Bencana

Rob Mengancam Kota Global: Tenggelam di Ambang Mata

×

Rob Mengancam Kota Global: Tenggelam di Ambang Mata

Sebarkan artikel ini

Ancaman Tenggelam Mengintai Pesisir Jakarta: ROB Menggila Akibat Kombinasi Fenomena Alam dan Kerusakan Lingkungan

Gelombang rob atau banjir rob yang melanda pesisir Jakarta belakangan ini terasa semakin mengganas. Air laut yang meluap hingga melampaui ketinggian daratan, bahkan menembus tanggul beton, telah menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan. Rekaman video yang menunjukkan rembesan air laut ke kawasan permukiman elit dan genangan yang meluas di sejumlah jalan di Ancol pun viral di media sosial, memicu keprihatinan publik akan ancaman nyata tenggelamnya kota.

Peran Perige dan Supermoon dalam Peningkatan Rob

Para ahli meteorologi maritim telah mengonfirmasi bahwa fenomena astronomi menjadi salah satu pemicu utama tingginya intensitas rob. Eko Prasetyo, Direktur Meteorologi Maritim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menjelaskan bahwa faktor utama adalah jarak bumi dan bulan yang mencapai titik terdekatnya, yang dikenal sebagai perige. “Ketinggian air laut maksimum akan meningkat di sejumlah lokasi saat perige,” ujar Eko.

Dampak dari fenomena supermoon terbesar kedua tahun ini, yang terjadi pada awal Desember lalu, masih terus terasa di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Air laut tidak hanya berhasil menembus dan meloncati tanggul-tanggul pertahanan, tetapi juga merangsek masuk ke daratan dengan membanjiri sistem sungai yang ada.

Amblesnya Tanah: Faktor Kritis yang Sering Terabaikan

Namun, di balik tingginya gelombang pasang, muncul peringatan penting dari kelompok Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Mereka menekankan bahwa penurunan muka tanah atau amblesnya daratan, khususnya di Jakarta, memainkan peran krusial dalam memperparah masalah banjir rob. Amblesnya tanah ini bukan fenomena alam semata, melainkan akibat dari eksploitasi ruang yang berlebihan, pembangunan tata kota yang tidak terencana dengan baik, serta pembiaran terhadap ekstraksi air tanah secara masif.

Laporan terbaru dari World Economic Forum (WEF) yang diterbitkan pada November lalu, semakin menyoroti isu penurunan muka tanah perkotaan sebagai tantangan global yang sayangnya masih kurang mendapatkan perhatian serius. Laporan berjudul ‘Resilient Economies: Strategies for Sinking Cities and Flood Risks’ ini secara tegas menyatakan, “Laporan ini menunjukkan bahwa penurunan tanah dapat mengancam kesejahteraan dan kelayakhunian kota-kota di seluruh dunia.”

Pemicu Amblesnya Tanah: Aktivitas Manusia yang Tak Berkelanjutan

Dalam laporan setebal 49 halaman tersebut, dijelaskan secara rinci bahwa penurunan tanah sebagian besar dipicu oleh perilaku manusia yang tidak berkelanjutan. Mulai dari pengambilan air tanah yang berlebihan untuk memenuhi kebutuhan industri dan domestik, hingga urbanisasi yang pesat tanpa disertai perencanaan tata ruang yang memadai. Tekanan dari aktivitas ini secara signifikan meningkatkan risiko banjir, merusak infrastruktur vital, dan bahkan memaksa perpindahan penduduk.

Baca Juga :  Jadwal Final Denmark Open 2025 - Fajar/Fikri Siap Juara, Jonatan Christie Berambisi Taklukkan Shi Yu Qi

WEF memperingatkan, “Ketika dikombinasikan dengan kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem, penurunan tanah dapat mengubah risiko yang semula dapat dikelola menjadi ancaman eksistensial bagi dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat.” Skala fenomena kota yang tenggelam ini sangat besar dan dampaknya terasa tidak merata di berbagai wilayah. Secara global, diperkirakan sekitar 6,3 juta kilometer persegi daratan mengalami penurunan tanah, sebuah luas yang setara dengan gabungan luas India, Argentina, dan Jepang. Fenomena ini berpotensi berdampak pada sekitar dua miliar penduduk dunia.

Kenaikan Permukaan Laut Semakin Memperburuk Situasi

Masalah penurunan muka tanah ini semakin diperparah oleh percepatan kenaikan permukaan laut global. Data menunjukkan bahwa dalam tiga dekade terakhir, laju kenaikan permukaan laut global telah meningkat lebih dari dua kali lipat, mencapai sekitar 3,3 milimeter per tahun. Proyeksi ke depan pun tidak kalah mengkhawatirkan, di mana permukaan laut diperkirakan dapat naik hingga 16,9 sentimeter dalam kurun waktu 30 tahun ke depan.

Di beberapa kota pesisir, laju penurunan tanah bahkan melampaui laju kenaikan permukaan laut, yang secara dramatis memperbesar risiko banjir dan kerusakan infrastruktur.

Kota-kota di Indonesia dan Dunia yang Terancam Tenggelam

Laporan WEF menggarisbawahi bahwa amblesnya tanah daratan tidak terjadi secara merata. Analisis terhadap 99 kota pesisir yang menggunakan data dari tahun 2015 hingga 2020 mengungkapkan bahwa 33 kota di antaranya mengalami penurunan tanah dengan laju yang setara hingga lima kali lebih cepat dibandingkan kenaikan muka laut global.

  • Shanghai, Tiongkok: Beberapa area di kota ini tercatat mengalami penurunan tanah dengan laju mencapai 10 milimeter per tahun.
  • Asia Selatan, Tenggara, dan Timur: Laju penurunan tanah tercepat banyak ditemukan di kota-kota yang berada di wilayah-wilayah ini.

Dalam beberapa kasus ekstrem, penurunan tanah di area tertentu sebuah kota bisa mencapai 10 hingga 20 kali lebih cepat dibandingkan kenaikan muka lautnya. Kondisi ini tercatat di beberapa kota besar, termasuk:

  • Tianjin, Tiongkok: Mengalami penurunan tanah yang signifikan, memperbesar risiko banjir.
  • Semarang, Indonesia: Dikenal sebagai salah satu kota di Indonesia yang mengalami penurunan muka tanah parah, dengan laju penurunan sekitar 60–120 milimeter per tahun.
  • Jakarta, Indonesia: Khususnya di pesisir barat laut Jakarta, laju penurunan tanah dilaporkan mencapai hingga 280 milimeter (hampir 0,3 meter) per tahun. Kondisi ini menjadikan Jakarta sangat rentan terhadap rob.
Baca Juga :  Pria di Tanah Abang Diduga Bunuh Diri dengan Tabrak Mobil, Ini Penjelasan Polisi

Fenomena sinking city atau kota tenggelam ini tidak hanya menjadi masalah di benua Asia. Di Amerika Serikat, data satelit resolusi tinggi dari periode 2015–2021 menunjukkan bahwa sekitar 20 persen wilayah perkotaan di 28 kota mengalami penurunan tanah. Fenomena ini berpotensi mempengaruhi sekitar 34 juta orang, atau sekitar 12 persen dari total populasi nasional.

Beberapa kota di Amerika Serikat yang terdampak parah meliputi:

  • Houston, Dallas, Fort Worth, Chicago, New York, dan Detroit: Lebih dari 70 persen wilayah di kota-kota ini tercatat terdampak penurunan tanah. Sejak tahun 2000, lebih dari 90 kejadian banjir dilaporkan terjadi di delapan kota di AS dengan laju penurunan tanah di atas 3 milimeter per tahun. Sekitar 29 ribu bangunan diklasifikasikan berisiko tinggi hingga sangat tinggi akibat fenomena ini.

Kota-kota lain di berbagai belahan dunia juga mencatat angka yang mengkhawatirkan:

  • Mexico City, Meksiko: Tercatat mengalami penurunan tanah sekitar 350–450 milimeter per tahun, menjadikannya salah satu yang terparah di dunia.
  • San Joaquin Valley, Amerika Serikat: Mencatat penurunan tanah sekitar 150–300 milimeter per tahun.
  • Iran: Rafsanjan Plain mengalami penurunan hingga 300 milimeter per tahun, sementara Teheran berkisar 50–250 milimeter per tahun.
  • Asia Tenggara: Ho Chi Minh City (Vietnam) dengan 40–70 milimeter per tahun, Bangkok (Thailand) dengan 9–30 milimeter per tahun, dan Yangon (Myanmar) dengan 10–110 milimeter per tahun juga masuk dalam daftar wilayah yang terdampak.
  • Afrika: Lagos (Nigeria) mencatat penurunan antara 2–87 milimeter per tahun.
  • Tiongkok: Beijing menunjukkan penurunan antara 15–138,5 milimeter per tahun.

Ancaman tenggelam ini menuntut perhatian serius dan tindakan nyata dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pengembang, hingga masyarakat, untuk mengatasi akar permasalahan penurunan muka tanah dan adaptasi terhadap kenaikan permukaan laut.