Kebijakan Insentif Guru untuk Program MBG di SMPN 48 Jakarta
Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) 48 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Muhamad Zainul Diney mengungkapkan kekhawatiran terkait kebijakan Surat Edaran Badan Gizi Nasional (BGN) yang menetapkan insentif bagi guru penanggung jawab program makan bergizi gratis (MBG). Ia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap rencana yang hanya menunjuk tiga guru sebagai penanggung jawab pendistribusian MBG di sekolah.
Zainul menjelaskan bahwa di SMPN 48 terdapat 24 kelas dengan rata-rata 865 porsi MBG yang harus dibagikan setiap hari. “Kami apresiasi niat baik itu, tapi mohon dikaji ulang seperti apa kebutuhan di lapangan,” ujarnya saat ditemui di kantornya pada Senin, 6 Oktober 2025.
Sebelumnya, BGN menerbitkan surat edaran tentang insentif guru penanggung jawab MBG di sekolah pada Senin, 29 September 2025. Dalam surat ini, BGN meminta setiap sekolah yang menjadi penerima manfaat program MBG, melalui arahan kepala sekolah wajib menunjuk 1 hingga 3 orang guru untuk menjadi penanggung jawab dalam distribusi MBG di sekolah.
Setiap PIC akan mendapatkan insentif sebesar Rp 100 ribu per hari yang disalurkan melalui satuan pelayanan pemenuhan gizi atau SPPG masing-masing penyalur. Namun, Zainul keberatan dengan ide tersebut karena tidak ingin memberikan beban tambahan kepada guru. Lagi pula, ia menekankan bahwa sekolah ini sudah tidak memiliki tenaga honorer. Semua pegawai telah berstatus aparatur sipil negara (ASN) dan Kontrak Kerja Individu (KKI).
Zainul menekankan bahwa semua guru dan staf di sekolah ini sudah memiliki tugas masing-masing. “Kalau nanti dia (guru) perhatiin itu (MBG) saja, kerjaan yang lainnya enggak ada. Kan repot juga kalau gitu,” ucap dia.
Sistem Gotong Royong yang Sudah Ada
Selain itu, Zainul juga khawatir pemberian insentif kepada tiga orang yang ditentukan sebagai PIC mengganggu sistem penyaluran yang sudah ada saat ini. Di SMPN 48 Jakarta, penyaluran MBG dilakukan secara gotong royong oleh wali murid bersama komite sekolah.
Komite sekolah merupakan lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, dan tokoh masyarakat yang peduli pendidikan di sebuah satuan pendidikan. Dalam pelaksanaan MBG, guru di SMPN 48 Jakarta hanya berperan sebagai pengawas ketika anak-anak menyantap makanan saja. “Distribusi ke siswa, mencatat, dan lain-lain itu dilakukan oleh komite,” tutur Zainul.
Yulianti, 53 tahun, salah seorang anggota komite SMPN 48 Jakarta, juga tidak setuju jika penyaluran dialihkan kepada guru, apalagi hanya tiga orang. Ia menceritakan setiap hari paling sedikit ada 10 orang yang mereka tunjuk sebagai penyalur MBG. Tenaga penyalur itu berasal dari wali murid yang berperan sebagai koordinator kelas.
Koordinator kelas bersama komite sekolah masing-masing mendapatkan jadwal berjaga setiap dua hari dalam seminggu. “Kalau bisa jangan tiga orang kalau memang pemerintah ada rencana begitu, kita aja dua belas orang ini gotong royong,” tutur Yulianti.
Proses Pembagian MBG yang Berjalan Lancar
Ketika ditemui pagi itu, Yulianti dan 11 orang tua murid lainnya tengah bersiap-siap untuk membagikan MBG yang sudah mereka jejerkan di ruang laboratorium IPA. Hari itu makanan diantar lebih pagi sekitar pukul 09.30 WIB.
Namun begitu, makanan tetap dibagikan sesuai jadwal yakni pukul 11.30 siang, saat siswa memasuki jam istirahat kedua. Sistem pembagiannya, setiap kelas ada 6 orang yang piket menjemput MBG dari ruangan penyimpanan sementara. Ketika para perwakilan dari 24 kelas mulai antre, orang tua murid mulai berbagi tugas.
Sebanyak dua orang bertugas mencatat jumlah siswa yang hadir berdasarkan keterangan dari siswa piket, lalu sepuluh orang lainnya bertugas menyalurkan MBG ke siswa. Setiap satu siswa akan mengangkut 1 renteng MBG yang berisi 5 ompreng.
Pantauan menunjukkan suasana pembagian makanan berlangsung sangat ramai dan riuh. Puluhan siswa yang sedang antre terlihat bermain-main dengan saling mendorong satu sama lain, sebagian yang melihat ikut tertawa. Para petugas dan beberapa guru yang mendampingi pembagian juga tampak biasa dengan situasi ramai tersebut.
Kepercayaan Komite dan Orang Tua Murid
Yulianti menuturkan sistem pembagian yang melibatkan orang tua murid berlangsung setelah satu bulan sekolah ini menerima MBG pada Maret lalu. Komite dan sekolah berupaya mencari cara agar makanan terdistribusikan dengan baik tapi juga tidak membebani guru yang sudah bertugas mengajar. “Jadi kami (komite) kompak bergiliran. Insya Allah tidak menganggu kegiatan masing-masing,” tuturnya.
Setelah siswa selesai menyantap makanan sekitar jam 1 siang, wali murid dan komite yang bertugas kembali bekerja merapikan wadah makanan. Mereka menyusun kembali ratusan ompreng yang dikembalikan oleh siswa itu di atas meja seperti semula. Sembari merapikan, mereka juga sesekali mengikat ulang ompreng yang sudah disusun per lima wadah oleh guru wali kelas.

















