Kritik Paus Leo XIV terhadap Kebijakan Luar Negeri AS
VATIKAN – Meskipun berasal dari Amerika Serikat, Paus Leo XIV tidak menunjukkan kepatuhan kepada Presiden Donald Trump. Hubungan antara keduanya semakin memanas setelah tindakan ilegal Trump yang menyerang Iran. Kritik terhadap Paus Leo XIV datang dari Trump melalui unggahan media sosialnya, yang menyebutnya sebagai “buruk dalam kebijakan luar negeri” dan menuduhnya “melayani kelompok kiri radikal”.
Pernyataan Paus Leo XIV mengenai pentingnya berakhirnya perang dan kritik terhadap “khayalan kemahakuasaan” yang mendorong konflik tampaknya ditujukan kepada Trump dan pejabat AS lainnya. Trump mengecam pernyataan tersebut di Truth Social, dengan menyatakan bahwa ia tidak ingin seorang Paus berpikir tidak apa-apa bagi Iran memiliki senjata nuklir.
Namun, informasi intelijen AS menunjukkan bahwa Iran tidak pernah berencana membuat senjata nuklir. Trump juga mengklaim bahwa Paus Leo XIV berutang posisi kepadanya, dengan mengatakan bahwa Paus hanya ditempatkan di Vatikan karena dia orang Amerika dan bahwa tanpa keberadaan Trump di Gedung Putih, Paus tidak akan berada di Vatikan.
Pertemuan Pentagon dan Vatikan
Sepekan sebelumnya, The Free Press melaporkan bahwa Departemen Pertahanan AS mengundang Kardinal Christophe Pierre untuk bertemu setelah pidato tahunan Paus Leo XIV kepada korps diplomatik Vatikan pada Januari. Pernyataan Paus yang mengkritik negara-negara yang memicu konflik di seluruh dunia disalahartikan oleh Pentagon sebagai serangan permusuhan terhadap kebijakan Trump.
Wakil Menteri Pertahanan Bidang Kebijakan Elbridge Colby melakukan pertemuan tertutup dengan Kardinal Pierre, memberikan ceramah yang pahit. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki kekuatan militer untuk melakukan apapun yang diinginkannya di dunia dan bahwa Gereja Katolik sebaiknya memihak AS.
Salah satu pejabat AS yang hadir pada pertemuan tersebut menyinggung masa kepausan Avignon pada abad ke-14. Saat itu, Raja Philip IV dari Perancis ingin menggunakan keuangan gereja untuk membiayai perangnya dengan Inggris. Paus Boniface VIII memprotes, sehingga menimbulkan perseteruan. Pada tahun 1303, Paus Boniface VIII menindaklanjuti dengan putusan yang mengucilkan raja Perancis dan kerajaannya. Sekutu Italia raja Perancis kemudian menyerbu kediaman kepausan dan memukuli Paus Bonifasius VIII sampai wafat. Serangan itu memaksa kepausan untuk pindah dari Roma ke Avignon, sebuah wilayah di dalam Perancis.
Penolakan Paus terhadap Trump
Pentagon dilaporkan menanggapi pernyataan Paus yang mengatakan bahwa “diplomasi yang mendorong dialog dan mencari konsensus di antara semua pihak sedang digantikan oleh diplomasi berdasarkan kekuatan, baik oleh individu atau kelompok sekutu.” Setelah pertemuan tersebut, Paus yang merupakan kelahiran AS itu dilaporkan menolak undangan Trump untuk menghadiri acara peringatan 250 tahun negara tersebut.
Bukannya menghabiskan tanggal 4 Juli di AS, Paus malah akan mengunjungi Lampedusa, sebuah pulau kecil di Mediterania yang telah menjadi pintu masuk bagi para migran Afrika yang berusaha mencapai Eropa. Seorang pejabat Vatikan yang berbicara kepada The Free Press mengatakan Paus tidak berencana mengunjungi AS selama Trump masih menjabat.
“Paus mungkin tidak akan pernah mengunjungi Amerika Serikat di bawah pemerintahan ini,” kata pejabat tersebut.
Komentar Paus terhadap Ancaman Trump
Penolakan Paus terhadap Trump terus berlanjut sejak pertemuan itu. Setelah Trump membuat postingan Truth Social yang mengancam akan memusnahkan seluruh peradaban Iran – sebuah ancaman yang tidak ditindaklanjuti – Paus mengeluarkan pernyataan yang menyebut kata-kata presiden tersebut “benar-benar tidak dapat diterima.”
“Hari ini, seperti yang kita semua tahu, ada juga ancaman terhadap seluruh rakyat Iran. Dan ini benar-benar tidak dapat diterima,” kata Paus kepada wartawan di Italia pada hari Selasa, hanya beberapa jam sebelum Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran telah tercapai.
Seorang juru bicara Departemen Pertahanan mengatakan kepada Newsweek bahwa karakterisasi Free Press terhadap pertemuan tersebut “sangat dibesar-besarkan dan menyimpang”. “Pertemuan antara pejabat Pentagon dan Vatikan merupakan diskusi yang penuh hormat dan masuk akal,” kata juru bicara tersebut. “Kami sangat menghormati dan menyambut baik kelanjutan dialog dengan Tahta Suci.”

Elbridge Colby, wakil menteri pertahanan AS untuk bidang kebijakan, tiba untuk sidang konfirmasi di Washington pada 4 Maret 2025. – (Michael Brochstein/Sipa USA via Reuters)

















