Intimidasi dan Perusakan Rumah di Kramat Jati: Tiga Anak Alami Trauma Mendalam
Sebuah peristiwa mengerikan terjadi di Jalan Dukuh, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, di mana sebuah keluarga menjadi korban intimidasi dan perusakan rumah oleh sekelompok orang yang diduga preman. Insiden yang terjadi pada Kamis, 22 Januari 2026, ini meninggalkan luka mendalam, terutama bagi tiga anak pemilik rumah yang mengalami trauma psikis. Selain merusak, para pelaku juga menyiramkan air ke seluruh peralatan elektronik, nyaris menyebabkan kebakaran akibat korsleting listrik.
Peristiwa ini terekam jelas oleh kamera CCTV yang terpasang di teras rumah korban, memberikan bukti visual atas aksi brutal yang dilakukan oleh para pelaku. Laporan mengenai kejadian ini telah disampaikan kepada pihak kepolisian untuk penanganan lebih lanjut.
Kronologi Kejadian Mengerikan
Yazid Mutaqin, pemilik rumah yang menjadi korban, menjelaskan bahwa saat kejadian berlangsung, dirinya sedang tidak berada di rumah karena bekerja. Di kediamannya, hanya ada istri dan ketiga anaknya yang masih kecil. Tiba-tiba, sekelompok pelaku datang dan tanpa basa-basi langsung merusak gembok gerbang rumahnya.
“Pas sudah di dalam pekarangan pelaku merusak mobil yang terparkir dan kamera-kamera CCTV yang ada di rumah juga dirusak,” ungkap Yazid, Minggu, 1 Februari 2026, dengan nada prihatin.
Para pelaku kemudian berusaha masuk ke dalam rumah dengan merusak kunci pintu depan. Begitu berhasil masuk, aksi mereka semakin brutal. Mereka mengambil air dan menyiramkan ke seluruh isi rumah, termasuk peralatan elektronik dan instalasi listrik. Tindakan ini sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan kebakaran.
“Mereka mau membunuh anak dan istri saya yang saat itu di rumah sudah ketakutan,” ungkap Yazid dengan nada bergetar. Pria berusia 45 tahun ini menegaskan bahwa upaya pembunuhan terselubung ini didasari oleh niat jahat, yaitu menyiramkan air ke barang elektronik hingga meteran listrik agar terjadi korsleting dan kebakaran.
Lebih lanjut, Yazid menambahkan bahwa para pelaku juga sempat mengunci pintu rumah dari luar, membuat istri dan anak-anaknya terperangkap di dalam. Ketakutan yang mencekam menyelimuti keluarga tersebut, dan hingga kini, trauma akibat kejadian itu masih membekas.
Motif di Balik Aksi Brutal
Yazid mengungkapkan bahwa ia mengenal salah satu pelaku yang diketahui bernama Heru. Motif di balik serangan ini ternyata berakar dari masalah pekerjaan. Yazid menjelaskan bahwa ada kerjasama proyek yang belum dituntaskan, di mana pihak Heru belum memberikan uang muka sebesar 50 persen dari batas waktu yang telah ditentukan.
“Karena masalah itu mereka datang melakukan intimidasi ke kami, tapi anak dan istri saya malah yang jadi korban,” sesal Yazid. Ia merasa sangat terpukul karena masalah profesional justru berdampak pada keselamatan dan ketenangan keluarganya.
Laporan Polisi dan Harapan Keadilan
Merasa tidak terima dan sangat resah, Yazid telah melaporkan kejadian ini ke Polres Metro Jakarta Timur. Ia berharap pihak kepolisian dapat segera menangkap para pelaku agar mereka diproses secara hukum dan tidak lagi meresahkan masyarakat.
“Karena kejadian ini sudah yang kedua kalinya, pertama mereka datang ke rumah dan bentak-bentak istri saya. Kemudian Kamis kemarin mereka datang sambil merusak barang-barang elektronik hingga kendaraan saya,” tandas Yazid, menjelaskan bahwa ini bukan kali pertama keluarganya mendapat ancaman.
Penjelasan Pihak Kepolisian
Menanggapi laporan tersebut, Kanit Reskrim Polsek Kramat Jati, AKP Fadoli, membenarkan bahwa pihaknya telah mendatangi lokasi kejadian setelah peristiwa tersebut dilaporkan. Istri korban melaporkan kejadian ini melalui call center 110, dan anggota kepolisian segera meluncur ke lokasi.
“Jadi masalahnya itu karena ada proyek di Bali, sudah dibayarkan tapi dugaannya tidak ada pengerjaan. Jadi si orang itu minta sisa uangnya dikembalikan saja,” terang AKP Fadoli kepada Warta Kota, Minggu.
Menurutnya, karena tuntutan pengembalian uang tidak dipenuhi meskipun sudah sering ditagih, terduga pelaku diduga menyewa jasa debt collector untuk menagih uang tersebut. AKP Fadoli memastikan bahwa tidak ada kontak fisik yang terjadi secara langsung pada saat itu, namun ia mengakui bahwa ketiga anak korban memang mengalami trauma pasca kejadian.
“Mereka masuk menyiram-nyiram saja, mobil rusak sepertinya ditendang itu. Kami sudah arahkan lapor ke Polsek tapi korban maunya lapor ke Polres Metro Jakarta Timur,” ungkapnya.
AKP Fadoli juga mengakui bahwa pihaknya telah beberapa kali menerima aduan melalui call center dari korban. Ia sempat menyarankan agar masalah pekerjaan diselesaikan secara profesional di kantor.
“Sempat bilang katanya mau diselesaikan di kantor, tapi ternyata belum selesai dan terus datangin rumah korban,” pungkasnya.
Kini, keluarga Yazid Mutaqin menanti keadilan dari pihak kepolisian, berharap pelaku segera ditangkap dan kasus ini dapat terselesaikan dengan baik, serta memberikan efek jera agar kejadian serupa tidak terulang kembali.














