Berita UtamaDaerahHukumKepriNatunaNews

Angkutan Barang Perintis di Natuna Lenyap, 13,5 Milyar Uang Subsidi Negara Kemana ?

×

Angkutan Barang Perintis di Natuna Lenyap, 13,5 Milyar Uang Subsidi Negara Kemana ?

Sebarkan artikel ini
Gambar Merupakan Ilustrasi (Foto: Adnan)

Alreinamedia.com-Natuna Habisnya anggaran subsidi Angkutan Barang perintis di Kabupaten Natuna menjadi tanda tanya besar? pasalnya sejak dikeluarkannya surat edaran dari Pihak DAMRI per tgl 11 Agustus 2023 yang menyebutkan bahwa jumlah rit angkutan barang di Natuna tinggal 218 Rit lagi.Membuat para pengusaha Natuna, Harus menguras kantong pribadinya, sehingga barang yang dibawa menggunakan armada Tol Laut bisa sampai ke jantung ibukota Kabupaten Natuna.

Sebelumnya Supri selaku Karyawan DAMRI di Propinsi kepulauan Riau yang berkantor di Batam saat di konfirmasi awak media ini melalui sambungan telp (29/8/23) menuturkan, bahwa subsidi angkutan darat barang yang ada di kabupaten Natuna tersebut sudah berlangsung sejak Agustus 2020 yang lalu.

“2023 ini kita sudah terlaksana 882 Rit pak, sehingga Agustus 2023 tinggal 218 rit yang disubsidi yang kita subconkan dengan Perusahaan PLS dalam pengangkutannya Tegas Supri

Sedangkan Berdasarkan data dan penulusuran awak media ini, diketahui bahwa satu kalit Rit tersebut biayanya hanya 800 ribu rupiah jika 800 ribu rupiah tersebut dikalikan 1100 Rit =Rp 880.000.000

Terpisah dari hasil investigasi awak media ini, ternyata pada tahun 2022, petugas DAMRI di Kabupaten Natuna, merangkap jabatan sebagai direktur PLS yang mana Perusahaan PLS tersebut merupakan Perusahaan yang ditunjuk oleh Damri sebagai pengelola angkutan barang darat.

Sukardi selaku Karyawan yang ditunjuk oleh pihak DAMRI Kepulauan Riau saat dikonfirmasi Rabu (30/8/23) membenarkan akan hal tersebut “ia pada tahun 2022 yang lalu saya memang direktur di perusahaan PLS, yang mana Perushaan tersebut di tunjuk sebagai perusahaan yang mendapatkan subcon oleh DAMRI sebagai pengelola barang darat di Kabupaten Natuna.

Baca Juga :  BPJS Ketenagakerjaan NTT Siap Tindak Perusahaan Yang Tidak Patuh MOU

Tetapi pada tahun 2023 ini tidak lagi, sebab direkturnya sudah berganti ujar Sukardi

Selanjutnya Erianto selaku owner AMG Logistik saat di konfirmasi Selasa (29/8/23) merasa kecewa akan hal subsidi angkutan Darat yang dikelola oleh DAMRI, ia menuturkan bahwa DAMRI tidak memberikan pengumuman sejak dari awal, melainkan baru bersurat di tgl 11 Agustus 2023, bahwa jumlah rit tinggal 218 yang mana dengan muatan kapal tol laut yang ada, jumlah tersebut tidak sebanding dengan jumlah rit dan jumlah barang yang turun di selat lampa menggunakan tol laut.

“Ini tentu merugikan kami, sebab sisa dari rit tersebut tentu membebankan kami sehingga barang tersebut menjadi komersil dan saya harus mengeluarkan uang pribadi hingga puluhan juta rupiah, padahal subsidi tersebut baru berjalan 3 bulan saja yang mana pada bulan April, Mei, Juni dan Agustus 2023 Pungkas Erianto

Dikutip dari halaman Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Amirullah menuturkan sebanyak Rp774Miliar untuk anggaran subsidi keperintisan di lingkup transportasi Darat disiapkan padah tahun 2023.

Ia menerangkan bahwa ada 3 jenis layanan keperintisan di Perhubungan Darat yaitu angkutan jalan, angkutan barang, dan penyeberangan. “Kita ingin dengan adanya angkutan perintis menjadi Indonesia-sentris sehingga tidak lagi Jawa-sentris. Inilah kenapa angkutan perintis perlu ada karena kita berupaya wilayah yang tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan (3 TP) harus dihubungkan sehingga terjangkau.

Baca Juga :  Kejagung dan Dewan Pers Sepakat Jaga Hukum dan Pers

Adapun rinciannya yaitu angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Rp583 Miliar, Angkutan Jalan Perintis sebesar Rp177,4 Miliar, dan Angkutan Barang Perintis sebesar Rp13,5 Miliar,” kata Amirulloh.

Pada Tahun Anggaran 2023 ini subsidi keperintisan angkutan jalan ada pada 327 trayek dan subsidi angkutan barang ada di 6 lintasan, sementara untuk subsidi perintis penyeberangan ada di 274 lintas.

“Ada 6 hal yang menjadi prioritas kami dalam pengembangan angkutan jalan perintis yaitu perbatasan negara atau daerah terluar, daerah pendidikan nasional, daerah pasca bencana, daerah terisolir atau belum berkembang, kawasan transmigrasi, dan integrasi dengan moda angkutan perintis lainnya. Kami memang dengan tol laut sudah coba mengintegrasikan hal ini sehingga ke depannya harga manfaat dari tol laut yang sudah ada dapat lebih maksimal,” lanjutnya lagi.

Tak jauh berbeda dengan angkutan jalan perintis, angkutan barang perintis juga hadir di wilayah-wilayah 3TP yang sangat membutuhkan sarana transportasi bagi barang kebutuhan masyarakat seperti di Tanjung Selor, Timika, Natuna, Merauke, dan Banda Aceh.

“Angkutan barang perintis hadir di daerah- daerah yang terintegrasi dengan tol laut karena itu hadir di pelabuhan yang ada rute tol lautnya. Dari evaluasi kami, selain disparitas harga yang mulai berkurang bahwa ada harga yang mulai turun dengan kehadiran pelayanan ini,” Pungkas Amirulah (Arizki)

Redaktur: Ali