Lokal

Longsor & Banjir Palangka Raya: Bantaran Kahayan & Puskesmas Menteng Terendam

×

Longsor & Banjir Palangka Raya: Bantaran Kahayan & Puskesmas Menteng Terendam

Sebarkan artikel ini

Longsor di Bantaran Sungai Kahayan Putuskan Akses Warga di Palangka Raya

PALANGKA RAYA – Peristiwa alam yang tidak terduga terjadi di Kompleks Flamboyan Bawah, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada Jumat malam (30 Januari 2026). Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut sepanjang hari memicu longsor di bantaran Sungai Kahayan. Longsor ini menyebabkan amblesnya struktur tanah di bawah jembatan kayu di Gang Getah Rami, RT 3 RW 1, Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut, yang berujung pada putusnya akses utama bagi warga setempat.

Peristiwa ini bermula ketika hujan deras berlangsung hampir sepanjang hari. Pada sore harinya, jembatan kayu yang menjadi akses vital bagi warga bantaran mulai menunjukkan tanda-tanda kemiringan. Namun, pergerakan tanah di bawahnya terus berlanjut, menyebabkan jembatan tersebut akhirnya ambruk dan runtuh ke bawah pada malam hari.

Mama Raya, salah seorang warga setempat, menceritakan kronologi kejadian tersebut. “Kemarin hujan deras seharian. Sore hari jembatan sudah miring, lalu roboh ke bawah. Sekarang jalannya putus,” ujarnya dengan nada prihatin. Putusnya jembatan ini sontak mengganggu mobilitas keseharian warga, memutus jalur utama yang menghubungkan permukiman mereka.

Dampak Luas: 15 Kepala Keluarga Terdampak

Ketua RT 03 RW 02 Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut, Alyana, mengkonfirmasi bahwa longsor di bantaran Sungai Kahayan ini berdampak pada sekitar 15 kepala keluarga (KK). Terputusnya akses utama ini tentu menimbulkan berbagai kesulitan bagi warga yang bergantung pada jembatan tersebut.

Menurut Alyana, kejadian ini bukan kali pertama terjadi di kawasan tersebut. Berdasarkan informasi yang dihimpunnya dari warga, kondisi jembatan di Jalan Datah Rami, Flamboyan Bawah, mulai miring sekitar pukul empat sore. Namun, pergerakan tanah di bantaran terus berlangsung hingga malam hari ketika jembatan kayu tersebut ambruk sepenuhnya.

Baca Juga :  Foto: Hiruk pikuk pedagang di CFD Bekasi

“Kata warga, sekitar jam empat sore itu jembatan mulai miring. Ambrolnya (roboh) malam hari, langsung runtuh,” ungkap Alyana saat ditemui di lokasi kejadian pada Sabtu (31 Januari 2026). Ia menambahkan bahwa sedikitnya 10 KK terdampak langsung akibat putusnya akses ini. Jika dihitung termasuk rumah-rumah lanting (rumah panggung yang dibangun di atas air atau tepi sungai) di sekitar bantaran, jumlah total warga yang terdampak bisa mencapai sekitar 15 KK.

Kondisi Bantaran Sungai yang Rusak Parah

Pantauan di lokasi kejadian menunjukkan kondisi bantaran Sungai Kahayan yang rusak parah akibat longsor. Tanah di sisi sungai tergerus dalam, membentuk lereng yang curam. Rangka jembatan papan terlihat patah dan runtuh ke bagian bawah bantaran.

Beberapa balok kayu penyangga jembatan berserakan di lumpur, sebagian tertancap miring, dan ada pula yang jatuh hingga mendekati aliran sungai yang berwarna kecokelatan. Di bagian atas, sisa jembatan titian masih tersambung sebagian, namun permukaannya tidak rata, miring, dan sangat rawan untuk dilalui.

Sejumlah warga terlihat berkumpul di tepi jalan papan yang masih tersisa, mengamati kondisi tanah yang terus tergerus. Aktivitas kerja bakti pun dilakukan oleh warga lain untuk mengamankan papan dan material jembatan agar tidak tertimbun tanah apabila hujan kembali turun. Kerusakan parah ini menggarisbawahi kerentanan kawasan bantaran sungai terhadap perubahan cuaca ekstrem.

Kejadian Berulang: Tiga Kali Longsor di Lokasi yang Sama

Yang mengejutkan, peristiwa longsor dan ambruknya jembatan kayu di Jalan Datah Rami, Flamboyan Bawah, Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut, Palangka Raya, ini ternyata bukan kejadian pertama. Ketua RT 03 RW 02 Kelurahan Langkai, Alyana, menyatakan bahwa ini adalah kejadian ketiga selama dirinya menjabat sebagai ketua RT sejak tahun 2021.

Baca Juga :  Dinas P&K TTU Tuntaskan Bantuan Perlengkapan Sekolah Bupati-Wabup

“Kalau dihitung, ini sudah yang ketiga. Yang sebelumnya juga pernah ambruk di sekitar sini pada tahun 2023. Yang satunya lagi saya lupa persisnya kapan,” ujar Alyana. Ia menjelaskan bahwa akses jalan papan yang ambruk ini bukan hanya satu titik, melainkan merupakan bagian dari keseluruhan akses permukiman bantaran sungai yang vital bagi aktivitas sehari-hari warga.

Kawasan ini memang dikenal rawan pergerakan tanah, terutama saat curah hujan tinggi. Peristiwa berulang ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi warga mengenai keamanan dan keberlanjutan tempat tinggal mereka di tepi sungai.

Puskesmas Menteng Tergenang Akibat Hujan Lebat

Selain insiden longsor, hujan deras yang mengguyur Palangka Raya pada Jumat (30 Januari 2026) juga menyebabkan genangan air di bangunan baru Puskesmas Menteng. Kejadian ini terjadi hanya beberapa hari setelah puskesmas tersebut mulai beroperasi di gedung barunya pada Senin (26 Januari 2026).

Saat hujan dengan intensitas tinggi, debit air dari luar bangunan tidak dapat dialirkan secara optimal. Akibatnya, air meluap dan masuk ke dalam ruangan puskesmas melalui akses pintu, mengganggu aktivitas pelayanan kesehatan.

Namun, pada Sabtu (31 Januari 2026), pantauan di lokasi menunjukkan genangan air di dalam Puskesmas Menteng telah surut. Aktivitas pelayanan kesehatan pun dilaporkan kembali normal. Sejumlah pekerja terlihat masih melakukan perbaikan teknis di sekitar bangunan sebagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Meskipun demikian, insiden ini menyoroti pentingnya infrastruktur drainase yang memadai di area publik, terutama yang baru saja beroperasi.