Proyek JakTirta Diluncurkan: Upaya Komprehensif Pengendalian Banjir dan Rob di Jakarta
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah secara resmi meluncurkan Proyek Pengendalian Banjir dan Rob Tahun Anggaran 2025–2027 dengan menandatangani dan mencanangkan kontrak pekerjaan pada hari Rabu, 24 Desember. Proyek ambisius yang diberi nama JakTirta ini merupakan investasi besar dalam pembangunan infrastruktur pengendalian banjir dan rob yang akan mencakup lima wilayah administratif di Jakarta, dengan total anggaran mencapai Rp 2,62 triliun.
Kelima wilayah yang menjadi fokus utama proyek ini meliputi Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara. Gubernur DKI Jakarta, dalam pernyataannya, menekankan bahwa nilai investasi sebesar Rp 2,62 triliun ini didedikasikan untuk memperkuat ketahanan kota Jakarta dalam menghadapi ancaman banjir dan rob yang semakin nyata.

Empat Pilar Utama Proyek JakTirta
Proyek JakTirta dirancang dengan fokus pada empat pilar utama yang saling melengkapi untuk menciptakan solusi pengendalian banjir yang efektif:
- Pembangunan Sistem Polder dan Pompa Pengendali Banjir: Peningkatan kapasitas dan pembangunan sistem polder serta penambahan unit pompa baru menjadi prioritas. Sistem ini akan berfungsi untuk menampung dan mengalirkan air hujan serta air pasang, mencegah genangan yang meluas.
- Pembangunan Embung dan Waduk: Proyek ini juga mencakup pembangunan embung dan waduk baru yang akan berperan sebagai tandon air alami. Fungsi utama waduk dan embung adalah menampung volume air hujan yang tinggi, sehingga mengurangi beban pada sistem drainase kota dan mencegah banjir.
- Pembangunan dan Penguatan Tanggul NCICD: Penguatan dan pembangunan tanggul di sepanjang pesisir pantai, yang merupakan bagian dari National Capital Integrated Coastal Development (NCICD), akan dilakukan untuk melindungi Jakarta dari ancaman rob atau banjir rob yang disebabkan oleh pasang air laut.
- Penanganan Sungai dan Kali: Paket-paket pekerjaan yang ditujukan untuk penanganan sungai dan kali akan fokus pada peningkatan kapasitas aliran air. Hal ini dapat mencakup pengerukan, pendalaman, dan pembangunan struktur penguat di sepanjang bantaran sungai untuk memastikan aliran air yang lebih lancar dan kapasitas tampung yang lebih besar.

Strategi Pelaksanaan yang Inovatif
Salah satu aspek yang membedakan pencanangan proyek JakTirta adalah waktu pelaksanaannya. Berbeda dari kebiasaan sebelumnya di mana tender proyek seringkali dilakukan di awal tahun anggaran, kali ini tender telah dilaksanakan bahkan sebelum tahun anggaran 2025 dimulai. Gubernur DKI Jakarta menjelaskan bahwa strategi ini diambil untuk memastikan penyerapan anggaran yang optimal dan merata sepanjang tahun.
“Saya telah mengizinkan jajaran pemprov, hal yang berkaitan dengan proyek, yang dulu selalu tendernya itu di awal tahun. Sekarang di pertengahan tahun sebelumnya,” ujar beliau. “Supaya penyerapan anggarannya itu juga tinggi. Tidak kemudian ditumpuk di belakang, ketika bulan Desember semua orang sibuk menghabiskan anggaran. Saya enggak mau itu.”

Pendekatan Jangka Menengah dan Berkelanjutan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyadari bahwa penanganan banjir di ibu kota tidak dapat dilakukan secara sporadis atau hanya bersifat jangka pendek. Oleh karena itu, proyek JakTirta dirancang dengan visi jangka menengah dan komitmen untuk pelaksanaan yang berkelanjutan hingga akhir tahun 2027. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih permanen dan efektif dalam menghadapi tantangan banjir.
“Saya sungguh berharap bahwa perencanaan itu benar-benar terpadu, bertahap, dan berkelanjutan,” tandasnya.

Fokus pada Peningkatan Kapasitas Sungai, Bukan Pelebaran
Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, memberikan klarifikasi mengenai fokus proyek JakTirta. Ia menjelaskan bahwa proyek ini lebih menekankan pada peningkatan kapasitas sungai yang sudah ada, bukan pada pelebaran sungai seperti yang dilakukan dalam program normalisasi Kali Ciliwung dan Krukut sebelumnya.
“Kalau proyek ini cenderung ke peningkatan kapasitas sungai yang ada saat ini seperti di Kali Angke dan Pesanggrahan. Dengan didalamkan dan dibuat tanggul. Kalau normalisasi kali itu konteksnya pelebaran,” jelasnya.
Pembangunan embung dan waduk akan difokuskan di beberapa lokasi strategis, yaitu di Kebagusan, Pondok Labu, dan Sunter Hulu. Menariknya, proyek JakTirta tidak akan melibatkan proses pembebasan lahan baru.
“Proses pembebasan lahannya sudah selesai dan tinggal pembangunan konstruksi saja,” pungkas beliau.

Pelaksana Proyek dan Rincian Paket Pekerjaan
Pelaksanaan proyek JakTirta akan melibatkan sejumlah perusahaan konstruksi terkemuka di Indonesia. Di antaranya adalah PT Adhi Karya, PT Brantas Abipraya, PT Nindya Karya, PT Pembangunan Perumahan (PP), PT Jaya Konstruksi, PT Modern Widya Technical, dan PT Suburo Jayana Indah Corp.
Rincian paket pembangunan dalam Proyek JakTirta meliputi:
- Sistem Polder dan Pompa:
- 9 paket pembangunan sistem polder yang akan mencakup 13 lokasi berbeda.
- Penambahan 63 unit pompa baru di luar unit pompa yang sudah ada saat ini.
- Embung dan Waduk:
- 2 paket pembangunan embung yang akan tersebar di 3 lokasi.
- Tanggul Pengaman Pantai:
- 2 paket pembangunan tanggul pengaman pantai dengan total panjang mencapai 2 kilometer.
- Revitalisasi Sungai:
- Revitalisasi sungai sepanjang 2 kilometer.
Dengan peluncuran Proyek JakTirta ini, Pemprov DKI Jakarta menunjukkan komitmennya untuk mengatasi masalah banjir dan rob secara komprehensif, dengan mengedepankan inovasi dalam strategi pelaksanaan dan fokus pada solusi jangka panjang yang berkelanjutan demi menciptakan Jakarta yang lebih aman dan tangguh.















