Keunikan Klenteng Hian Thian Siang Tee Bio: Simbol Toleransi Lintas Agama di Jantung Jakarta
Di tengah hiruk pikuk Kota Jakarta, tersembunyi sebuah tempat ibadah yang menyimpan cerita unik nan mengharukan tentang toleransi dan penghargaan lintas agama. Klenteng Hian Thian Siang Tee Bio, yang berlokasi di belakang Pasar Palmerah, Tanah Abang, Jakarta Pusat, bukan hanya menjadi pusat spiritual bagi umat Konghucu, tetapi juga menyimpan dua petilasan istimewa yang didedikasikan untuk tokoh-tokoh Muslim. Keberadaan petilasan ini menjadi saksi bisu dari hubungan harmonis yang telah terjalin selama berabad-abad antara komunitas Tionghoa dan Muslim di kawasan tersebut.
Dua Petilasan, Satu Simbol Penghargaan
Dua petilasan tokoh Muslim ini terletak di ruangan kecil di bagian depan klenteng. Tampilannya menyerupai makam umat Muslim pada umumnya, dihiasi dengan lilin dan lampu, serta bersih terawat. Salah satu petilasan bertuliskan Eyang Yugo Thay Losu Imam Sujono Dji Losu, sementara yang lainnya tertera EMR (embah raden) Surya Kencana. Keunikan lainnya adalah kehadiran keris, senjata khas Jawa, yang turut menghiasi kedua petilasan tersebut.
Pihak Klenteng Hian Thian Siang Tee Bio menyiapkan kedua petilasan ini sebagai bentuk ungkapan terima kasih kepada kedua tokoh Muslim tersebut. Dipercaya, Eyang Yugo Thay Losu Imam Sujono Dji Losu dan EMR Surya Kencana memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian klenteng yang usianya diperkirakan telah mencapai lebih dari dua abad. Meskipun usia pasti klenteng ini tidak diketahui, pemugaran pertamanya tercatat pada tahun 1894, mengindikasikan usianya yang jauh lebih tua.
Penting untuk dicatat bahwa petilasan ini tidak berisi jasad kedua tokoh Muslim tersebut. Keberadaannya murni sebagai simbol penghargaan dan pengingat akan kebaikan hati mereka. Umat Konghucu di klenteng ini bahkan kerap memanjatkan doa untuk kedua tokoh yang mereka anggap sebagai “dewa Muslim”, menunjukkan kedalaman rasa hormat dan kekaguman mereka.
Toleransi yang Mengakar Sejak Dulu
Sejarah Klenteng Hian Thian Siang Tee Bio menunjukkan bahwa bukan hanya umat Konghucu yang berperan dalam menjaga kelestariannya. Umat Islam di sekitar klenteng juga memberikan kontribusi besar. Lingkungan klenteng yang dikelilingi oleh pemukiman Muslim semakin memperkuat narasi harmonis ini.
Fenomena adanya petilasan tokoh Muslim di klenteng bukanlah hal yang baru atau hanya terjadi di Klenteng Hian Thian Siang Tee Bio. Di beberapa klenteng lain di Jakarta, terutama yang berlokasi di tengah permukiman Muslim, juga sering ditemukan petilasan tokoh Muslim yang dianggap berjasa dalam melindungi bangunan klenteng dari berbagai gangguan. Hal ini merupakan wujud nyata toleransi dan rasa terima kasih umat Konghucu terhadap tokoh Muslim yang telah memberikan kontribusi bagi keberlangsungan bangunan cagar budaya ini.
Biasanya, umat Muslim akan berziarah ke petilasan ini saat menjelang bulan puasa atau menjelang peringatan Maulid Nabi. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa tempat ini tidak hanya dikunjungi oleh umat Konghucu, tetapi juga oleh umat Muslim yang ingin memberikan penghormatan. Bahkan, tercatat sejumlah rombongan pengajian dari Cianjur pernah melakukan ziarah di petilasan tersebut.
Menjelajahi Keindahan Arsitektur dan Keberagaman Dewa
Klenteng Hian Thian Siang Tee Bio sendiri berukuran luas sekitar 800 meter persegi. Akses masuknya dapat melalui jalan samping Pasar Palmerah atau dari Jalan Palmerah Selatan, tepat di belakang Menara Kompas. Di dalam klenteng ini terdapat beberapa ruang doa yang megah.
Ruang Doa Utama
Tempat doa terbesar berada di bagian tengah klenteng. Di ruangan ini, pengunjung akan disambut oleh patung-patung dewa yang memiliki makna mendalam:
- Dewa Kwan Kong: Dikenal sebagai dewa kesatria yang bertugas melindungi masyarakat dari peperangan dan kesengsaraan.
- Hian Thian Siang Tee: Merupakan dewa pengobatan dan penangkal ilmu hitam dalam mitologi Tiongkok.
- Kwan In Po Sat: Sang Dewi yang dikenal berbudi luhur dan memiliki welas asih kepada umatnya.
Ruang Doa Tambahan
Selain ruang utama, klenteng ini memiliki total 17 tempat berdoa yang tersebar di berbagai sudutnya, mulai dari ruangan tengah hingga ruangan belakang. Beberapa di antaranya meliputi:
- Ruangan pertama: Selain patung dewa Kwan Kong, Hian Thian Siang Tee, dan Kwan In Po Sat, terdapat juga tempat doa untuk dewa Tjing It Thian Jun, Hok Tej Tjeng Sin, Pan Ko Tee Ong, To Trung Dia Ojin Kong, Seng Ong Kong, hingga Seng Bo Nio Nio.
- Tempat doa Ong Kwi Hou: Berada di pojok sebelah kanan pintu masuk.
- Mangkok emas berukuran besar: Terletak sedikit bergeser dari patung dewa Ong Kwi Hou, tempat ini diperuntukkan bagi doa kepada Giok Hong Siang Tee dan Sam Khan Tay Tee.
- Sisi kiri: Di sisi kiri, terdapat ruangan doa sekaligus petilasan yang didedikasikan untuk Surya Kencana dan Imam Sujono Djilosu, menegaskan kembali kisah toleransi yang menjadi ciri khas klenteng ini.
Klenteng Hian Thian Siang Tee Bio bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi sebuah representasi hidup dari kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Keberadaan petilasan tokoh Muslim di dalamnya menjadi pengingat kuat bahwa perbedaan dapat dirayakan dan dihormati, menciptakan harmoni yang abadi.















