ini adalah kapal terakhir yang menuju Gaza, sementara kapal-kapal lainnya tidak lagi berlayar. Kapal ini tidak diizinkan berlayar karena mungkin khawatir kami akan sendirian,” jelas Wanda.

Ia juga mengingat betapa sulitnya mencari kapal ke Gaza. Wanda bahkan sudah membayangkan dirinya berada di penjara Israel. Jika tertangkap, mereka harus menandatangani surat untuk dideportasi, atau jika menolak, akan ditahan oleh pasukan zionis.

Baca Juga :  President Jokowi Hands Over 124,120 Land Redistribution Certificates

“Yang kami lakukan adalah untuk membangunkan kesadaran umat dan warga negara Indonesia dimana pun kita berada bahwa kita harus membebaskan Palestina dari penjajahan,” ujarnya.

Fatur juga menyatakan niatnya untuk kembali mencoba menembus blokade Israel dengan persiapan yang lebih matang. “Kami akan membuat gelombang-gelombang berikutnya yang jauh lebih besar dan kuat untuk menembus blokade Gaza,” katanya.

Tantangan dan Harapan di Balik Kekecewaan

Meskipun pengalaman ini penuh tantangan, para relawan tetap optimis. Mereka percaya bahwa langkah-langkah seperti ini penting untuk mengangkat suara rakyat Palestina di dunia internasional. Meski belum berhasil menembus blokade, upaya mereka menjadi bagian dari perjuangan panjang untuk kemerdekaan Palestina.

Mereka juga menekankan bahwa perjuangan ini bukan hanya tentang bantuan kemanusiaan, tapi juga tentang membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat Indonesia akan pentingnya solidaritas dengan Palestina. Dengan semangat dan tekad yang sama, para relawan berharap bisa kembali mencoba di masa depan, kali ini dengan persiapan yang lebih baik dan strategi yang lebih matang.