Lokal

Politeknik Malahayati: Bakti Sosial Terpadu di Blang Cut Pidie Jaya

×

Politeknik Malahayati: Bakti Sosial Terpadu di Blang Cut Pidie Jaya

Sebarkan artikel ini

Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh Gelar Pengabdian Masyarakat Terpadu di Pidie Jaya

PIDIE JAYA – Wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dan penguatan sinergi antara institusi pendidikan dengan masyarakat terdampak bencana, Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh sukses menggelar Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Terpadu di Desa Blang Cut, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya. Kegiatan bakti sosial ini dilaksanakan pada Kamis, 29 Januari 2026, melibatkan ratusan taruna-taruni, dosen, pegawai, serta tim profesional di bidang kesehatan dan psikologi.

Kegiatan strategis ini merupakan respons terhadap kondisi Desa Blang Cut yang telah dilanda banjir selama lebih dari dua bulan, sejak 26 November 2025. Kehadiran tim dari Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh diharapkan tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga dukungan moral dan edukasi yang krusial bagi pemulihan masyarakat.

Rangkaian Kegiatan PKM Terpadu

Pembukaan kegiatan PKM Terpadu ini secara resmi dibuka oleh Direktur Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh, Ir. Andi Fiardi, S.T., M.T., CGRE, yang diwakili oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), Dr (c). Ir. Dedi Kurniawan, S.T., M.M. Turut mendampingi dalam pelaksanaan acara ini adalah Muhammad Azis, M.M., M.Mar.E, dan Muhammad Yani, M.Pd, yang menjabat sebagai ketua panitia pelaksana.

Sebanyak 45 taruna dan taruni Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh dikerahkan langsung ke lokasi kegiatan. Mereka didampingi oleh para dosen, staf pegawai, tim tenaga kesehatan (nakes), serta tim psikolog yang siap memberikan kontribusi maksimal.

Sosialisasi Tanggap Bencana

Salah satu fokus utama dari PKM Terpadu ini adalah memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai kesiapsiagaan serta penanggulangan bencana kepada masyarakat Desa Blang Cut. Mengingat lamanya durasi banjir yang melanda wilayah tersebut, pemahaman mengenai langkah-langkah mitigasi dan penanganan pascabencana menjadi sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih buruk di masa mendatang.

Baca Juga :  Cegah Abrasi, PT BSP Tanam 1.000 Mangrove di Pulau Ngenang Batam

Pembersihan Lingkungan Pascabanjir

Tim taruna-taruni dan dosen tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga turut serta secara fisik dalam upaya pembersihan lingkungan. Mereka bahu-membahu membersihkan puing-puing dan sampah sisa banjir yang berserakan di sepanjang jalan desa. Fokus pembersihan juga mencakup area fasilitas publik yang vital bagi kehidupan masyarakat, seperti meunasah (musholla), kantor keuchik (kepala desa), lapangan voli, serta lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ARFIA. Upaya ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi dan kenyamanan ruang publik serta memulihkan estetika desa.

Layanan Kesehatan dan Dukungan Psikologis

PKM Terpadu ini juga sangat komprehensif dengan melibatkan tim tenaga kesehatan dan tim psikolog dari Politeknik Pelayaran Malahayati.

  • Layanan Kesehatan Gratis: Tim nakes menyediakan berbagai layanan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh warga. Ini meliputi pemeriksaan tekanan darah, pengecekan kadar kolesterol, pemberian vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh, serta pengobatan gratis untuk berbagai keluhan kesehatan yang dialami masyarakat pascabencana. Kehadiran layanan kesehatan ini sangat membantu meringankan beban warga yang mungkin kesulitan mengakses fasilitas kesehatan akibat kondisi pascabencana.

  • Pendampingan Psikologis untuk Anak-anak: Menyadari dampak emosional yang dialami anak-anak pascabencana, tim psikolog melaksanakan kegiatan “pendampingan ceria”. Program ini dirancang khusus untuk anak-anak PAUD ARFIA, dengan tujuan membantu mereka dalam proses pemulihan kondisi psikologis. Melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan dan interaktif, tim psikolog berupaya mengurangi trauma dan kecemasan yang mungkin timbul akibat pengalaman buruk banjir.

Bantuan Sosial dan Kepedulian

Sebagai bentuk kepedulian sosial yang mendalam, Politeknik Pelayaran Malahayati juga menyalurkan bantuan berupa paket sembako kepada 50 kepala keluarga di Desa Blang Cut. Bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban kebutuhan pokok sehari-hari. Selain itu, dibagikan pula pakaian lengkap kepada seluruh peserta kegiatan, baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat yang terlibat, sebagai apresiasi atas partisipasi dan semangat gotong royong mereka.

Baca Juga :  Pernikahan Elite, Kesehatan Mental Bangsa: Dari Tabu Menjadi Tontonan

Partisipasi Aktif Masyarakat dan Apresiasi

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung sejak pagi hari, mulai pukul 08.00 WIB, hingga sore hari. Seluruh peserta, termasuk para pemuda Desa Blang Cut yang dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan, mendapatkan fasilitas makan siang dan uang saku sebagai bentuk penghargaan atas waktu dan tenaga yang telah mereka curahkan.

Salah seorang warga Desa Blang Cut, Azhari, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam atas pelaksanaan kegiatan bakti sosial ini. “Kegiatan ini sangat membantu kami yang hingga kini masih berupaya memulihkan kondisi lingkungan dan kehidupan pascabencana banjir. Kehadiran Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh memberikan semangat baru, pengetahuan, serta harapan bagi kami,” ujarnya.

Kolaborasi Strategis untuk Dampak Lebih Luas

Keberhasilan kegiatan PKM Terpadu ini tidak lepas dari kerjasama yang terjalin apik antara Politeknik Pelayaran Malahayati dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) ARFIA, yang dipimpin oleh Ari Khan. Ketua LKP ARFIA, Ari Khan, menyatakan dukungan penuhnya terhadap inisiatif ini. Ia berharap program serupa dapat terus berlanjut dan bahkan diperluas jangkauannya ke desa-desa lain di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua. “Harapan kami adalah agar program ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak desa yang terdampak bencana, guna meringankan beban masyarakat yang masih berjuang pasca-musibah,” ungkap Ari Khan.

Kolaborasi semacam ini menunjukkan pentingnya sinergi antara berbagai elemen masyarakat, termasuk institusi pendidikan, lembaga lokal, dan pemerintah daerah, dalam menghadapi dan memulihkan diri dari bencana alam. Kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran berharga bagi para taruna-taruni dalam mengaplikasikan ilmu dan keterampilan mereka untuk tujuan yang lebih mulia.