Banjir Melumpuhkan Akses Utama Kudus-Purwodadi, Warga Terjebak dan Motor Mogok
Kudus, Jawa Tengah – Selama sepekan terakhir, aktivitas warga di sepanjang Jalan Kudus-Purwodadi, tepatnya dari Proliman Tanjungkarang hingga Desa Jetiskapuan, lumpuh total akibat genangan banjir yang merendam ruas jalan provinsi tersebut. Ketinggian air rata-rata mencapai 30 sentimeter, menciptakan pemandangan yang tidak asing bagi penduduk setempat, namun tetap saja menyulitkan dan membahayakan.
Kondisi ini bukan hanya mengganggu kelancaran lalu lintas, tetapi juga menjadi momok menakutkan bagi para pengendara, terutama pemilik kendaraan roda dua. Tidak jarang, motor matik yang nekat menerobos genangan air harus berakhir dengan mogok dan terpaksa didorong.
Kisah Tragis Pengendara yang Terjebak Banjir
Salah satu saksi mata dari kesulitan ini adalah Taufik Hidayat, seorang pria berusia 32 tahun. Ia bercerita bahwa rencananya untuk pulang ke rumah orang tuanya di Desa Wates, Kecamatan Undaan, harus tertunda lantaran motor matiknya mogok saat mencoba melewati area banjir.
“Saya tinggal di Ploso, Kecamatan Jati. Mau kembali ke rumah orang tua di Desa Wates, Kecamatan Undaan, malah motor saya mogok,” ungkap Taufik dengan nada prihatin saat ditemui di lokasi banjir pada Minggu (18/1/2026).
Setelah motornya mati, Taufik segera menepi. Ia meminta istri dan putranya yang masih berusia dua tahun untuk turun dari kendaraan. Dengan sabar, ia mencoba menghidupkan kembali motornya dengan cara distarter menggunakan kaki. Beruntung, motornya berhasil menyala kembali, namun genangan air belum juga surut.
Bagi Taufik, banjir yang melanda jalan provinsi ini bukan hanya sekadar ketidaknyamanan sesaat. Ia menekankan bahwa jalan tersebut merupakan akses utama bagi warga di bagian selatan Kudus, khususnya yang berada di Kecamatan Undaan, untuk menuju pusat kota.
“Untuk aktivitas sehari-hari pasti sangat terganggu. Hanya satu akses (jalan) ini. Sangat menyulitkan kami sebagai warga Kudus,” keluhnya. Ia berharap agar banjir yang kerap terjadi ini mendapatkan perhatian serius dari pihak yang berwenang.
Akar Masalah Banjir dan Solusi yang Diusulkan
Menanggapi keluhan warga dan kondisi yang terus berulang setiap musim hujan, Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyatakan bahwa banjir langganan di Jalan Kudus-Purwodadi memang membutuhkan solusi permanen. Ia secara tegas berharap pemerintah provinsi, selaku pengelola jalan tersebut, dapat segera mengambil tindakan.
“Bagaimanapun jalan tersebut menjadi wewenang mereka,” tegas Sam’ani.
Bupati Kudus mengusulkan sebuah solusi konkret, yaitu pembangunan saluran air di sepanjang jalan yang tergenang. Saluran ini nantinya diharapkan dapat mengalirkan air menuju Sungai Bakinah atau Sungai Kencing. Dari kedua sungai tersebut, air akan diarahkan ke kolam retensi di Jati Wetan.
Lebih lanjut, Sam’ani menjelaskan bahwa air dari kolam retensi tersebut kemudian akan dipompa dan dialirkan lebih lanjut ke Sungai Wulan. Mekanisme ini diharapkan mampu mengatasi masalah genangan air yang kerap terjadi.
Menurut Sam’ani, sumber utama banjir di Jalan Kudus-Purwodadi berasal dari genangan air yang mengalir dari wilayah timur, khususnya Desa Gulang. Di daerah tersebut, banjir juga dipicu oleh luapan sejumlah sungai, termasuk Sungai Piji dan Sungai Dawe. Hulu kedua sungai ini berada di lereng Gunung Muria.
Ketika debit air dari lereng Muria meningkat, seharusnya air tersebut mengalir ke arah selatan, kemudian berbelok ke barat menuju Sungai Bakinah atau Kencing, serta ke timur menuju sungai yang tembus hingga Juwana, Pati.
Namun, aliran air tersebut kini terhambat. Sam’ani mengungkapkan bahwa debit air di sungai yang mengarah ke Pati sedang tinggi, sehingga air tidak dapat mengalir lancar.
“Air yang seharusnya mengarah ke Juwana tersendat karena terjadi banjir,” jelasnya. Hambatan aliran inilah yang kemudian menyebabkan air meluap dan menggenangi Jalan Kudus-Purwodadi, menciptakan masalah serius bagi mobilitas dan kehidupan warga di sekitarnya.















