Tim SAR Gabungan di Pulo Pakkat, Kecamatan Sipabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menemukan fakta yang sangat memilukan saat menjalankan operasi pencarian dan pertolongan. Di tengah upaya penyelamatan korban bencana, petugas justru menemukan bangkai seekor satwa langka yang teridentifikasi sebagai orangutan Tapanuli. Penemuan ini terjadi pada Rabu (3/12) dan menambah duka di tengah musibah yang melanda wilayah tersebut.
Lokasi penemuan bangkai satwa langka ini berjarak sekitar 6 kilometer dari Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Hal yang sangat disayangkan adalah kondisi bangkai orangutan Tapanuli tersebut tertimbun di bawah tumpukan kayu gelondongan.
Medan Sulit dan Penemuan yang Mengejutkan
Menurut keterangan dari Decky Candrawan, seorang relawan dari Divisi Kebencanaan Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Tapanuli Selatan, medan menuju lokasi penemuan sangatlah sulit diakses. Untuk mencapai titik tersebut, satu-satunya cara adalah dengan menyeberangi sungai. Kondisi medan yang berat ini semakin mempersulit upaya penyelamatan dan penanganan pasca bencana.
“Karena hanya bagian tangannya yang terlihat, awalnya kami mengira itu jenazah manusia. Tubuhnya tertimbun kayu dan lumpur. Setelah material dibongkar, ternyata itu bangkai orangutan,” ungkap Decky, menggambarkan momen penemuan yang mengejutkan tersebut.
Kondisi Bangkai dan Identifikasi
Decky menjelaskan bahwa bangkai satwa langka yang ditemukan sudah dalam kondisi membusuk. Namun demikian, ia memastikan bahwa ciri-ciri fisik orangutan Tapanuli tersebut masih dapat dikenali dengan jelas. Ciri khas seperti bulu berwarna jingga dan struktur tengkorak yang spesifik menjadi bukti identifikasi.
“Berdasarkan pengamatan, itu orangutan betina remaja. Kondisi tubuhnya sekitar 80 persen masih utuh, sebagian sudah mengalami pembusukan,” tambahnya. Penemuan ini tentu saja menyita perhatian, mengingat status orangutan Tapanuli sebagai salah satu spesies primata yang terancam punah dan endemik di wilayah tersebut.
Kendala Evakuasi dan Prioritas Operasi SAR
Bangkai orangutan Tapanuli tersebut untuk sementara waktu telah diamankan dan diberi penanda. Namun, evakuasi bangkai satwa tersebut belum dapat dilakukan. Keterbatasan personel menjadi salah satu kendala utama. Selain itu, prioritas utama operasi SAR saat ini adalah pencarian korban manusia yang masih hilang di seluruh area yang terdampak bencana.
“Kami fokus pada pencarian korban manusia terlebih dahulu. Pada waktu bersamaan juga ada temuan jenazah korban banjir yang harus segera dievakuasi. Kami tidak memungkinkan membawa bangkai satwa itu ke pusat penanganan jenazah,” jelas Decky mengenai kendala yang dihadapi. Fokus pada penyelamatan nyawa manusia menjadi prioritas mutlak dalam situasi darurat seperti ini.
Update Data Korban Bencana
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memperbarui data korban meninggal dunia pasca bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga saat ini, total korban meninggal dunia di ketiga provinsi tersebut tercatat sebanyak 1.006 orang. Angka ini merupakan rekapitulasi keseluruhan dari berbagai lokasi terdampak.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa penambahan jumlah korban meninggal dunia berasal dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Rincian tambahan korban meliputi 4 orang di Aceh, 6 orang di Sumatera Utara, dan 1 orang di Sumatera Barat. Dengan demikian, total korban meninggal dunia yang berhasil ditemukan dalam operasi SAR pada hari tersebut mencapai 11 orang.
“Untuk data korban meninggal per hari ini dari data kami secara umum rekapitulasi 3 provinsi menunjukkan angka 1.006 jiwa korban meninggal dunia. Perubahan ini terjadi di Aceh dari 411 ke 415 jiwa korban meninggal dunia, kemudian Sumatera Utara dari 343 menjadi 349, dan Sumatera Barat dari 241 ke 242,” terang Abdul Muhari. Data ini terus diperbarui seiring dengan perkembangan operasi pencarian dan pertolongan yang masih berlangsung. Penemuan bangkai orangutan Tapanuli menjadi pengingat akan dampak bencana yang luas, tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi satwa liar yang mendiami wilayah terdampak.

















