Kisah Pilu: Ilmuwan Nuklir Iran Dieksekusi Mati Setelah Dugaan Penyiksaan dan Ancaman terhadap Ibu
Keluarga Rouzbeh Vadi, seorang ilmuwan nuklir Iran yang dieksekusi mati pada Agustus 2025, akhirnya mengungkap sisi kelam dari peristiwa yang menimpa kerabat mereka. Vahid Razavi, seorang anggota keluarga yang enggan disebutkan identitas lengkapnya, menceritakan penderitaan Rouzbeh selama 18 bulan penahanan, yang berujung pada tuduhan mata-mata Israel.
Penderitaan dan Penyiksaan Selama Penahanan
Menurut Vahid Razavi, Rouzbeh Vadi mengalami penyiksaan yang sangat kejam selama masa penahanannya. Ia mengungkapkan bahwa tulang kaki Rouzbeh patah, bersamaan dengan dua tulang rusuknya. Kondisi ini sangat mengerikan dan menunjukkan betapa brutalnya perlakuan yang diterimanya.
Lebih lanjut, Vahid Razavi membeberkan bahwa ibu Rouzbeh juga ikut ditangkap dan dipenjarakan. Para penyidik tidak hanya menahan sang ibu, tetapi juga memotretnya dalam kondisi tersebut. Foto-foto ini kemudian digunakan untuk menekan Rouzbeh agar memberikan pengakuan palsu sebagai mata-mata Israel.
“Mereka memberitahu Rouzbeh bahwa jika dia tidak mengaku melakukan spionase dan setuju untuk tampil dalam wawancara televisi, mereka akan menyiksa ibunya,” ujar Vahid Razavi, merujuk pada ancaman yang dilancarkan oleh pihak berwenang. Tekanan psikologis dan fisik yang luar biasa ini memaksa Rouzbeh untuk mengakui tuduhan yang ia yakini tidak benar.
Latar Belakang Rouzbeh Vadi dan Tuduhan Spionase
Rouzbeh Vadi sendiri adalah seorang doktor di bidang teknik reaktor. Pada tahun 2011, ia pernah terlibat dalam penulisan sebuah makalah ilmiah bersama dengan beberapa ahli nuklir senior Iran. Ironisnya, beberapa dari rekan penulisnya tersebut tewas dalam konflik dengan Israel pada Juni 2025.
Tuduhan yang dialamatkan kepada Rouzbeh adalah membagikan informasi rahasia mengenai salah satu ilmuwan yang tewas dalam serangan tersebut kepada Mossad, badan intelijen Israel. Vahid Razavi menegaskan bahwa Rouzbeh terpaksa menerima apa yang disebutnya sebagai tuduhan palsu tersebut demi melindungi ibunya dari ancaman penyiksaan.
Proses Eksekusi yang Dipertanyakan
Rouzbeh Vadi, yang merupakan anggota dari Nuclear Science and Technology Research Institute, dieksekusi pada tanggal 6 Agustus 2025. Menurut keterangan hakim, Rouzbeh direkrut secara daring oleh Mossad. Pengakuan yang disiarkan di televisi pemerintah Iran disebut menjadi satu-satunya dasar hukum untuk menjatuhkan vonis hukuman mati kepadanya.
Vahid Razavi sangat menyayangkan kecepatan pihak berwenang dalam bertindak pasca konflik 12 hari pada bulan Juni. Eksekusi dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada keluarga, menambah luka dan kesedihan mereka.
Ia juga secara tegas mempertanyakan pernyataan media pemerintah yang menyebutkan bahwa kerabat Rouzbeh menerima tas hitam berisi uang tunai. “Di era transaksi digital, mengapa seorang ilmuwan berpendidikan tinggi menerima uang tunai dalam sebuah tas?” tanyanya dengan nada keraguan yang mendalam.
Modus Operandi Tuduhan dan Penolakan Keluarga
Menurut tuduhan yang beredar, Rouzbeh Vadi dituduh menyalin data-data sensitif ke dalam hard drive dan menyerahkannya di toilet umum sebuah taman. Vahid Razavi menganggap cerita ini sangat tidak masuk akal, mengingat banyaknya platform digital yang aman dan terenkripsi yang dapat digunakan untuk tujuan semacam itu.
Vahid Razavi dengan tegas menyatakan bahwa Rouzbeh tidak pernah terlibat dalam dunia politik. Komitmennya murni untuk mendukung penelitian nuklir yang bertujuan damai.
Keprihatinan Internasional terhadap Pengakuan Paksa
Organisasi hak asasi manusia telah lama menyuarakan keprihatinan mendalam mengenai praktik pengakuan paksa yang diperoleh melalui penyiksaan dalam sistem peradilan Iran. Kasus Rouzbeh Vadi dan beberapa kasus lainnya pasca konflik Juni semakin memperkuat kekhawatiran ini. Pengadilan Iran dilaporkan telah menangkap, mengadili, dan mengeksekusi beberapa individu atas tuduhan spionase yang melibatkan Israel, seringkali dengan bukti yang diperoleh di bawah tekanan dan penyiksaan.

















