Kehadiran Kapal Perusak AS di Selat Hormuz Mengundang Reaksi Tegas dari Iran
Pada hari Sabtu (11/4/2026), dua kapal perusak milik Amerika Serikat (AS) yang dikenal dengan nama USS Michael Murphy dan USS Frank E. Peterson dilaporkan dipaksa untuk kembali setelah mencoba memasuki wilayah Selat Hormuz. Insiden ini terjadi setelah Angkatan Laut Iran mengklaim telah mengetahui upaya penyamaran kapal tersebut sebagai kapal komersial Oman.
Kapal-kapal perusak ini, yang merupakan bagian dari kelas Arleigh Burke, diketahui memiliki kemampuan yang sangat canggih. Namun, dalam insiden ini, mereka justru menghadapi ancaman serius dari pihak Iran. Menurut laporan yang beredar, Iran menggunakan rudal jelajah dan drone penyerang untuk mengunci posisi kapal AS. Hal ini membuat kapal-kapal tersebut akhirnya memilih untuk meninggalkan area tersebut karena ketakutan.
Menurut informasi yang didapatkan dari video yang diunggah oleh Investigasi Press TV, kapal perusak AS hanya berjarak beberapa menit dari rudal Iran. Dalam video tersebut, militer Iran memberikan peringatan kepada kapal-kapal tersebut untuk segera menjauh. Mereka diberi waktu 30 menit untuk berbalik dan meninggalkan area tersebut atau akan menjadi sasaran Angkatan Bersenjata Iran.
Tidak hanya itu, Iran juga melibatkan drone penyerang untuk memantau pergerakan kapal-kapal AS. Dalam proses ini, kapal-kapal tersebut mencoba menggunakan taktik perang elektronik, termasuk mematikan sistem pelaporan posisi mereka, dalam upaya untuk mengelabui pasukan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Strategi Pemilihan Rute yang Berisiko Tinggi
Dalam upayanya untuk memasuki Selat Hormuz, kapal-kapal perusak AS memilih rute yang sangat dekat dengan pantai dan melalui perairan dangkal. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mengambil risiko tinggi untuk melewati rute ini dan memasuki Teluk Persia. Namun, keberadaan mereka akhirnya terdeteksi oleh AL Iran yang tengah melakukan patroli di sekitar Fujairah.
USS Frank Peterson awalnya mencoba melanjutkan perjalanan, tetapi segera menyadari bahwa radar rudal jelajah telah menguncinya. Akhirnya, kapal tersebut dihentikan oleh kapal-kapal IRGC. Di atas kapal-kapal tersebut, drone IRGC terbang dan memberikan pengawasan ekstra.
Setelah menerima pemberitahuan melalui saluran internasional 16, USS Peterson diberi waktu 30 menit untuk berbalik dan meninggalkan area tersebut. Jika tidak, kapal tersebut akan menjadi sasaran Angkatan Bersenjata Iran. Meski demikian, kapal perusak tersebut bersikeras untuk melanjutkan perjalanan, sehingga dikeluarkan peringatan terakhir yang mengancam akan kehancuran.
Penyangkalan dari Pihak AS
Meskipun Iran mengklaim bahwa operasi kapal perusak AS gagal, pihak AS membantah klaim tersebut. Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya menyatakan bahwa laporan tentang kapal Amerika yang memasuki Selat Hormuz tidak benar. “Klaim komandan CENTCOM mengenai pendekatan dan masuknya kapal Amerika ke Selat Hormuz dibantah keras,” ujarnya.
Sementara itu, Komando Pusat militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut bahwa kapal perusak Angkatan Laut AS telah beroperasi di Selat Hormuz dalam rangka misi pembersihan ranjau laut. Pernyataan saling bantah ini muncul di tengah gagalnya perundingan ‘damai’ AS dan Iran di Pakistan kemarin.
Spesifikasi Kapal Perusak USS Michael Murphy
USS Michael Murphy (DDG-112) adalah salah satu kapal perusak kelas Arleigh Burke (varian Flight IIA) yang dimiliki oleh Angkatan Laut AS. Nama kapal ini diambil dari seorang penerbang yang gugur selama operasi di Afghanistan.
Spesifikasi Utama:
– Nama Kapal: USS Michael Murphy (DDG-112)
– Kelas: Arleigh Burke-class Destroyer (Flight IIA)
– Semboyan: “Lead the Fight”
– Pabrikan: Bath Iron Works, Maine, AS.
– Status: Aktif (Beroperasi sejak 2012).
Dimensi dan Kemampuan Fisik:
– Panjang: 155,3 meter.
– Lebar (Beam): 20 meter.
– Draft (Kedalaman di bawah air): 9,4 meter.
– Bobot Mati (Displacement): Sekitar 9.200 ton (full load).
– Kecepatan Maksimum: Lebih dari 30 knot (56+ km/jam).
– Awak Kapal: Sekitar 312 personel (termasuk perwira dan bintara).
Persenjataan:
– Sistem Peluncur Vertikal (VLS) Mk 41: Total 96 sel peluncur yang dapat membawa kombinasi:
– BGM-109 Tomahawk (Rudal jelajah darat).
– RUM-139 ASROC (Rudal anti-kapal selam).
– RIM-66 SM-2 & RIM-174 SM-6 (Pertahanan udara).
– RIM-162 ESSM (Rudal pertahanan jarak pendek).
– Meriam Utama: 1 unit 5-inch (127 mm)/62 caliber Mk 45 Mod 4.
– Pertahanan Jarak Dekat (CIWS): 1 unit 20 mm Phalanx CIWS.
– Senjata Mesin: 2 unit kanon Mk 38 Bushmaster 25 mm.
– Torpedo: 2 unit tabung peluncur torpedo tiga laras Mk 32 (untuk torpedo Mk 46 atau Mk 54).
Sensor dan Elektronik:
– Radar: AN/SPY-1D 3D Phased Array (Bagian dari sistem tempur Aegis).
– Sonar: AN/SQQ-89(V)15 (Sistem integrasi bawah air).
– Perang Elektronik: AN/SLQ-32(V)3.
Fasilitas Udara:
– Hanggar: Mampu menampung 2 helikopter Sikorsky MH-60R Seahawk.
– Dek Pendaratan: Dilengkapi dengan sistem bantuan pendaratan helikopter.

















