Menghidupkan Kembali Pesona Kota Tua Padang Melalui Car Free Night dan Revitalisasi
Pemerintah Kota Padang, Sumatra Barat, mengambil langkah strategis untuk menggencarkan sektor pariwisata melalui penyelenggaraan Car Free Night (CFN) yang berfokus pada kawasan Kota Tua. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk menarik lebih banyak wisatawan, tetapi juga diharapkan dapat memulihkan perekonomian daerah pasca-bencana.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yudi Indrasyani, mengumumkan bahwa CFN perdana akan dilaksanakan pada 7 Februari 2026. Lokasi yang dipilih adalah sepanjang Jalan Batang Arau hingga Klenteng Lama, sebuah area yang kaya akan sejarah dan memiliki potensi wisata yang besar.
“Dalam kegiatan Car Free Night ini, kami akan menyajikan berbagai atraksi menarik, mulai dari pertunjukan musik, aneka kuliner khas, hingga kegiatan lainnya yang dirancang untuk menghibur pengunjung,” ujar Yudi Indrasyani dalam keterangan resminya. Ia menambahkan, momentum penyelenggaraan CFN yang bertepatan dengan perayaan Imlek diperkirakan akan mendatangkan lonjakan wisatawan yang signifikan.
Lebih lanjut, Yudi Indrasyani mengungkapkan bahwa Pemkot Padang memiliki rencana ambisius untuk menjadikan CFN sebagai agenda rutin setiap Sabtu malam. Dengan demikian, diharapkan frekuensi kunjungan wisatawan ke Kota Tua, dan bahkan ke Kota Padang secara keseluruhan, akan terus meningkat.
“Kami sangat berharap kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat dan wisatawan. Tujuannya tidak lain adalah untuk menciptakan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan, terutama di masa pasca-bencana ini,” tuturnya, menekankan dampak positif yang diharapkan dari penyelenggaraan CFN.
Revitalisasi Menyeluruh untuk Daya Tarik Maksimal
Selain penyelenggaraan CFN, Pemerintah Kota Padang juga berkomitmen untuk melakukan revitalisasi menyeluruh terhadap kawasan Kota Tua. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat (DPUPR) Kota Padang, Tri Hadiyanto, menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bagian integral dari strategi untuk menarik minat wisatawan agar berkunjung ke Kota Tua yang terletak di daerah Pondok dan sekitarnya.
Salah satu fokus utama revitalisasi adalah penataan ulang jalan dan trotoar di Jalan Klenteng, khususnya pada ruas jalan yang menghubungkan area Padang Old Town dengan Klenteng Lama.
“Ke depannya, jalan di kawasan ini tidak lagi menggunakan lapisan aspal. Kami akan menggantinya dengan material yang lebih alami dan estetis, seperti batu alam dan paving blok,” jelas Tri Hadiyanto. Perubahan ini diharapkan akan memberikan nuansa yang lebih otentik dan menarik bagi para pengunjung.
Tri Hadiyanto juga mengkonfirmasi bahwa Dokumen Engineering Design (DED) untuk revitalisasi Kota Tua telah rampung. DED ini menjadi panduan utama dalam proses peremajaan kawasan, dengan harapan besar agar Kota Tua menjadi destinasi wisata yang lebih memikat setelah seluruh pekerjaan selesai.
“Untuk mendukung upaya peremajaan ini, kami juga berencana untuk melakukan pengecatan ulang pada bangunan-bangunan tua yang berada di kawasan Kota Tua,” tambah Tri Hadiyanto. Langkah ini bertujuan untuk mempercantik tampilan visual kawasan dan menjadikannya lebih menarik bagi wisatawan.
Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Menjadi Prioritas
Perhatian khusus juga diberikan pada pelestarian bangunan cagar budaya yang menjadi aset berharga di Kota Tua. Terdapat sebanyak 19 bangunan cagar budaya yang perlu direvitalisasi dan dicat ulang agar tampil lebih menawan.
“Sebanyak 19 bangunan cagar budaya ini harus diperbaharui tampilannya agar lebih menarik. Saat ini, Pemerintah Kota sedang berupaya mencari para donatur yang bersedia membantu dalam proses pengecatan ulang bangunan-bangunan bersejarah tersebut,” ungkap Tri Hadiyanto. Kolaborasi dengan sektor swasta dan komunitas diharapkan dapat mempercepat proses pelestarian dan revitalisasi bangunan cagar budaya ini, sehingga Kota Tua Padang dapat kembali bersinar dengan pesona sejarahnya yang kaya.















