Pendidikan

Pola Asuh: VOC Usang, Gentle Parenting Tak Semudah Nikita Willy

×

Pola Asuh: VOC Usang, Gentle Parenting Tak Semudah Nikita Willy

Sebarkan artikel ini

Menggugat Pola Asuh Keras: Mengapa Pendekatan “VOC” Tak Lagi Relevan untuk Anak Masa Kini

Di tengah dinamika perkembangan zaman yang pesat, pola pengasuhan anak juga mengalami pergeseran signifikan. Pendekatan keras yang mungkin pernah efektif di masa lalu, seringkali diidentikkan dengan gaya pengasuhan era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kini dinilai tidak lagi relevan dan justru berpotensi menghambat tumbuh kembang anak generasi sekarang.

Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Rusprita Putri Utami, secara tegas menyatakan bahwa pola asuh keras ala “VOC” sudah tidak dapat diimplementasikan pada generasi saat ini. “Sepertinya juga pola asuh ala ‘VOC’ itu tidak bisa lagi diimplementasikan saat ini. Mungkin dulu saya dibimbing oleh orang tua saya melalui pola asuh VOC, tapi sepertinya tidak akan efektif jika itu saya lakukan pada anak saya,” ungkap Rusprita dalam sebuah talkshow yang membahas “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Pernyataannya ini menggarisbawahi jurang perbedaan generasi dan bagaimana kebutuhan serta karakteristik anak-anak masa kini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.

Pola asuh yang menekankan disiplin ketat, kontrol penuh, dan minimnya ruang ekspresi diri pada anak, yang seringkali diasosiasikan dengan era kolonial, berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif. Psikolog anak menyoroti bahwa pendekatan semacam ini dapat menghambat perkembangan kognitif dan emosional anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan pengasuhan otoriter cenderung memiliki rasa percaya diri yang rendah, kesulitan dalam mengambil keputusan, dan rentan terhadap masalah kecemasan atau depresi di kemudian hari.

“Gentle Parenting”: Tren Populer yang Menghadirkan Tantangan Baru

Menyadari ketidaksesuaian pola asuh keras, masyarakat modern mulai melirik konsep “gentle parenting” atau pengasuhan lembut. Tren ini semakin populer, terutama setelah banyak figur publik, seperti artis Nikita Willy, membagikan pengalaman mereka menerapkan pendekatan ini. Gentle parenting menekankan pada pemahaman, empati, komunikasi terbuka, serta penghormatan terhadap perasaan dan batasan anak. Tujuannya adalah membangun hubungan yang kuat dan sehat antara orang tua dan anak, di mana anak merasa aman, didukung, dan dihargai.

Baca Juga :  Indonesia Bisa Tersingkir di AFF 2022, Jika Mengalami Ini

Namun, Rusprita Putri Utami mengingatkan bahwa penerapan gentle parenting bukanlah perkara mudah dan belum tentu dapat dilakukan secara sempurna oleh semua orang tua. “Memang cukup berat ya, mungkin tidak mudah juga untuk 24 jam kali 7 hari seperti Nikita Willy gitu ya kalau kata ibu-ibu sekarang,” ujarnya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa meskipun konsepnya terdengar ideal, realitas di lapangan seringkali menghadirkan tantangan tersendiri. Orang tua dihadapkan pada tuntutan pekerjaan, keterbatasan waktu, serta dinamika emosional anak yang kompleks, yang semuanya dapat mempersulit konsistensi dalam menerapkan gentle parenting.

Dampak Negatif Pola Asuh Otoriter dan Pentingnya Pembelajaran Berkelanjutan

Psikolog anak secara konsisten memperingatkan tentang dampak negatif jangka panjang dari pola asuh keras atau otoriter. Laporan-laporan dari berbagai sumber kesehatan dan media menunjukkan bahwa pola asuh yang salah dapat secara signifikan menghambat perkembangan anak. Hal ini tidak hanya berpengaruh pada perilaku sehari-hari, tetapi juga dapat membentuk kepribadian anak dan menciptakan risiko masalah psikologis di masa depan.

Lebih lanjut, seringkali orang tua tanpa sadar masih menerapkan pola pengasuhan otoriter yang identik dengan gaya VOC. Padahal, konsep pengasuhan modern justru sangat menekankan pentingnya empati dan komunikasi dua arah. Fondasi hubungan orang tua dan anak yang sehat dibangun di atas rasa saling percaya dan pemahaman, bukan dominasi dan kontrol.

Baca Juga :  Sambut HUT RI ke 80, Polres Bintan Luncurkan Pasar Murah

Penelitian akademik juga semakin memperkuat argumen bahwa pola asuh VOC yang mengedepankan disiplin ketat dan kontrol absolut dapat menghambat perkembangan optimal anak. Anak membutuhkan ruang untuk eksplorasi, belajar dari kesalahan, dan mengembangkan kemandirian. Ketika semua aspek kehidupan anak dikontrol secara ketat, potensi mereka untuk berkembang secara holistik menjadi terbatas.

Oleh karena itu, edukasi kepada orang tua menjadi sangat krusial. Membekali orang tua dengan pemahaman mengenai dampak negatif dari pola asuh yang tidak sesuai zaman, serta memberikan wawasan tentang pendekatan pengasuhan yang lebih positif dan efektif, adalah langkah penting untuk menciptakan generasi yang tangguh dan berkarakter.

Kunci Keberhasilan Pengasuhan: Kemauan Belajar Sepanjang Hayat

Rusprita Putri Utami menekankan bahwa kunci utama dari pola pengasuhan yang sehat dan adaptif adalah kemauan orang tua dan pendidik untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Dunia terus berkembang, begitu pula dengan anak-anak kita. Kebutuhan, tantangan, dan cara pandang generasi baru terus berevolusi, sehingga orang tua pun dituntut untuk tidak berhenti belajar.

“Yang penting kita mau belajar terus-menerus. Istilah pembelajar sepanjang hayat itu benar adanya. Saya pun masih terus belajar tentang pola asuh karena kondisi anak dan tantangannya terus berkembang,” tutupnya. Sikap terbuka untuk belajar, mau mengakui keterbatasan, dan berani mengadopsi metode pengasuhan yang lebih humanis dan sesuai dengan perkembangan zaman adalah pondasi penting untuk mendidik anak-anak menjadi individu yang hebat di masa depan.