Penjelasan Menteri Pemuda dan Olahraga tentang Keputusan Tidak Memberikan Visa kepada Atlet Israel
Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Erick Thohir memberikan penjelasan terkait keputusan pemerintah untuk tidak memberikan visa kepada atlet Israel yang akan berpartisipasi dalam Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan keamanan dan situasi global saat ini.
Erick menekankan bahwa langkah tersebut bukanlah bentuk diskriminasi, melainkan upaya pencegahan. Dalam pernyataannya, ia menjelaskan bahwa keputusan muncul setelah mengetahui rencana kehadiran atlet Israel di ajang yang diselenggarakan oleh Federasi Senam Internasional (FIG). Ia langsung mengonfirmasi hal ini kepada Pengurus Besar Federasi Gimnastik Indonesia (FGI).
“Saya tanya ke FGI, ‘Pak, ini ada Israel nggak?’ Dijawab ada. Saya bilang, kalau menurut saya kurang bijak pada saat ini, karena situasinya berbeda dengan sebelumnya. Saya khawatir dengan isu keamanan,” ujar Erick.
Konteks Politik dan Keamanan yang Berubah
Erick menyebutkan bahwa konteks politik dan keamanan internasional telah berubah, terutama pasca eskalasi keamanan di Gaza. Hal ini meningkatkan sensitivitas terhadap kehadiran Israel di ajang olahraga global. “Dulu masih bisa ditarik-ulur, tapi sekarang tone-nya di seluruh dunia sudah berbeda, lebih menolak,” tambahnya.
Salah satu alasan kuat pemerintah menolak visa adalah permintaan khusus dari delegasi Israel terkait pengamanan selama di Indonesia. Permintaan ini dinilai tidak sejalan dengan prinsip kesetaraan antarpeserta. “Saya menilai itu juga bentuk diskriminasi terhadap 79 negara lain, termasuk Rusia dan China. Jadi konteksnya bukan politik, tapi soal keamanan dan perlakuan yang setara,” jelas Erick.
Kesepakatan dengan FIG dan FGI
Setelah diskusi dengan FGI dan FIG, kedua pihak sepakat untuk menarik permohonan visa Israel agar tidak terjadi eskalasi yang berujung pada pembatalan kejuaraan. “FIG akhirnya memahami situasi dan berkirim surat meminta pencabutan visa agar ajang tetap bisa berlangsung dengan aman,” jelas Erick.
Karena ada surat permintaan, pemerintah menggelar rapat dengan berbagai kementerian terkait. Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah sudah berkoordinasi dengan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) sebelum keputusan diambil. Meskipun ada tentangan dari Komite Olimpiade Internasional (IOC), Erick tetap dalam posisinya menolak mengeluarkan visa.
Akibat dari Keputusan Pemerintah
Akhirnya, seluruh pihak sepakat menempatkan faktor keamanan nasional sebagai prioritas utama. Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 akhirnya tetap berlangsung di Jakarta dan masih berjalan. Namun, akibat keputusan pemerintah tersebut, IOC memutuskan agar kejuaraan dunia di bawah naungannya tidak dapat digelar di Indonesia untuk sementara waktu.
Erick menegaskan bahwa keputusan ini tidak mengubah komitmen Indonesia untuk tetap aktif dalam kegiatan olahraga internasional. Meski tidak bisa menjadi tuan rumah ajang olahraga internasional, atlet-atlet Indonesia tetap diizinkan berpartisipasi di event-event olahraga dunia.
“Yang penting, atlet-atlet kita tetap bisa bertanding di luar negeri. Pemerintah tetap mendukung transformasi olahraga nasional dan pembinaan cabang-cabang olahraga unggulan yang sedang kami siapkan,” ujarnya.

















