Berita

Rupiah Melemah ke Rp16.603, Tekanan Tensi Dagang dan Kebijakan The Fed

×

Rupiah Melemah ke Rp16.603, Tekanan Tensi Dagang dan Kebijakan The Fed

Sebarkan artikel ini

Rupiah Mengalami Tekanan di Tengah Ketegangan Dagang AS-China

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan hari ini, Rabu (15/10/2025). Rupiah tercatat melemah sebesar 0,18% ke posisi Rp16.603 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi dagang antara Amerika Serikat dan China serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter terbaru dari The Fed.

Menurut data Bloomberg, indeks dolar AS naik sebesar 0,13% menjadi 99,39. Hal ini menunjukkan bahwa dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama di Asia. Sejumlah mata uang Asia juga ikut tertekan dalam situasi ini, seperti dolar Taiwan yang turun 0,22%, won Korea Selatan melemah 0,58%, rupee India turun 0,18%, yuan China melemah 0,14%, ringgit Malaysia melemah 0,05%, dan baht Thailand terdepresiasi 0,44%.

Namun, ada juga mata uang Asia yang berhasil menguat, seperti yen Jepang yang terapresiasi 0,13% dan dolar Hong Kong yang naik tipis 0,06% terhadap dolar AS.

Perkembangan Tensi Dagang AS-China

Chief market strategist Bannockburn Capital Markets, Marc Chandler, menyatakan bahwa pasar awalnya menganggap tensi dagang AS-China semakin panas. Namun, kondisi sebenarnya tidak separah yang diperkirakan. Sementara itu, Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa data ketenagakerjaan AS pada September menunjukkan performa ekonomi yang lebih kuat dari ekspektasi pasar.

Baca Juga :  Perkuat Jaminan Sosial, BPJS Ketenagakerjaan berkolaborasi dengan Pemprov NTT

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah akan cenderung fluktuatif sepanjang hari dengan potensi pelemahan di kisaran Rp16.600 hingga Rp16.650 per dolar AS. Menurutnya, faktor utama pelemahan rupiah berasal dari sentimen global, khususnya perkembangan perang tarif antara AS dan China yang masih menjadi perhatian pasar.

Persiapan Pertemuan Antara AS dan China

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan akhir bulan ini untuk membahas kelanjutan negosiasi perdagangan. Selain itu, pasar global juga tengah menunggu sinyal kebijakan moneter dari The Fed, terutama pernyataan Jerome Powell pada pertemuan tahunan Asosiasi Ekonomi Bisnis Nasional di Philadelphia.

Baca Juga :  Jadwal Persib Bandung vs Selangor FA, Bojan Hodak Menghadapi Tantangan Berat

Kondisi Ekonomi Dalam Negeri

Dari dalam negeri, sentimen pasar sebenarnya masih cukup positif terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai tangguh di tengah tekanan global. Perekonomian nasional menunjukkan pertumbuhan stabil, inflasi terkendali, serta kinerja ekspor yang mulai membaik seiring tren pelonggaran suku bunga global.

Dana Moneter Internasional (IMF) juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia, yang kini diperkirakan tumbuh 4,8% pada 2025, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,7%. Optimisme ini memberi harapan bahwa meski rupiah tertekan dalam jangka pendek, fundamental ekonomi Indonesia yang kuat dapat menjadi bantalan penting menghadapi gejolak global.

Pergerakan Rupiah yang Dinamis

Dengan kombinasi faktor eksternal seperti tensi dagang AS-China dan arah kebijakan The Fed, serta faktor domestik yang cukup solid, pergerakan rupiah ke depan diperkirakan masih akan dinamis. Pelaku pasar pun disarankan terus memantau perkembangan global agar dapat merespons perubahan arah pasar dengan cepat dan tepat.