Pendidikan

Alumni Kampus Banjir Sumatera: Ajukan Dokumen Ijazah Pengganti

×

Alumni Kampus Banjir Sumatera: Ajukan Dokumen Ijazah Pengganti

Sebarkan artikel ini

Kemendikti Saintek Buka Jalur Penggantian Ijazah bagi Korban Bencana Sumatera

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) telah mengambil langkah proaktif untuk membantu para alumni perguruan tinggi yang menjadi korban bencana alam di wilayah Sumatera. Kesempatan untuk mengajukan dokumen pengganti ijazah kini dibuka bagi mereka yang kehilangan dokumen penting tersebut akibat musibah yang melanda.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikti Saintek, Khairul Munadi, menyampaikan hal ini di sela-sela kegiatan penyerahan bantuan bagi mahasiswa di Universitas Andalas (Unand). Universitas ini sendiri turut terdampak banjir bandang dan tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di Sumatera.

“Jika ada isu terkait dokumen kelulusan yang hilang akibat bencana, tentu Kemendikti Saintek memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengajukan dokumen pengganti,” ujar Khairul. Ia menyadari bahwa bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah memberikan dampak yang signifikan, tidak terkecuali bagi dokumen-dokumen penting milik mahasiswa maupun alumni.

Penerbitan Ijazah Fisik dan Digital Sebagai Antisipasi

Khairul Munadi memastikan bahwa pemerintah, melalui Kemendikti Saintek, akan memberikan respons cepat terhadap segala permasalahan yang berkaitan dengan dokumen penting seperti ijazah yang hilang akibat bencana alam.

Baca Juga :  Peduli Pendidikan, BPJS TK Sekupang Hadir di SMAN 10 Pulau Galang

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa saat ini perguruan tinggi telah memiliki kebijakan khusus yang memungkinkan penerbitan ijazah dalam dua format: fisik dan digital. Kebijakan ini dinilai sangat visioner dan merupakan langkah antisipatif yang sangat baik dalam menghadapi kejadian luar biasa seperti bencana alam. Dengan adanya ijazah digital, alumni tidak perlu lagi khawatir jika dokumen fisik mereka hilang atau rusak.

Sebelumnya, Kemendikti Saintek telah merilis data mengenai dampak bencana alam yang terjadi pada akhir November 2025. Sebanyak 60 perguruan tinggi di tiga provinsi di Pulau Sumatera dilaporkan terdampak langsung oleh bencana banjir dan tanah longsor.

Wakil Menteri Fauzan mengungkapkan temuan ini dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR. “Teridentifikasi ada 60 perguruan tinggi terdampak bencana banjir dan tanah longsor,” ungkapnya berdasarkan hasil pemetaan yang telah dilakukan.

Dampak Bencana pada Perguruan Tinggi dan Mahasiswa di Tiga Provinsi

Pemetaan dampak bencana alam menunjukkan distribusi perguruan tinggi yang terdampak di masing-masing provinsi:

  • Provinsi Aceh:
    • Terdapat 31 perguruan tinggi yang terdampak.
    • Rinciannya meliputi 4 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 27 Perguruan Tinggi Swasta (PTS).
  • Provinsi Sumatera Utara:
    • Sebanyak 14 perguruan tinggi merasakan dampak bencana.
    • Terdiri dari 1 PTN dan 13 PTS.
  • Provinsi Sumatera Barat:
    • Dampak bencana juga dirasakan oleh 15 perguruan tinggi.
    • Rinciannya adalah 9 PTN dan 6 PTS.
Baca Juga :  Ujian Nasional Ditiadakan, Ada Dua Opsi Penentuan Kelulusan Siswa

Selain berdampak pada institusi perguruan tinggi, bencana ini juga memengaruhi ribuan dosen dan mahasiswa. Tercatat ada 1.306 dosen yang terdampak dari perguruan tinggi di ketiga provinsi tersebut.

Jumlah mahasiswa yang menjadi korban mencapai angka yang cukup besar, yaitu 18.824 orang. Provinsi dengan jumlah mahasiswa terdampak terbanyak adalah Aceh, dengan 15.801 orang. Sisanya tersebar di Sumatera Utara sebanyak 2.408 mahasiswa, dan di Sumatera Barat terdapat 615 mahasiswa yang menjadi korban.

Menanggapi situasi darurat ini, Kemendikti Saintek juga telah melakukan pemetaan kebutuhan-kebutuhan mendesak yang diperlukan oleh para korban bencana. Kebutuhan tersebut meliputi:

  • Sembako
  • Logistik
  • Air bersih
  • Perlengkapan sanitasi
  • Pakaian
  • Obat-obatan
  • Layanan psikososial

Pemerintah berkomitmen untuk terus memberikan dukungan dan bantuan yang diperlukan bagi para korban bencana, termasuk dalam pemulihan dokumen akademik yang sangat krusial bagi masa depan para alumni.