Berita

Perbedaan Pura dan Keraton Solo, Sejarah di Balik Dua Istana Surakarta

×

Perbedaan Pura dan Keraton Solo, Sejarah di Balik Dua Istana Surakarta

Sebarkan artikel ini

BERITA DIY– Kota Surakarta, yang lebih dikenal dengan sebutan Solo, bukan hanya terkenal sebagai pusat budaya Jawa, tetapi juga menyimpan kisah menarik mengenai dua istana megah yang berdiri berdampingan: Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran.

Kedua institusi ini memiliki asal-usul yang sama dari Kerajaan Mataram Islam, tetapi memiliki latar belakang sejarah dan posisi politik yang berbeda. Keberadaan dua istana ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan akibat dari dinamika persaingan kekuasaan, politik kolonial, serta perpecahan dalam keluarga kerajaan yang terjadi pada masa lalu.

Asal Muasal Dua Istana di Kota Solo

Asal usul berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat bermula pada masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwana II, saat pusat kerajaan Mataram Islam dipindahkan dari Keraton Kartasura ke Desa Sala (Solo) pada tahun 1745.

Pergeseran yang dikenal dengan Boyong Kedhaton ini terjadi karena hancurnya Kartasura setelah peristiwa Geger Pecinan, yaitu pemberontakan besar yang menyebabkan istana lama tidak lagi layak dihuni.

Sejak saat itu, berdirilah pusat pemerintahan baru yang diberi nama Keraton Surakarta Hadiningrat, dan tanggal perpindahan tersebut, yaitu 17 Februari 1745, kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Solo. Surakarta menjadi simbol kejayaan baru Mataram dengan gelar Susuhunan Pakubuwana.

Namun, masa damai tidak berlangsung lama. Setelah Pakubuwana II meninggal pada 1749, perselisihan internal kembali muncul. Akibatnya, pada tahun 1755, kerajaan Mataram Islam secara resmi terbagi menjadi dua melalui Perjanjian Giyanti.

Berdasarkan perjanjian tersebut, muncul dua pusat kekuasaan besar, yaitu:

  • Keraton Kasunanan Surakarta pada masa Sunan Pakubuwana III,
  • dan Istana Kesultanan Yogyakarta di bawah Sultan Hamengkubuwana I.

Belum genap dua tahun, muncul kembali pecahan ketiga akibat Perjanjian Salatiga (1757). Salah seorang putra keturunan Mataram, Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, mendapatkan wilayah kekuasaan sendiri yang dikenal sebagai Kadipaten Mangkunegaran. Ia memimpin dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I.

Oleh karena itu, Mangkunegara tidak lahir sebagai kerajaan baru, tetapi sebagai sebuah kadipaten yang otonom di bawah pengawasan Kasunanan, namun memiliki hak khusus untuk memiliki tentara dan pemerintahan sendiri.

Perbedaan gelar dan posisi pemimpin

Meskipun keduanya memiliki asal dari darah Mataram, posisi pemimpin kedua istana tersebut berbeda. Di Keraton Kasunanan Surakarta, pemimpinnya menggunakan gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakubuwana, yang menggambarkan seorang raja dengan jabatan spiritual dan politik tertinggi di Jawa.

Sementara itu, pemimpin Pura Mangkunegaran memiliki gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara, yang berarti adipati — bukan raja, melainkan bangsawan yang berstatus sebagai penguasa wilayah otonom.

Baca Juga :  Ramalan Zodiak Hari Ini 6 November 2025: 6 Zodiak Wajib Waspada, Aquarius Jangan Cekcok

Di dalam sistem tradisional Jawa, adipati Mangkunegaran tidak memiliki hak untuk duduk di singgasana seperti sultan atau sunan. Ia lebih bertindak sebagai pengelola kadipaten dengan otonomi yang terbatas.

Sekarang, Pura Mangkunegaran dipimpin oleh Mangkunegara X atau Gusti Bhre Cakrahutama Wira Sudjiwa, sementara Keraton Surakarta hingga akhir tahun 2025 masih dalam masa peralihan setelah meninggalnya Pakubuwana XIII, dan kepemimpinan selanjutnya akan diambil alih oleh Pakubuwana XIV.

Perbedaan antara Istana dan Struktur Arsitektur

Kedua pusat kerajaan ini hanya terletak sekitar dua kilometer jauhnya. Keraton Kasunanan berada di Kecamatan Pasar Kliwon, sementara Pura Mangkunegaran terletak di Kecamatan Banjarsari, Kota Solo.

Secara penampilan, keduanya sama-sama menunjukkan nuansa arsitektur Jawa tradisional yang dipadukan dengan gaya Eropa yang lembut. Namun terdapat perbedaan mendasar dalam status dan bentuk struktur bangunan:

  • Keraton Surakarta dikenal sebagai pusat kerajaan dan tempat tinggal raja.
  • Mangkunegaran dikenal sebagai pura, karena memiliki status sebagai kadipaten dan dihuni oleh seorang adipati, bukan raja.

Di dalam perjanjian pendirian, Pura Mangkunegaran dilarang memiliki alun-alun dan pohon beringin kembar — simbol kekuasaan kerajaan yang hanya dimiliki oleh keraton. Selain itu, pura juga tidak memiliki Balai Witana, balairung utama tempat raja bersemayam.

Wilayah Kekuasaan Pada Masa Lampau

Pada masa puncak kejayaannya, wilayah Kasunanan Surakarta meliputi sebagian besar area yang saat ini dikenal sebagai Solo Raya, termasuk Sukoharjo, Boyolali, Sragen, Klaten, serta sebagian dari Yogyakarta (Kotagede dan Imogiri).

Di sisi lain, Kadipaten Mangkunegaran menguasai wilayah utara Kota Solo, sebagian dari Laweyan dan Jebres, serta kawasan sekitar Karanganyar, Wonogiri, dan sebuah enclave kecil di wilayah Ngawen dan Semin (yang saat ini termasuk dalam Kabupaten Gunungkidul, DIY).

Setelah kemerdekaan Indonesia, seluruh wilayah tersebut digabungkan ke dalam Provinsi Jawa Tengah berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 1950, kecuali enklave yang dimasukkan ke dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pakaian Adat dan Warna Simbolis

Salah satu hal menarik dari kedua istana tersebut adalah kesamaan dalam gaya pakaian adat. Baik para abdi dalem di Keraton Solo maupun Pura Mangkunegaran memakai beskap Jawa dengan gaya Surakarta, tetapi terdapat perbedaan pada warna dan hiasan.

Pengawal Kesultanan menggunakan ikat pinggang berwarna kuning dan merah, sedangkan pengawal Mangkunegara memakai ikat pinggang berwarna hijau dan kuning.

Baca Juga :  Ayo Mengenal Latoh, Makanan Khas Dari Kabupaten Natuna

Pada masa pemerintahan Mangkunegara IV (tahun 1871), muncul inovasi pakaian khas Beskap Langenharjan yang menggabungkan unsur Jawa dan Eropa. Ciri khasnya terlihat dari dasi kupu-kupu, kemeja putih, rompi, kalung ulur, bros, hingga jas dengan potongan belakang khas Belanda (rokkie walandi). Gaya ini menjadi ciri khas para aristokrat Mangkunegaran yang modern dan berpandangan luas pada masa itu.

Acara Adat dan Budaya Spiritual

Meski keduanya menghargai tradisi Jawa, masing-masing istana memiliki cara sendiri dalam menjaga kearifan lokal. Perayaan Malam 1 Suro — pergantian tahun dalam kalender Jawa — misalnya, merupakan upacara suci yang dilakukan secara terpisah.

Di Keraton Kasunanan, acara ini dikenal dengan nama Hajad Dalem Kirab Pusaka, di mana para abdi dalem berjalan tanpa alas kaki dan tidak berbicara sambil mengelilingi area keraton. Upacara ini dipimpin oleh kerbau albino bernama Kyai Slamet, yang dianggap membawa berkah dan perlindungan bagi kota tersebut.

Di sisi lain, Mangkunegara juga menyelenggarakan Kirab 1 Suro, tetapi tanpa kehadiran kerbau putih. Menariknya, kirab di pura biasanya diadakan lebih awal dibandingkan di Kasunanan.

Selain itu, Pura Mangkunegaran memiliki kebiasaan Ruwahan, sementara Keraton Surakarta secara rutin menyelenggarakan Grebeg Maulud, Grebeg Besar, dan Kirab Malam Selikuran.

Warisan Budaya yang Masih Berlangsung Warisan Budaya yang Terus Bertahan Warisan Budaya yang Tetap Ada Warisan Budaya yang Masih Bersemangat Warisan Budaya yang Terus Berjalan Warisan Budaya yang Masih Berlaku Warisan Budaya yang Tetap Hidup Warisan Budaya yang Masih Berada di Tengah Masyarakat Warisan Budaya yang Masih Dijaga Warisan Budaya yang Masih Ada dalam Kehidupan

Kedua istana tersebut tidak hanya menjadi lambang kekuasaan, tetapi juga pusat warisan budaya Jawa. Dari Keraton Surakarta, muncul taman besar Sriwedari yang dahulu dibangun oleh Sunan Pakubuwana X pada tahun 1887 sebagai tempat istirahat keluarga kerajaan.

Sementara Pura Mangkunegaran memiliki Taman Balekambang, yang dibangun oleh Mangkunegara VII pada tahun 1921 sebagai hadiah untuk dua putrinya, GRAy Partini dan GRAy Partinah. Kini, kedua taman tersebut menjadi area umum dan tempat wisata populer di Solo.

Sebagai pemimpin Islam, keduanya juga memiliki masjid besar di sekitar kompleks istana. Keraton Surakarta memiliki Masjid Agung Kasunanan dekat Alun-Alun Utara, sementara Pura Mangkunegaran memiliki Masjid Al-Wustho yang terletak di sisi barat istana dengan desain arsitektur Jawa-Islam klasik yang menarik.