AdvertorialBerita PilihanDaerahNTT

Lestarikan Kesenian Tradisional, Pemkot Kupang Gelar Diklat Peningkatan SDM

×

Lestarikan Kesenian Tradisional, Pemkot Kupang Gelar Diklat Peningkatan SDM

Sebarkan artikel ini
Foto bersama Asisten Administrasi Umum Sekda Kota Kupang, Yanuar Dally, Akademisi Universitas Nusa Candana Kupang, Dr.Karolus B. Jama, dan peserta, berlokasi di Aula lantai 2 Hotel Pelangi, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa 9/7/24 pagi (Foto : Marcho/Alreinamedia.com)

Alreinamedia.com-Kupang,  Demi menjaga, melestarikan dan mengembangkan kesenian tradisional, Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggelar kegiatan peningkatan pendidikan dan pelatihan (Diklat) Sumber Daya Manusia (SDM) Kesenian Tradisional.

Diklat tersebut dilaksanakan pada 9 – 10 Juli 2024, berlokasi di Aula lantai 2 Hotel Pelangi, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan tujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi SDM khususnya di bidang kesenian tradisional, mengembangkan kesenian daerah untuk memperkuat jati diri, serta meningkatkan kepedulian kecintaan tradisional daerah.

Peserta yang dihadirkan sebanyak 90 orang yang terdiri dari masyarakat Kota Kupang pada umumnya, serta ada juga peserta dari para Guru. Selain itu Turut hadir Sekretaris Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kota Kupang dan seluruh panitia kegiatan.

Sambutan mewakili Penjabat Wali Kota Kupang, Asisten Administrasi Umum Sekda Kota Kupang, Yanuar Dally, menyampaikan bahwa kebudayaan nasional merupakan puncak kebudayaan daerah, yang artinya kebudayaan nasional didukung atau disokong oleh budaya di daerah masing-masing.

Kabupaten/kota di Indonesia berjumlah 514 yang terdiri atas 416 kabupaten dan 98 kota yang tersebar diseluruh tanah air, Faktor inilah yang mempengaruhi perbedaan budaya masyarakat. Inilah yang dimaksud mendukung kebudayaan di Indonesia. “Jadi kegiatan hari ini esensinya adalah untuk kita memelihara dan melestarikan budaya kita yang akan menunjang kebudayaan nasional.” Ungkap Yanuar.

Baca Juga :  Pemerintah Canangkan Penimbangan Bulanan, Terintegrasi Menjadi Gerakan Bersama

Ditambahkanya, jika tidak merawat dan melestarikan budaya maka bisa saja budaya tersebut dapat diambil orang lain dan mengaku jika itu milik mereka.

Peserta Diklat saat mendengarkan arahan dan sambutan, berlokasi di Aula lantai 2 Hotel Pelangi, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa 9/7/24 pagi (Foto : Marcho/Alreinamedia.com)

Kegiatan yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan saat ini merupakan upaya sadar agar mulai merawat dan menghidupi budaya yang ada. “Ini harus dihidupi sehingga bisa mengakar, karena anak-anak masa sekarang masih banyak yang belum begitu mengerti tentang tarian maupun budaya daerah.” Jelasnya.

Beliau juga menekankan kepada para guru yang hadir agar dapat mengasah pengetahunan dan kemampuan anak-anak didik di sekolah, serta tanggung jawab moril yang besar agar anak didik bisa tumbuh dalam pengenalan dan memanfaatkan alat musik tradisional serta memahami tentang budaya di Provinsi NTT.

Diakhir sambutannya, beliau mengungkapkan terima kasih kepada para peserta dan narasumber yang hadir mengikuti diklat dan berharap dapat memperkuat pemahaman, pengetahuan dan kesadaran untuk melaksanakan budaya daerah yang ada.

Dari pantaun media ini di lokasi kegiatan, nampak dalam ruangan terdapat alat-alat musik tradisional yang dihadirkan agar dapat disampaikan kepada peserta terkait proses pembuatan dan cara penggunaannya.

Selain itu, secara tertib nampak para peserta begitu menyimak dan mendengarkan arahan serta sambutan Asisten Administrasi Umum Sekda Kota Kupang.

Baca Juga :  Menjelang Seri Malaysia, Alex Marquez Datang dengan Performa Mengesankan

Sementara itu, Dr.Karolus B. Jama, Akademisi Universitas Nusa Candana Kupang, yang dihadirkan sebagai narasumber, saat ditemui wartawan menerangkan bahwa masyarakat kota Kupang merupakan masyarakat yang majemuk dan multi etnis sehingga kesenian yang ada merupakan kesenian yang tumbuh dari kebudayaan masyarakatnya.

Masyarakat kota kupang merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku yang ada di Provinsi NTT. Suku terbesar yang mendominasi masyarakat Kota Kupang adalah suku Rote, Sabu, Timor, dan masih banyak suku lainnya yang memiliki seni budaya dan keunikan masing-masing.

“Secara administrasi jika dilihat kita tidak memiliki kesenian yang asli, tetapi dalam konteks kebudayaannya oleh karena kita merupakan masyarakat yang mejemuk maka kita memiliki kebudayaan tersendiri yang tumbuh dari masyarakatnya, sehingga bisa dikatakan kalau budaya asli kota kupang adalah budaya yang muncul dari masyarakat setiap etnis yang ada.” Jelas Karolus.

Dirinya juga menjelaskan sejauh pengamatanya sudah terlihat konektivitas antara kebudayaan dan parawisata, hanya masih membutuhkan kerja keras untuk bagaimana dapat mewujudkan konektivitas tersebut.

Misalnya bagaimana objek wisata yang ada di NTT dapat melibatkan seniman tradisional maupun modern untuk terlibat dalam mengembangkan parawisata.

Selanjutnya kegiatan Diklat dibuka secara resmi oleh Asisten Administrasi Umum Sekda Kota Kupang dengan ditandai penyematan tanda peserta dan pemukulan alat musik tradisional. (Marcho)