Penyakit Jantung Bawaan (PJB) di Indonesia: Tantangan dan Solusi
Penyakit jantung bawaan (PJB) masih menjadi salah satu tantangan besar dalam dunia kesehatan anak di Indonesia. Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sekitar 8 dari setiap 1.000 bayi baru lahir diperkirakan memiliki kelainan pada struktur jantungnya. Meskipun angka ini terlihat kecil, dampaknya bisa sangat serius jika tidak segera dideteksi dan ditangani.
Ironisnya, banyak kasus PJB hanya terdeteksi ketika kondisi anak sudah cukup berat. Padahal, tanda-tandanya bisa terlihat sejak bayi lahir. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami gejala awal dan melakukan pemeriksaan secara dini.
Apa Itu Penyakit Jantung Bawaan (PJB)?
Menurut Ketua IDAI sekaligus dokter spesialis jantung anak, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), PJB merupakan kelainan struktur jantung yang sudah terjadi sejak bayi masih di dalam kandungan.
“Beberapa kasus bersifat ringan dan tidak menimbulkan gejala mencolok, namun untuk kasus berat biasanya terlihat dari napas bayi yang cepat, bibir kebiruan, dan berat badan yang sulit naik,” ujarnya.
Tanda-Tanda Anak Mengidap PJB yang Harus Diwaspadai
Orang tua memiliki peran penting dalam mendeteksi gejala awal PJB. Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain:
- Bayi tampak sesak atau bernapas cepat, terutama saat menyusu.
- Bibir dan ujung jari tampak kebiruan (sianosis).
- Berat badan tidak naik sesuai grafik tumbuh kembang meski asupan cukup.
- Anak terlihat mudah lelah meski hanya beraktivitas ringan.
- Bising jantung yang terdengar saat diperiksa dokter dengan stetoskop.
Menurut World Health Organization (WHO), pemeriksaan jantung sebaiknya dilakukan sejak bayi baru lahir, salah satunya melalui tes saturasi oksigen dan pemeriksaan fisik rutin.
Langkah yang Harus Dilakukan Jika Anak Terdiagnosis PJB
Jika dokter mencurigai adanya kelainan jantung, segera bawa anak ke dokter spesialis jantung anak untuk pemeriksaan lanjutan seperti echocardiography (USG jantung).
Menurut Kementerian Kesehatan RI:
- Untuk PJB ringan, anak cukup dipantau secara berkala.
- Untuk PJB sedang hingga berat, biasanya dibutuhkan pengobatan khusus, tindakan operasi, atau kateterisasi jantung untuk memperbaiki fungsi organ.
Selain itu, pola makan bergizi, menjaga kebersihan, dan vaksinasi lengkap menjadi faktor penting agar kondisi anak tetap stabil. Anak dengan PJB rentan terhadap infeksi, sehingga kekebalan tubuh harus dijaga sebaik mungkin.
Jenis dan Gejala PJB pada Anak
PJB Ringan
- Umumnya tidak menunjukkan gejala mencolok.
- Kadang baru terdeteksi saat anak sering mengalami infeksi pernapasan berulang.
- Bising jantung biasanya menjadi satu-satunya tanda yang ditemukan saat pemeriksaan medis.
PJB Sedang hingga Berat
- Napas cepat atau sesak, terutama saat menyusu.
- Bibir, lidah, dan ujung jari berwarna kebiruan.
- Berat badan sulit naik, mudah lelah, dan nafsu makan menurun.
- Sering mengalami pneumonia atau infeksi paru berulang.
Deteksi Dini Adalah Kunci
Penyakit jantung bawaan bukan berarti akhir dari segalanya. Dengan deteksi dini dan penanganan tepat, anak tetap bisa tumbuh sehat dan aktif. Edukasi kepada orang tua mengenai tanda-tanda awal PJB sangat penting, begitu pula dengan kemudahan akses terhadap layanan pemeriksaan jantung anak di fasilitas kesehatan.

















