Alreinamedia.com Batam. (16/12/17). H.Muhammad Rudi, SE, MM, membuka Seminar dan Workshop Basic Life Support (BLS)/Bantuan Hidup Dasar (BHD), di Auditorium Bapelkes Batam, (16/12) tepat Pukul 08.30 WIB. Pada kesempatan ini, Walikota sekaligus mencanangkan “Kota Batam sebagai Kota Ramah dan mampu BLS/BHD”, apabila dilihat dari informasi yang diperoleh, Kota Batam sebagi Kota ke-2 di Indonesia setelah Kota Surabaya, yang mencanangkan BLS ini. Hadir sebagai pembicara pada seminar:
Prof. Dr. Rashidi Ahmad, dari Faculty of Medicine Dean, University of Malaya, Kuala Lumpur Malaysia, yang berbicara tentang Emergency Care
dr. Afdhalun Hakim, Sp.JP., FIHA, FasCC Spesialis Jantung&Pembuluh Darah – RSOB Batam, berbicara tentang Penyakit Jantung Koroner, Henti Jantung dan Pertolongan Pertama untuk Masyarakat Awam
Adil Chandra, S.Kep.Ners.M.Kep. Dosen
Poltekkes Kemenkes RI Tanjungpinang, berbicara tentang Langkah-langkah Basic Life Support (BLS) termasuk pernapasan buatan, kompresi dada dan penggunaan Adil Chandra, S.Kep.Ners.M.Kep.
dr. Desy Ariani Gultom, M.Biomed., Bapelkes Batam Kemenkes RI, berbicara tentang Pengenalan dan pertolongan apabila tersedak (choking)
Selain itu sosialisasi dalam Rangka Hari AIDS Se-Dunia, hadir sebagai pembicara Dr. Danang Legowo, Sp.PD, RS Budi Kemuliaan Batam berbicara tentang AIDS: Fakta, Upaya Pencegahan dan kiat hidup bersama ODHA.
Latar Belakang diselenggarakan seminar dan workshop ini adalah dalam rangka Clossing Ceremony Peringatan Hari Kesehatan Nasioanl ke-53 Tahun 2017, Hari AIDS se-Dunia dan Hari Jadi Kota Batam ke 188.
Peserta seminar dan worshop ini, adalah:
Masyarakat Umum
Perawat umum,
Perawat ambulan,
Perawat UGD,
Perawat ICU,
Bidan
Apoteker/Asisten Apoteker
Dokter/drg.
Dokter/drg. spesialis,
Paramedis
Pegawai/Karyawan Perusahaan
Yang berasal dari Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik Kesehatan, Apotek, Universitas, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes), sekolah umum, dll.
Panitia, Seminar dan Workshop BLS/BHD, drg. Juanna Soehardy, MARS
Latar Belakang penyelenggaraan Seminar dan Worshop
Perlunya Basic Life Support (Bantuan Hidup Dasar/BHD)
Serangan jantung terjadi ketika suplai darah ke jantung tersumbat, biasanya oleh gumpalan darah. Orang tidak selalu merasa sakit di dada ketika kondisi ini terjadi. Alhasil, mereka telat ditolong. Bahkan, gejala menengah serangan jantung kerap dianggap sebagai masalah pencernaan. Pasien baru tahu ketika dilakukan pemeriksaan di rumah sakit dan sudah ada kerusakan di jantung.
Kondisi seperti ini kerap disebut sebagai ‘serangan jantung hening’. Sebuah penelitian pada 2016 memperlihatkan bahwa 45% serangan jantung adalah tipe hening ini.
Data riset tersebut dikumpulkan pada akhir 1990an, dan sejak itu kualitas diagnosa terhadap serangan jantung sudah jauh lebih maju. Sehingga bisa jadi angkanya sekarang tidak lagi sebesar kala itu. Namun, setiap tahunnya selalu saja ada orang yang tidak tahu kalau mereka sedang serangan jantung.
Ada juga pasien yang tahu mereka sedang sakit, tapi tidak tahu kalau mereka sakit jantung. Mereka merasakan sakit di rahang, leher, tangan, punggung, sesak nafas atau pusing-pusing. Mereka juga kadang berkeringat dan muntah. Kombinasi gejala ini kadang jarang untuk cepat diketahui sebagai serangan jantung.
Banyak yang menyebut kalau serangan jantung tanpa rasa sakit di dada, lebih sering dialami perempuan. Hal ini berakibat telatnya pertolongan dan rendahnya angka peluang hidup bagi perempuan yang mengalami serangan jantung.
Untuk memastikan hal ini, peneliti di Kanada pada tahun 2009 melakukan penelitian pada 305 pasien yang menjalani angioplasty. Ini adalah prosedur di mana pembuluh darah yang tersumbat, kembali dibuka dengan meniupkan balon kecil di dalamnya.
Hasil, pada 2011 dilakukanlah penelitian yang benar-benar ‘saklek’ untuk mencari tahu apakah ada perbedaan gejala serangan jantung pada laki-laki dan perempuan.
Studi pun dilakukan di Amerika Serikat, Jepang, Swedia, Jerman, Inggris dan Kanada, melibatkan lebih 900.000 orang. Sebanyak 26 data terbaik pun dirangkum dan dianalisa.
Mereka menyimpulkan bahwa perempuan lebih jarang merasakan sakit di dada saat serangan jantung. Dibandingkan laki-laki, perempuan juga lebih sering mengalami gejala kelelahan, pusing, pingsan, sakit di leher, rahang dan tangan, saat mengalami serangan jantung.
Lebih jauh lagi, sepertiga perempuan dan hanya sekitar seperempat laki-laki mengalami serangan jantung tanpa gejala sakit di dada, sehingga mereka jarang menduga kalau kondisi buruk sedang terjadi.
Tak banyak orang tahu cara menghadapi kasus gawat darurat
seperti serangan jantung. Akibatnya serangan jantung sering berakhir
dengan kematian. Padahal, dengan pertolongan dasar, nyawa penderita bisa diselamatkan.
Caranya dengan melakukan basic life support (BLS). Karena itu, ratusan orang mengetahui BLS.
Menurut salah satu pelatih BLS terkenal Prof Eddy Rahardjo SpAn KIC: ”Menyelamatkan orang bukan hanya tugas dokter. Masyarakat juga bisa berperan,”
Beliau menyatakan bahwa menemukan seseorang yang tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri, orang terdekat adalah harapan satu-satunya. Agar bisa mempertahankan hidup si korban, siapa pun diharapkan memiliki kemampuan pertolongan dasar.
Langkah melakukan BLS cukup mudah. Tidak perlu menunggu dokter. Caranya, pijat jantung dengan kuat. Hitungannya 100 kali per menit. Tangan ditempatkan di tengah dada.
”Segera pijat, jangan pakai lama. Lama pijat tidak ada batasan, sampai jantung berdenyut lagi,” ucap Eddy.
BLS terbukti bisa mencegah kematian dini. Dia mencontohkan kasus di Norwegia. Seorang balita bisa diselamatkan meski sudah 30 menit tenggelam. Tindakan itu bisa dilakukan pada semua kasus gawat darurat.
Misalnya, serangan jantung, stroke, alergi berat, tersedak, tenggelam, dan tersengat listrik. Nah, selama BLS dilakukan, pihak rumah sakit harus tetap dihubungi. Tujuannya, ada perawatan lebih lanjut.
Di sisi lain, Dr dr Yudi Her Oktaviono SpJP (K) FIHA menyatakan, kasus kematian dengan korban tidak sadarkan diri lebih sering disebabkan jantung koroner. Yakni, mencapai 80 persen. Sebagai langkah pertolongan, BLS harus segera dilakukan.
(Dari berbagai sumber).
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dengan seminar dan worshop BLS yang diselenggarakan oleh Panitia HKN ini, berharap Batam bisa menjadi kota ramah dan mampu BLS.
Tujuan Seminar dan Workshop BLS
Mengenali gejala-gejala serangan jantung (cardiac arrest)
Rantai keselamatan (chain of survival)
Langkah-langkah Basic Life Support (BLS) termasuk pernapasan buatan, kompresi dada dan penggunaan defibrilator
Pengenalan dan pertolongan apabila tersedak (choking)
Perawatan anak dalam keadaan tidak sadar
Peringatan Hari AIDS Sedunia, Sejarah dan Fakta tentang AIDS
Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember setiap tahunnya, bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.
Konsep ini digagas pada Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia mengenai Program-program untuk Pencegahan AIDS pada tahun 1988. Sejak saat itu, ia mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia.
Sejarah Penyakit AIDS, yang disebabkan oleh infeksi virus HIV, sebenarnya telah dikenal publik sejak Tahun 1981. Ketika itu, walaupun asal-usul HIV terletak di Afrika, Amerika Serikatlah yang pertama kali menyadarkan publik kalau ada penyakit baru yang menyerang sistem kekebalan tubuh penderitanya dan penyebarannya sangat cepat. Namun peringatan Hari AIDS Sedunia sendiri, baru dikampanyekan mulai Tahun 1988.
Ide tersebut pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Jenewa, Swiss. Bunn dan Netter menyampaikan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann, Direktur Program AIDS Global (kini dikenal sebagai UNAIDS). Dr. Mann menyukai konsepnya, menyetujuinya, dan sepakat dengan rekomendasi bahwa peringatan pertama Hari AIDS Sedunia akan diselenggarakan pada 1 Desember 1988.
Bunn menyarankan tanggal 1 Desember untuk memastikan liputan oleh media berita barat, sesuatu yang diyakininya sangat penting untuk keberhasilan Hari AIDS Sedunia. Ia merasa bahwa karena 1988 adalah tahun pemilihan umum di AS, penerbitan media akan kelelahan dengan liputan pasca-pemilu mereka dan bersemangat untuk mencari cerita baru untuk mereka liput. Bunn dan Netter merasa bahwa 1 Desember cukup lama setelah pemilu dan cukup dekat dengan libur Natal sehingga, pada dasarnya, tanggal itu adalah tanggal mati dalam kalender berita dan dengan demikian waktu yang tepat untuk Hari AIDS Sedunia.
Semenjak itulah, Tanggal 1 Desember dikampanyekan sebagai Hari AIDS Sedunia. pada Tahun 1996, Program Bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) mulai bekerja dan mengambil alih perencanaan dan promosi Hari AIDS Sedunia.
Badan baru ini tidak hanya memusatkan perhatian pada satu hari saja, tetapi juga menciptakan Kampanye AIDS Sedunia pada 1997 untuk melakukan komunikasi, pencegahan dan pendidikan sepanjang tahun. Sejak dibentuknya hingga 2004, UNAIDS memimpin kampanye Hari AIDS Sedunia, memilih tema-tema tahunan melalui konsultasi dengan organisasi-organisasi kesehatan global lainnya. Dan pada Tahun 2004, Kampanye AIDS Sedunia menjadi organisasi independen.
Fakta mengenai AIDS
HIV terus menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang utama, telah menelan lebih dari 34 juta jiwa sejauh ini. Pada tahun 2014, sekitar 1,2 [1-1,5] juta orang meninggal karena penyebab terkait HIV secara global.
Ada sekitar 36,9 [34,3-41,4] juta orang yang hidup dengan HIV pada akhir 2014 dengan sekitar 2 [1,9-2,2] juta orang menjadi baru terinfeksi HIV pada tahun 2014 secara global.
Sub-Sahara Afrika adalah wilayah yang paling terkena dampak, dengan 25,8 [24-28,7] juta orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2014. Sub-Sahara Afrika juga menyumbang hampir 70% dari total global infeksi HIV baru.
Infeksi HIV sering didiagnosis melalui tes diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test/RDT), yang mendeteksi ada atau tidak adanya antibodi HIV. Paling sering tes ini memberikan hasil pada hari yang sama; penting untuk diagnosis hari yang sama dan pengobatan dini dan perawatan.
Tidak ada obat untuk infeksi HIV. Namun, pengobatan yang efektif dengan antiretroviral (ARV) dapat mengendalikan virus sehingga orang dengan HIV dapat menikmati hidup yang sehat dan produktif.
Diperkirakan saat ini hanya 51% dari orang dengan HIV mengetahui status mereka. Pada tahun 2014, sekitar 150 juta anak-anak dan orang dewasa di 129 negara berpenghasilan rendah dan menengah menerima layanan tes HIV.
Pada tahun 2014, sekitar 14,9 juta orang yang hidup dengan HIV menerima terapi antiretroviral (Anti Retroviral Therapy/ART) secara global, yang 13,5 juta yang menerima ART di negara berpenghasilan rendah dan menengah. The 14,9 juta orang pada ART mewakili 40% [37-45%] dari orang yang hidup dengan HIV secara global.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka bersamaan dengan seminar dan worshop BLS yang diselenggarakan oleh Panitia HKN ini, perlu dilakukan peringatan Hari AIDS se Dunia, untuk meningkatkan kewaspadaan kita terhadap bahaya AIDS serta memberikan pemahaman kita terhadap bahaya AIDS dan upaya penanggulangannya.
Peringatan Hari AIDS se-Dunia Tahun 2017
Hak atas kesehatan adalah hak setiap orang untuk menikmati standar tertinggi atas kesehatan fisik dan mentalnya, sebagaimana tercantum dalam International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights tahun 1966. Termasuk di dalamnya, hak bagi Orang dengan HIV & AIDS (ODHA) untuk mendapatkan pencegahan dan pengobatan atas penyakitnya, untuk membuat keputusan atas kesehatannya dan untuk diperlakukan dengan hormat dan bermartabat dan tanpa diskriminasi.
Setiap orang, terlepas dari siapa mereka atau dimana mereka tinggal, memiliki hak untuk sehat. Mereka juga berhak untuk mendapatkan sanitasi yang memadai, lingkungan tempat tinggal yang layak, makanan yang bergizi, lingkungan kerja yang sehat dan akses untuk mendapatkan keadilan.
Hak untuk sehat didukung dan dikaitkan dengan hak-hak lain yang lebih luas. Misalnya, tanpa kondisi untuk mendapatkan keadilan, lingkungan yang bersih, terbebas dari kekerasan atau mendapatkan pendidikan, kita tidak bisa memenuhi hak kita untuk sehat.
Mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat hanya bisa terjadi jika hak-hak ini ditempatkan di pusat kesehatan global. Sehingga perawatan kesehatan yang berkualitas tersedia dan mudah diakses oleh semua orang tanpa terkecuali.
Kampanye #myrighttohealth
Tahun ini, kampanye Hari AIDS Sedunia akan berfokus kepada hak untuk sehat.
Paringatan Hari AIDS dilaksanakan dalam rangka ampanye #myrighttohealth akan mengeksplorasi tantangan yang dihadapi orang-orang di seluruh dunia dalam memenuhi hak kesehatan mereka.
Kampanye #myrighttohealth akan memberikan informasi tentang hak atas kesehatan dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Kampanye ini juga bertujuan untuk meningkatkan visibilitas seputar kebutuhan seseorang untuk merealisasikan hak atas kesehatannya dimanapun.
Hampir semua SDGs berbuhungan dengan kesehatan. Sehingga untuk mencapai SDGs termasuk mengakhiri epidemi AIDS akan sangat bergantung pada memastikan hak atas kesehatan.
Editor : Red, wartawan Ramadan. Nasution.
















