Timnas Tanjung Verde Mencapai Piala Dunia untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah
Tim nasional (Timnas) Tanjung Verde berhasil memastikan tempat mereka di putaran final Piala Dunia 2026, sebuah pencapaian yang menjadi sejarah bagi negara tersebut. Kemenangan 3-0 atas Timnas Eswatini pada Senin (13/10/2025) menjadi kunci keberhasilan mereka dalam kualifikasi zona Afrika.
Pada pertandingan tersebut, Dailon Livramento membuka skor bagi tuan rumah di Praia dengan menyambar bola lepas di dalam kotak penalti pada awal babak kedua. Tak lama kemudian, Willy Semedo menggandakan keunggulan Tanjung Verde lewat tendangan voli pada menit ke-54. Bek veteran Stopira mencetak gol ketiga pada masa tambahan waktu sebelum peluit akhir berbunyi, yang memicu kegembiraan di Stadion Nasional berkapasitas 15.000 penonton.
Tanjung Verde merupakan negara kepulauan yang terletak di lepas pantai Senegal dengan jumlah penduduk sekitar 550.000 jiwa. Jumlah itu membuat Tanjung Verde menjadi negara dengan penduduk paling sedikit kedua yang mencapai Piala Dunia. Mereka hanya kalah dari Islandia, dengan jumlah penduduk lebih dari 350.000 jiwa, yang tampil di Piala Dunia 2018 di Rusia.
Dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Afrika, Tanjung Verde finis di posisi pertama Grup D dengan meraup 23 poin. Mereka unggul empat poin atas Kamerun, yang memegang rekor untuk penampilan Piala Dunia terbanyak bagi tim Afrika.
Pelatih Blue Sharks: Kemenangan bagi Seluruh Rakyat Tanjung Verde
Pelatih Blue Sharks Pedro “Bubista” Brito mengatakan kelolosan timnya merupakan kemenangan bagi seluruh rakyat Tanjung Verde. “Memberikan kebahagiaan ini kepada orang-orang ini adalah hal yang luar biasa,” ujarnya. “Ini adalah kemenangan bagi seluruh rakyat Tanjung Verde dan, yang terutama, kemenangan bagi mereka yang berjuang demi kemerdekaan kita.”
“Kami merayakan 50 tahun kemerdekaan kami, dan ini adalah momen istimewa,” tambah Bubista.
Meski begitu, keberhasilan Bubista membawa Tanjung Verde ke Piala Dunia 2026 tidak melalui proses yang instan. Pelatih berusia 55 tahun itu telah membangun tim yang kompak dan terlatih dengan pertahanan tangguh sejak Januari 2020. Federasi Sepak Bola Tanjung Verde tetap percaya pada Bubista meskipun gagal lolos ke Piala Afrika tahun ini di Maroko. Mereka harus puas finis di posisi terbawah grup babak kualifikasi Piala Afrika yang berisi Mesir, Botswana, dan Mauritania.
Kehadiran Pemain Diaspora
Kini, Tanjung Verde bergabung dengan Maroko, Tunisia, Mesir, Aljazair, dan Ghana sebagai wakil Afrika di Piala Dunia 2026. Dengan liga domestik yang hanya menampilkan 12 tim, Blue Sharks sangat bergantung pada pemain yang berbasis di luar negeri atau diaspora.
Fakta bahwa bek Shamrock Rovers Lopes mendapat panggilan pertamanya melalui pendekatan di situs web jaringan bisnis LinkedIn menggarisbawahi pendekatan negara tersebut dalam melacak pemain potensial. “Ayah saya berasal dari Pulau Sao Nicolau. Beliau pergi saat berusia 16 tahun,” ujar Lopes kepada podcast Destination New Jersey di BBC. “Orang-orang cenderung mencari peluang dan sepak bola di luar negeri. Sepertinya ada migrasi massal dari negara ini.”
“Kita ada di seluruh dunia. Sungguh luar biasa apa yang bisa kita capai saat kita bersama,” tambahnya.
Kesamaan dengan Shin Tae-yong di Timnas Indonesia
Perjalanan Bubista bersama Tanjung Verde sangat mirip dengan kisah Shin Tae-yong di Timnas Indonesia. Seperti halnya Bubista, Shin Tae-yong membangun Timnas Indonesia selama lima tahun sejak awal 2020 silam. Pelatih asal Korea Selatan itu juga membangun tim Merah-Putih dengan pendekatan pertahanan kokoh.
Kesamaan lainnya adalah Shin Tae-yong juga tidak menutup pintu untuk para pemain diaspora membela timnya. Kehadiran sejumlah pemain diaspora terbukti mampu meningkatkan kualitas tim dengan beberapa pencapaian bersejarah, termasuk keberhasilan lolos ke fase gugur Piala Asia dan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia untuk kali pertama.
Sayangnya, Shin Tae-yong mengalami nasib berbeda setelah pelatih berusia 55 tahun itu dipecat di tengah perjalanan ke Piala Dunia 2026. Ia digantikan oleh Patrick Kluivert ketika Skuad Garuda masih menyisakan empat laga di putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Pada akhirnya, Indonesia harus mengubur mimpi tampil di Piala Dunia 2026 setelah tersingkir di putaran keempat bersama Kluivert.

















