Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Angkat Bicara Soal Kampanye Negatif Pariwisata Bali
DENPASAR – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyatakan keprihatinannya terhadap maraknya kampanye negatif di media sosial yang menyerang citra pariwisata Bali. Narasi yang beredar menyebutkan bahwa Bali mulai ditinggalkan wisatawan, dengan mereka beralih memilih destinasi liburan di Yogyakarta serta negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam.
Komang Alit Ardana, Wakil Ketua PHRI Badung, menduga isu ini sengaja diembuskan oleh pihak kompetitor yang merasa terancam dengan tren positif pariwisata Bali. Ia menekankan bahwa perbandingan antara Bali dengan pariwisata negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand tidaklah adil dan tidak sebanding.
“Tidak fair kalau Bali disandingkan dengan negara Malaysia, Singapura, Thailand. Kita harus berperan dalam menggairahkan dan menjawab isu ini bahwa Bali masih layak dikunjungi dan merupakan destinasi terbaik,” tegas Komang Alit Ardana.
Untuk membuktikan klaim tersebut, PHRI menyoroti tingginya angka pemesanan kamar hotel yang diprediksi akan penuh mulai dari tanggal 24 Desember hingga pekan pertama tahun 2026. Data yang dihimpun PHRI menunjukkan bahwa tingkat okupansi hotel saat ini berkisar pada angka 70 persen.
Dominasi Turis Domestik dan Siklus Normal Pariwisata
Komang Alit Ardana menjelaskan bahwa saat ini, wisatawan domestik menjadi dominan dalam mengisi kamar-kamar hotel di Bali. Sementara itu, wisatawan mancanegara mayoritas kembali ke negara asal mereka untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. “Turis asing rata-rata kembali ke negaranya untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Ini adalah siklus normal pariwisata di Bali,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, pada tahun 2024, tercatat terdapat 593 akomodasi hotel berbintang di Bali. Dari jumlah tersebut, 417 hotel berada di Kabupaten Badung, dengan total kamar mencapai 48.257 unit. Sementara itu, hotel non-bintang di Badung berjumlah 1.182 unit, dari total 3.582 unit hotel non-bintang di seluruh Bali.
Faktor Cuaca dan Animo Wisatawan yang Tetap Tinggi
Meskipun mengakui adanya pengaruh faktor cuaca ekstrem terhadap kunjungan wisatawan, Komang Alit Ardana mengklaim bahwa antusiasme wisatawan domestik untuk berlibur ke Bali tetap tinggi. Ia mencontohkan antrean panjang kendaraan di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk sebagai bukti nyata tingginya animo masyarakat untuk mengunjungi Pulau Dewata.
“Cuaca ekstrem memang mempengaruhi, tetapi animo wisatawan domestik memanfaatkan liburan di Bali cukup besar. Buktinya di penyeberangan (Ketapang-Gilimanuk) kendaraan mengular,” pungkas Komang Alit Ardana.
PHRI berkomitmen untuk terus berupaya menggairahkan kembali pariwisata Bali dan membantah narasi negatif yang beredar, dengan menunjukkan bahwa Bali tetap menjadi destinasi wisata unggulan yang layak dikunjungi. Upaya promosi yang lebih gencar dan penekanan pada keunikan serta keunggulan Bali diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan wisatawan dan menjaga citra Bali di kancah global.
Kampanye negatif yang muncul di media sosial seringkali memanfaatkan momen-momen tertentu untuk menciptakan persepsi yang kurang baik. PHRI menyadari pentingnya merespons isu-isu semacam ini dengan data yang akurat dan fakta yang mendukung. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat memperoleh informasi yang berimbang dan tidak terpengaruh oleh narasi yang tidak memiliki dasar yang kuat.
Selain itu, PHRI juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata lainnya, dan komunitas lokal, untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang sehat dan berkelanjutan. Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa Bali dapat terus menawarkan pengalaman liburan yang memuaskan bagi setiap pengunjung, baik domestik maupun mancanegara.
Peran media sosial sebagai alat promosi juga tak terlepas dari perhatian PHRI. Pihaknya berupaya memanfaatkan platform digital ini secara positif untuk menyebarkan informasi yang akurat mengenai kondisi pariwisata Bali, keindahan alamnya, kekayaan budayanya, serta berbagai atraksi menarik yang ditawarkan. Kampanye digital yang kreatif dan informatif diharapkan dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan membangkitkan kembali minat masyarakat untuk berlibur ke Bali.

















