Berita

Taiwan Menolak Permintaan AS, Fokus pada Produksi Chipset

×

Taiwan Menolak Permintaan AS, Fokus pada Produksi Chipset

Sebarkan artikel ini

Taiwan Menolak Permintaan AS untuk Membagi Kapasitas Produksi Chip

Wakil Perdana Menteri Taiwan, Cheng Li-chiun, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengalihkan sebagian kapasitas produksi chip ke Amerika Serikat (AS). Pernyataan ini disampaikan setelah kembali dari misi negosiasi tarif impor dari AS pekan ini. Ia menyatakan bahwa tim negosiasi Taiwan tidak pernah berkomitmen untuk membagi produksi chipset secara 50:50 dengan AS.

“Publik bisa tenang karena kami tidak pernah berkomitmen untuk hal itu,” ujarnya. Penolakan ini muncul setelah US Secretary of Commerce, Howard Lutnick, meminta Taiwan membagi kapasitas produksi chipset secara seimbang antara Taiwan dan AS. Permintaan tersebut disampaikan dalam sebuah wawancara bersama media News Nation.

Lutnick juga menyebut konsep “Silicon Shield”, yang merujuk pada dominasi Taiwan dalam industri semikonduktor global. Konsep ini sering dikaitkan dengan posisi tawar Taiwan di kancah global, terutama dalam menjaga keamanan negara terkait dinamika geopolitik dengan China. Jika keamanan Taiwan terjaga, maka suplai chip dunia juga akan stabil.

Menurut Lutnick, AS membutuhkan 50 persen produksi chip untuk melindungi Taiwan. Ia mengatakan, “Jika Anda punya 95 persen, bagaimana saya bisa mendapatkannya untuk melindungi Anda?” Ia juga menyiratkan bahwa jika AS memiliki setengah dari produksi, maka mereka akan memiliki kemampuan untuk melakukan apa yang diperlukan, termasuk jika diperlukan untuk menghadapi ancaman dari China.

Baca Juga :  Pidato di Sidang Umum PBB, Presiden Jokowi Sampaikan Pandangan Soal Pandemi hingga Perdamaian Dunia

Permintaan ini memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat Taiwan dan meningkatkan ketegangan antara Taiwan dan AS. Hubungan antara China, Taiwan, dan AS sangat kompleks. Beijing tetap menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Taiwan menegaskan kedaulatannya dan menolak status sebagai bagian dari RRC.

Ketegangan antara dua negara ini kini sedang menghangat, terutama karena ambisi Presiden Xi Jinping untuk membawa Taiwan di bawah kendali China, bahkan jika harus menggunakan kekuatan. Di sisi lain, meskipun AS tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan, mereka memiliki kemitraan dagang yang cukup erat, terutama dalam suplai produk semikonduktor. AS juga sering disebut sebagai pendukung Taiwan.

Respons Politisi Taiwan

Belum jelas apakah negosiasi antara AS-Taiwan melibatkan TSMC atau tidak. Yang pasti, penolakan tidak hanya datang dari Cheng Li-chiun. Pejabat lain, seperti legislator dari partai oposisi Kuomintang (KMT), juga mengecam tuntutan AS. Ia menilai permintaan AS merupakan bentuk perampasan, bukan kerja sama.

“Jika AS memaksakan pembagian kapasitas produksi chip TSMC, efektivitas ‘Silicon Shield’ akan melemah dan pengaruh keamanan strategis Taiwan akan hilang sepenuhnya,” kata Yu-Chen. Ia menambahkan bahwa Taiwan membutuhkan sekutu, namun bukan sekutu yang hanya peduli dengan keamanan negaranya sendiri, sementara mengabaikan Taiwan.

Baca Juga :  Pembekalan Pertama Kabinet Merah Putih di Akmil: Olahraga dan Arahan Presiden Prabowo

Taiwan merasa AS terlalu banyak menuntut. Pada tahun 2020, TSMC mengumumkan investasi sebesar 12 miliar dollar AS untuk membangun fasilitas chip di Phoenix, Arizona, AS. Awal tahun ini, TSMC meningkatkan total investasinya menjadi 165 miliar dollar AS dengan ekspansi pabrik.

Namun, pada masa pemerintahan Trump, AS menaikkan tarif resiprokal (impor) Taiwan sebesar 32 persen. Taiwan segera melakukan negosiasi dan menjadi salah satu negara awal yang bernegoisasi. Akhirnya, tarif impor bisa ditekan menjadi 20 persen.

Dinamika ini memicu kekhawatiran masyarakat Taiwan. Beberapa di antaranya melihat AS menggunakan tekanan politik untuk mengambil keunggulan industri utama Taipei.

Arisa Liu, direktur Taiwan Institute of Economic Research, menilai bahwa tuntutan baru AS soal pembagian kapasitas produksi chip lebih banyak merugikan Taiwan. “Investasi besar dan membagi kapasitas produksi dengan AS pasti akan melemahkan ekosistem Taiwan sendiri, merusak integritas rantai pasokannya,” ujarnya.

Keunggulan Taiwan dalam industri semikonduktor tidak didapatkan dengan “jentikan jari”. Kolaborasi antara konsentrasi pelaku industri dari pemasok wafer silikon hingga produsen peralatan dan penyedia layanan menjadi kunci utama. Hal tersebut membentuk ekosistem rantai pasokan yang lengkap dan berfungsi secara efisien, sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam manufaktur semikonduktor.