Hujan di Car Free Day: Peluang Bisnis Dadakan Sang Penjual Jas Hujan

Kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Minggu pagi itu, 1 Februari, dipadati oleh warga yang antusias menyambut akhir pekan dengan aktivitas fisik. Mulai dari berlari, bersepeda, hingga sekadar berjalan santai, area Car Free Day (CFD) menjadi saksi kehangatan kebersamaan di tengah hiruk pikuk kota. Namun, seiring berjalannya waktu, langit yang semula berawan mendung perlahan berubah menjadi guyuran hujan deras yang tak terduga. Ketika sebagian pengunjung memilih untuk menepi mencari perlindungan, sebuah suara lantang tiba-tiba memecah kebisingan hujan, “Jas hujan, jas hujan.”
Suara itu bersumber dari Adi, seorang pria berusia 39 tahun yang dengan sigap menggelar dagangannya di tengah derasnya hujan. Mengenakan jas hujan yang tampak beberapa kali ditambal karena sobek, Adi berjalan kaki menyusuri kerumunan pengunjung CFD.

Di tangannya, sebuah kantong plastik besar berisi puluhan jas hujan menjadi pemandangan yang mencolok. Ia dengan ramah menawarkan dagangannya kepada setiap pengunjung yang ditemuinya. Tak disangka, hujan yang turun mendadak justru menjadi berkah tersendiri bagi Adi. Dalam waktu singkat, hampir separuh dari stok jas hujannya laris terjual. Banyak warga yang memutuskan untuk membeli agar aktivitas mereka di CFD tidak terhenti, atau bahkan untuk melanjutkan perjalanan mereka dengan lebih nyaman.
Adi menawarkan dua jenis jas hujan. Untuk model ponco yang praktis, ia membanderol harga Rp 10 ribu per buah. Sementara itu, jas hujan lengkap yang terdiri dari atasan dan bawahan dijual seharga Rp 20 ribu.
Adi mengaku telah cukup lama menggeluti profesi sampingan ini, meskipun hanya dilakukan pada momen-momen tertentu ketika cuaca mendukung.
“Ya lumayan lah, lumayan lama itu,” ujar Adi saat ditemui di sela-sela hujan yang masih mengguyur. Ia melanjutkan, “Iya, dari dulu. Tapi pas lagi hujan aja. Kalau nggak hujan, yaa nggak.”
Ketika tidak sedang berjualan jas hujan, Adi biasanya mencari nafkah dengan menjajakan minuman kemasan di pasar. “Jualan ini, jualan minuman, minuman ini kayak kemasan itu,” jelasnya. “Kalau titiknya di pasar,” tambahnya.
Namun, kondisi pasar yang kini cenderung sepi turut memberikan dampak pada penghasilannya. “Sekarang jauh sama dulu rada sepi nih,” keluhnya. “Iyaa, ngaruh juga soalnya orang belanja ke pasar udah nggak ke pasar,” katanya sambil tersenyum getir.

Jas hujan yang ia jual didapatkan dari pasar Tanah Abang, salah satu pusat grosir terbesar di Jakarta. Jumlah stok yang ia bawa setiap kali berjualan pun tidak menentu, bergantung pada ketersediaan barang. “Nah, jualannya itu sih tergantung ada barangnya aja,” ujar Adi. “Iya, paling lusinan,” tambahnya.
Begitu hujan mulai turun di kawasan Bundaran HI, Adi tidak menunggu lama. Ia langsung bergegas menuju lokasi CFD. Jarak sekitar 2,5 kilometer dari tempatnya biasa mencari nafkah di pasar ia tempuh dengan berjalan kaki. “Barusan pas hujan langsung keluar,” ungkapnya. “Nah, soalnya di pasar itu pas lah,” katanya. “Jalan, jalan kaki. Sepanjang jalan,” ujarnya, menunjukkan dedikasinya untuk segera menjajakan dagangannya.
Menurut Adi, jas hujan baru benar-benar dicari ketika hujan turun dan warga masih memilih untuk beraktivitas di luar ruangan. “Iya, kalau pas lagi hujan aja,” ucapnya.

Meskipun dagangannya laris manis saat hujan, Adi mengakui bahwa penghasilan dari menjual jas hujan sangat sulit diprediksi. “Ya tergantung, tergantung lamanya. Kalau redanya lama barangnya ada yaa lumayan,” katanya sambil tertawa. “Kalau hujannya sebentar ya paling dapetnya berapa biji doang, ga jelas, ga nentu, ga bisa ditentuin,” keluhnya.
Berjualan di tengah guyuran hujan tentu memiliki tantangan tersendiri. Adi mengaku kerap merasakan dingin yang menusuk tulang saat harus menerobos hujan sambil menawarkan dagangan. “Ya, kadang sih dingin sih. Yaa namanya kehujanan kan,” katanya. “Kadang disiapin obat tolak angin atau apa,” tambahnya. “Diminum dulu kadang sebelum jualan,” kata Adi sambil tertawa, menunjukkan upaya adaptasinya terhadap kondisi kerja yang ekstrem.

Adi adalah perantau asal Jawa Tengah yang datang ke Jakarta untuk mencari nafkah. Saat ini, ia tinggal bersama keluarganya di sekitar kawasan Jakarta Pusat. Baginya, hujan bukan lagi sekadar fenomena alam, melainkan sebuah penanda untuk segera kembali turun ke jalan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Hari itu, stok jas hujan yang ia bawa memang tidak banyak. “Iya, dari pagi ini. Alhamdulillah sedikit sih, orang hujannya sebentar. Stoknya juga sedikit,” katanya. “Iya, saya ngabisin aja yang itu lah,” sambungnya, menunjukkan tekad untuk menjual seluruh persediaan yang ada.
Setelah hujan mereda, Adi berencana untuk segera kembali ke pasar guna membeli stok jas hujan baru dan melanjutkan aktivitas berjualannya. “Mau beli dulu,” ujarnya. “Iya entar sambil nunggu hujan, soalnya lagi musim hujan nih,” ujarnya sambil bergegas, mengantisipasi potensi hujan susulan.

Di balik setiap langkahnya yang menembus hujan di kawasan CFD, Adi menyimpan sebuah harapan sederhana namun mendalam: ia ingin mengembangkan usahanya. “Mudah-mudahan ada perubahan yang positif sih begitu, penginnya sih gitu,” pungkasnya dengan penuh optimisme. Menjelang hujan reda, Adi masih membawa sedikit sisa jas hujan di tangannya. Tak lama kemudian, ia bersiap kembali ke pasar untuk menambah stok, sebelum kembali berkeliling menawarkan dagangannya, memanfaatkan setiap peluang yang ada di tengah kerasnya kehidupan kota metropolitan.















