Sriwijaya FC Semakin Terpuruk di Dasar Klasemen, Ancaman Degradasi Mengintai
Posisi Sriwijaya FC di Liga Championship musim 2025/26 kian memprihatinkan. Kekalahan terbaru dari PSMS Medan pada pekan ke-13 semakin memperdalam jurang yang memisahkan tim berjuluk Elang Andalas ini dari zona aman. Dengan hanya mengumpulkan dua poin, Sriwijaya FC kini terdampar di dasar klasemen, menghadapi kenyataan pahit potensi degradasi ke kompetisi yang lebih rendah.
Situasi ini diperparah dengan hasil mengejutkan dari tim lain. Persekat Tegal berhasil meraih kemenangan tipis 1-0 atas Adhyaksa FC. Raihan tiga poin tersebut membawa Persekat Tegal mengoleksi total 13 poin, menempatkan mereka di peringkat ke-9 klasemen. Perbedaan 11 poin antara Persekat Tegal dan Sriwijaya FC menjadi gambaran betapa beratnya tugas yang diemban oleh Laskar Wong Kito untuk tetap bertahan di kasta tertinggi sepak bola profesional Indonesia.
Kendala Finansial yang Membatasi Kekuatan Tim
Akar permasalahan Sriwijaya FC tampaknya terletak pada kendala finansial yang terus menghantui klub. Keterbatasan dana memaksa tim untuk beroperasi dengan skuad seadanya, bahkan seringkali harus menurunkan pemain yang tidak dalam kondisi optimal. Hal ini berdampak langsung pada kedalaman tim yang menjadi tidak seimbang, membuat strategi permainan sulit untuk diubah atau diadaptasi sesuai kebutuhan pertandingan.
Pelatih Sriwijaya FC, Budi Sudarsono, secara terbuka mengakui bahwa kondisi tim saat ini jauh dari ideal. Prioritas utamanya saat ini adalah memastikan tim tetap dapat berpartisipasi dalam setiap pertandingan, terlepas dari kualitas skuad yang ada.
“Kalau saya sih yang penting tidak WO sajalah, bagaimanapun main yang penting di lapangan ada 11 pemain,” ujar Budi Sudarsono dalam sesi konferensi pers usai pertandingan, Sabtu (28/12/2025). Pernyataan ini menggarisbawahi betapa gentingnya situasi yang dihadapi tim, di mana sekadar hadir di lapangan sudah menjadi sebuah pencapaian.
Sebagai mantan pemain yang memiliki ikatan emosional dengan Sriwijaya FC, Budi Sudarsono merasa prihatin melihat klub kesayangannya kembali harus menghadapi masalah finansial yang berujung pada hilangnya sejumlah pemain.
Perjuangan di Lapangan dengan Skuad Terbatas
Meskipun dihadapkan pada keterbatasan pemain, Sriwijaya FC masih menunjukkan semangat juang di lapangan. Lini depan tim, yang diperkuat oleh Fiwi Dwipan, Sutan Zico, dan Nadhif Girosta, kerap kali mampu memberikan perlawanan. Namun, di lini tengah, Farhan Rahman harus memikul beban ganda, berperan sebagai gelandang bertahan sekaligus penyerang akibat minimnya opsi pemain yang tersedia.
Ketidakseimbangan kedalaman skuad menjadi hambatan besar ketika Sriwijaya FC harus menghadapi tim-tim yang memiliki persiapan lebih matang dan skuad yang lebih komplit. Kesalahan umpan yang sering terjadi juga semakin mempersulit Elang Andalas dalam membongkar pertahanan lawan.
“PR kita sebenarnya banyak sekali. Kita hanya punya enam pemain cadangan, dua kiper dan empat pemain. Kalau mau mengubah strategi, pilihan kita sangat terbatas,” jelas Budi Sudarsono. Ia menambahkan bahwa pemain yang ada di lini pertahanan sebenarnya memiliki potensi, namun membutuhkan latihan yang lebih intensif serta dukungan fasilitas dan finansial yang memadai untuk dapat berkembang secara maksimal.
Harapan Penggemar: Pembenahan Manajemen dan Bursa Transfer
Menanggapi situasi yang kian pelik ini, para pendukung setia Sriwijaya FC menyuarakan harapan besar agar manajemen segera melakukan pembenahan. Eki, seorang penggemar Sriwijaya FC yang telah mendukung tim sejak tahun 2004, menekankan pentingnya perbaikan di tubuh manajemen, terutama menjelang dibukanya bursa transfer pemain.
“Kita berharap ada solusi dengan mendatangkan pemain yang bagus. Pelatih sudah oke, tinggal menunggu pemain yang akan didatangkan manajemen,” tuturnya. Harapan ini mencerminkan keyakinan para suporter bahwa dengan dukungan finansial yang memadai dan rekrutmen pemain yang tepat, Sriwijaya FC masih memiliki peluang untuk bangkit dari keterpurukan dan menghindari jurang degradasi. Keberhasilan tim di masa lalu menjadi bukti bahwa potensi untuk berprestasi selalu ada, asalkan fondasi manajemen yang kuat dan dukungan yang berkelanjutan dapat terwujud.















