Kesehatan

Psikologi Anak 5-12: Dari Main Hingga Aman

×

Psikologi Anak 5-12: Dari Main Hingga Aman

Sebarkan artikel ini

Memasuki usia emas 5 hingga 12 tahun, anak mengalami transformasi mendalam dalam kebutuhan psikologis mereka. Perubahan ini mencakup cara mereka belajar, berinteraksi dalam permainan, menjalin relasi sosial, hingga bagaimana mereka memahami diri sendiri. Psikolog Klinis Anak dan Keluarga, Ayank Irma, menekankan bahwa pada rentang usia ini, anak memerlukan stimulasi yang lebih kompleks seiring dengan perkembangan otak dan psikologis yang mencapai level lebih tinggi.

“Bermain itu berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan secara psikologisnya,” ungkap Ayank dalam sebuah acara pembukaan di Jakarta Selatan. Pernyataannya menegaskan bahwa bermain bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan elemen krusial dalam perkembangan anak usia sekolah.

Kebutuhan Kognitif: Otak Membutuhkan Tantangan

Salah satu kebutuhan psikologis paling mendasar bagi anak usia 5-12 tahun adalah stimulasi kognitif yang memadai. Perkembangan otak mereka, khususnya dalam hal fungsi eksekutif dan rasa ingin tahu, tengah berada pada puncaknya. “Karena perkembangan otaknya itu sudah mulai bertumbuh, fungsi eksekutifnya, rasa penasarannya mulai tinggi, mereka membutuhkan sesuatu yang lebih menantang, challenging sekali untuk perkembangan otaknya,” jelas Ayank.

Pada fase ini, aktivitas yang bersifat dasar tidak lagi mencukupi. Anak membutuhkan tantangan yang secara aktif mendorong kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Bermain, dalam konteks ini, bertransformasi dari sekadar mengisi waktu menjadi sebuah sarana penting untuk menstimulasi kemampuan berpikir yang lebih kompleks.

Bermain yang Bermakna: Lebih dari Sekadar Aktivitas

Ayank Irma juga menggarisbawahi bahwa makna bermain bagi anak usia 5-12 tahun berbeda secara signifikan dibandingkan saat mereka masih balita. “Mereka juga biasanya bermainnya itu sudah lebih punya arti, enggak cuma sekadar main aja, tapi mainnya itu meaningful,” ujarnya.

Baca Juga :  24 Dokter Magang Magelang Usulkan Perbaikan Layanan Lab dan Alat Kesehatan ke Walikota

Ini berarti anak mulai mencari aktivitas yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengalaman berharga, rasa pencapaian, dan keterlibatan emosional yang mendalam. Bermain menjadi bagian integral dari proses pembentukan identitas diri dan pemahaman mereka tentang dunia, bukan hanya sekadar aktivitas fisik semata.

Kebutuhan akan Koneksi dan Rasa Aman

Selain aspek kognitif, kebutuhan psikologis anak pada usia ini juga sangat erat kaitannya dengan hubungan sosial. Lingkaran pertemanan sebaya mulai memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan mereka. “Kebutuhan lain itu terkait dengan koneksi. Jadi kenapa teman sekarang itu menjadi hal yang penting sekali di usia-usia pre teen seperti ini, karena itu membentuk rasa aman sebetulnya, rasa terkoneksi dengan sebaya,” terang Ayank.

Melalui interaksi dan relasi dengan teman sebaya, anak belajar untuk merasa diterima, menemukan tempat mereka dalam kelompok, dan membangun rasa aman secara emosional. Koneksi ini menjadi fondasi yang krusial bagi perkembangan sosial mereka serta pembentukan kepercayaan diri yang kokoh.

Fase Industri dan Inferioritas: Membangun “Saya Bisa”

Pada rentang usia 5-12 tahun, yang seringkali disebut sebagai fase “big kids”, anak berada dalam tahapan perkembangan sosial-emosional yang krusial. Tahapan ini sangat menentukan cara pandang mereka terhadap diri sendiri. Ayank menjelaskan, “Kalau kita bicara yang terkait dengan sosial emosional, itu ada yang didapatkan sebagai industri sama inferiority.”

Baca Juga :  RSBP Batam Kini Miliki Layanan Aritmia dan Ablasi Jantung

Dalam fase ini, penanaman perasaan mampu atau “saya bisa” menjadi kebutuhan psikologis yang paling vital. Perasaan ini perlu distimulasi secara aktif melalui aktivitas yang dilakukan bersama, terutama dengan teman sebaya. Kegagalan dalam stimulasi ini berisiko membuat anak mengembangkan perasaan sebaliknya, yaitu inferior atau merasa tidak mampu.

“Kalau enggak distimulasi itu, maka muncul perasaan inferior. Saya enggak mampu, saya enggak bisa,” lanjutnya. Perasaan mampu inilah yang kemudian membentuk kompetensi diri. Dari kompetensi yang terbangun, anak belajar untuk mengembangkan kemandirian, rasa tanggung jawab, dan kemampuan untuk berinteraksi serta bekerja sama dalam kehidupan sehari-hari.

Imajinasi yang Berkembang: Kesiapan untuk Masyarakat

Ayank juga menyoroti pesatnya perkembangan imajinasi anak usia 5-12 tahun dan pentingnya memfasilitasinya secara tepat. “Di usia ini imajinasinya sudah mulai berkembang, maka mainnya perlu explore dengan lebih banyak lagi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kebutuhan bermain pada usia ini jauh berbeda dengan masa balita (toddler). “Waktu toddler kan fungsinya sensor motorik, foundation banget. Di usia ini levelnya langsung lebih tinggi,” kata Ayank.

Pada tahap ini, bermain tidak hanya berkaitan dengan stimulasi sensorik, melainkan juga dengan pemahaman intelektual, proses aktualisasi diri, hingga mempersiapkan anak untuk berintegrasi dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. “Karena nanti pemahaman intelektual, kemudian self aktualisasi, lalu juga terkait dengan kesiapan dia bermasyarakat,” tutupnya, menekankan peran vital bermain dalam mempersiapkan anak menghadapi dunia yang lebih luas.