Tim mahasiswa dari Politeknik Manufaktur Bandung (Polman Bandung) telah berhasil menciptakan sebuah inovasi yang patut diapresiasi: sebuah alat pembakar sampah organik kering atau insinerator yang diklaim ramah lingkungan. Alat revolusioner ini tidak hanya mampu mengubah sampah menjadi abu dalam waktu singkat, tetapi juga menghasilkan abu yang dapat dimanfaatkan kembali, memberikan solusi ganda bagi permasalahan sampah.
Insinerator Ramah Lingkungan dari Polman Bandung
Insinerator yang dirancang oleh delapan mahasiswa angkatan 2022 ini merupakan hasil kerja keras dan kreativitas yang disetujui oleh para dosen pembimbing. Dengan struktur utama yang terbuat dari plat baja dan dilapisi bahan tahan panas, alat ini dirancang untuk beroperasi secara optimal pada suhu antara 700 hingga 800 derajat Celsius. Proses pembuatan komponen insinerator ini memakan waktu tiga bulan di kampus Polman Bandung dengan total biaya mencapai Rp 70 juta.
Alat yang memiliki dimensi panjang 3 meter, lebar 2 meter, dan berat sekitar 1 ton ini telah diuji coba di Desa Lamajang, Pangalengan, Kabupaten Bandung, sebagai bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang berlangsung dari 27 Oktober hingga 7 November 2025. Pemilihan lokasi ini juga didasari oleh kebutuhan mendesak, mengingat insinerator yang sebelumnya ada di desa tersebut mengalami kerusakan, sehingga pembakaran sampah dilakukan secara konvensional tanpa alat bantu.
Prinsip Kerja dan Keunggulan Insinerator
Salah satu keunggulan utama dari insinerator buatan Polman Bandung ini adalah kemampuannya dalam menangani sampah organik dalam kondisi kering. Frury Athar Utama, salah satu anggota tim mahasiswa, menjelaskan bahwa sampah kering, termasuk limbah dapur rumah tangga, lebih stabil dalam menjaga kualitas api pembakaran dibandingkan sampah basah. Hal ini penting untuk memastikan proses pembakaran yang efisien dan terkontrol.
Penting untuk dicatat bahwa insinerator ini tidak dirancang untuk membakar sampah plastik. Keputusan ini diambil agar alat ini dapat menghasilkan abu sisa pembakaran yang murni, yang nantinya dapat dimanfaatkan lebih lanjut.
Mekanisme kerja insinerator ini dimulai dengan memasukkan sampah organik kering ke dalam ruang bakar. Asap yang dihasilkan dari proses pembakaran kemudian melalui serangkaian tahapan penyaringan untuk meminimalkan emisi berbahaya.
Sistem Penyaringan Asap yang Canggih
Cyclone Separator: Tahap pertama penyaringan menggunakan cyclone separator. Alat ini bekerja berdasarkan prinsip pemisahan partikel padat dari gas menggunakan gaya sentrifugal. Dibantu oleh gravitasi, partikel abu yang lebih berat akan terpisah dari asap, sementara asap yang lebih ringan akan terus bergerak ke tahap selanjutnya.
Wet Scrubber: Asap yang telah melalui cyclone separator kemudian disaring kembali menggunakan wet scrubber. Sistem ini menggunakan campuran cairan kimia, terutama Kalsium Hidroksida atau Ca(OH)₂, yang berperan penting dalam mengurangi kadar polutan berbahaya. Kalsium Hidroksida mampu menetralkan gas asam yang mungkin terkandung dalam emisi gas buang.
Selain itu, untuk menetralkan gas basa yang mungkin muncul, digunakan asam sulfat (H₂SO₄). Kombinasi penggunaan bahan kimia ini menjadikan mekanisme penyaringan asap pada insinerator ini sangat efektif.
Frury Athar Utama menegaskan bahwa mekanisme penyaringan ini menjadikan mesin insinerator ini lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan standar pengendalian udara yang berlaku. “Asap yang dilepas ke udara sudah terkurangi kadar emisi karbonnya,” ujarnya.
Kapasitas, Konsumsi Energi, dan Bahan Bakar
Insinerator ini memiliki kapasitas penanganan sampah sebesar 100 kilogram per hari, dengan skema kerja selama 8 jam per hari. Untuk mengaktifkan sensor dan pompa yang terintegrasi dalam sistem kontrolnya, insinerator ini membutuhkan daya listrik sebesar 800 watt.
Menariknya, proses pembakaran sampah di dalam tungku tidak memerlukan bahan bakar fosil konvensional. Sebagai gantinya, insinerator ini menggunakan oli bekas. “Dalam satu siklus pembakaran memerlukan dua liter oli bekas,” kata Frury. Oli bekas merupakan sumber daya yang relatif mudah diperoleh, seringkali didapatkan secara gratis dari bengkel kendaraan, atau dengan biaya yang sangat terjangkau, yaitu sekitar Rp 10 ribu per dua liter.
Perawatan dan Pemeliharaan
Untuk menjaga kinerja optimal insinerator, diperlukan perawatan rutin. Pengguna perlu secara berkala mengeluarkan abu sisa pembakaran dari dalam alat. Selain itu, cairan kimia pada wet scrubber perlu diganti seminggu sekali untuk memastikan efektivitas penyaringan. Pembersihan bagian ruang bakar juga perlu dilakukan seminggu dua kali.
Inovasi insinerator ramah lingkungan dari mahasiswa Polman Bandung ini menunjukkan potensi besar dalam pengelolaan sampah organik yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dengan kemampuan mengubah sampah menjadi abu yang bermanfaat dan meminimalkan emisi berbahaya, alat ini dapat menjadi solusi yang sangat berharga bagi masyarakat, terutama di daerah yang menghadapi tantangan dalam pengelolaan limbah.

















