Refleksi Akhir Tahun 2025: Menata Arah Pembangunan Bangsa di Tengah Tantangan Global
Pada penghujung tahun 2025, sebuah forum refleksi kebangsaan digelar di Jakarta, menghadirkan momen penting untuk menengok kembali perjalanan Indonesia sepanjang tahun tersebut dan merumuskan strategi demi masa depan yang lebih baik. Forum bertajuk “Refleksi Akhir Tahun 2025 untuk Membangun Masa Depan” ini diselenggarakan oleh Prasasti Center for Policy Studies dan BA Center di The Ritz-Carlton Pacific Place. Acara ini tidak hanya menjadi ajang evaluasi, tetapi juga ruang kontemplasi mendalam mengenai arah bangsa di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Prasasti Center for Policy Studies, sebuah lembaga think tank independen yang baru saja diluncurkan pada pertengahan tahun 2025, berupaya menghadirkan analisis kebijakan yang berwawasan ke depan. Lembaga ini didirikan oleh tokoh-tokoh terkemuka, termasuk Hashim Djojohadikusumo, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, dan Burhanuddin Abdullah, mantan Gubernur Bank Indonesia yang kini menjadi Board of Advisors Prasasti.
Acara ini diawali dengan pidato refleksi yang disampaikan oleh cendekiawan ternama, Yudi Latif, dengan tema sentral “Rekonstruksi Peradaban Indonesia.” Pembukaan forum diperkaya dengan pengantar dari Burhanuddin Abdullah, yang juga memegang peran penting sebagai Ketua Dewan Pembina BA Center. Suasana reflektif malam itu semakin terasa dengan pembacaan “Puisi-puisi untuk Negeri” oleh budayawan terkemuka, Taufiq Ismail.
Kepedulian Terhadap Bencana dan Semangat Gotong Royong
Forum renungan akhir tahun ini diselenggarakan dengan semangat keprihatinan yang mendalam, mengingat musibah banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di Indonesia, seperti Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Prasasti dan BA Center secara khusus mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat dalam membantu upaya penanggulangan dan pemulihan pasca bencana.
Burhanuddin Abdullah menyatakan, “Kami mengapresiasi semangat gotong royong dan kerja sama masyarakat yang muncul sebagai kekuatan sosial kita dalam berbangsa.” Ia menekankan bahwa sinergi antar elemen bangsa ini merupakan aset berharga yang perlu terus dipupuk.
Lebih lanjut, ia menyampaikan pesan krusial mengenai pengelolaan sumber daya alam. “Pemerintah perlu selalu menata kelola sumber daya alam secara bijaksana dan berkelanjutan, agar pembangunan tidak menimbulkan kerentanan dampak bencana di masa depan,” tegasnya. Pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab menjadi kunci untuk meminimalkan risiko bencana di kemudian hari dan memastikan pembangunan yang inklusif serta berkesinambungan.
Refleksi Perjalanan Kolektif dan Tantangan Masa Depan
Dalam pidato pengantarnya, Burhanuddin Abdullah menyoroti pentingnya jeda untuk merefleksikan perjalanan bangsa di tengah arus perubahan yang semakin cepat. Ia menggambarkan refleksi akhir tahun bukan sekadar ritual pribadi, melainkan sebuah mekanisme penting bagi bangsa untuk mengevaluasi, mengendapkan pemikiran, dan memahami secara mendalam setiap langkah yang telah diambil.
“Catatan perjalanan Indonesia dalam satu tahun terakhir patut diapresiasi. Berbagai langkah pembangunan yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, BUMN, UMKM, koperasi, dan masyarakat menunjukkan upaya bersama menuju perbaikan kualitas hidup,” ujarnya. Ia memberikan contoh konkret program pemenuhan gizi dan penguatan ekonomi desa, yang diharapkan dapat berkontribusi dalam membentuk generasi muda yang lebih sehat, tangkas, dan cerdas dalam jangka menengah hingga panjang.
Namun, Burhanuddin Abdullah tidak memungkiri bahwa perjalanan ke depan masih penuh tantangan. Ia mengingatkan bahwa sejumlah indikator menunjukkan Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Dalam Global Talent Competitiveness Index, posisi Indonesia mengalami penurunan dari peringkat 65 pada tahun 2020 menjadi 73 pada tahun 2024. Demikian pula, dalam Human Capital Index, capaian Indonesia baru mencapai 0,56, yang berarti seorang anak Indonesia saat ini baru berkembang hingga sekitar 56 persen dari potensi produktivitas maksimalnya di masa depan. Angka ini masih tertinggal jika dibandingkan dengan Malaysia dan Vietnam.
Kesenjangan Produktivitas dan Inovasi: Sebuah Jurang Peradaban
Perbandingan lebih lanjut menunjukkan jurang pemisah yang signifikan dalam aspek produktivitas tenaga kerja. Indonesia mencatat angka sekitar US$28.000 per pekerja, sebuah angka yang jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Singapura yang melampaui US$150.000, dan Malaysia yang berada di kisaran US$55.000. Kesenjangan ini juga sangat terasa pada aspek inovasi.
Data mengenai jumlah paten per satu juta penduduk menjadi bukti nyata. Indonesia hanya mencatat 84 paten dalam periode 2000–2023. Angka ini sangat kontras dengan Singapura yang mencapai lebih dari 22.000 paten, dan Korea Selatan yang bahkan melampaui 93.000 paten dalam periode yang sama.
“Ini bukan sekadar kesenjangan, tetapi jurang peradaban,” tegas Burhanuddin Abdullah dalam refleksinya. Ia berargumen bahwa situasi ini menuntut Indonesia untuk melakukan lompatan besar, bukan sekadar perbaikan bertahap.
Menyongsong Masa Depan dengan Lompatan Besar dan Nilai Kemanusiaan
Melalui forum refleksi akhir tahun ini, Prasasti Center for Policy Studies dan BA Center berharap agar evaluasi dan pemikiran yang terlahir dapat menjadi pijakan intelektual dan moral yang kuat bagi seluruh pemangku kepentingan. Diharapkan, momentum ini dapat mendorong keberanian untuk melakukan lompatan besar, menjaga konsistensi arah pembangunan, serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan sebagai pondasi utama peradaban Indonesia di masa depan.
Refleksi ini menjadi pengingat bahwa untuk bersaing di kancah global dan mencapai kesejahteraan yang merata, Indonesia perlu terus berinovasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan mengelola kekayaan alamnya secara lestari. Perjalanan masih panjang, namun dengan semangat kebersamaan dan visi yang jelas, Indonesia dapat melangkah maju menuju masa depan yang lebih gemilang.





