Berita

Bantuan Pangan Bapanas: 5,7 Juta Jiwa Terjangkau di Tiga Provinsi

×

Bantuan Pangan Bapanas: 5,7 Juta Jiwa Terjangkau di Tiga Provinsi

Sebarkan artikel ini

Respons Cepat Bapanas: Distribusi Ratusan Ribu Ton Bantuan Pangan untuk Korban Bencana di Tiga Provinsi

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan respons tanggap darurat yang sigap dalam menghadapi bencana alam yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Hingga 12 Desember 2025, total bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng yang telah berhasil disalurkan mencapai angka fantastis, yakni sekitar 28,9 ribu ton beras dan 4,2 juta liter minyak goreng. Penyaluran masif ini secara langsung menyentuh kehidupan 5,7 juta jiwa yang terdampak musibah.

Gerakan percepatan distribusi ini dipimpin langsung oleh Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, yang memberikan penugasan khusus kepada Perum Bulog. Upaya penyaluran bantuan telah digalakkan sejak pekan pertama terjadinya bencana, sebuah langkah strategis untuk memastikan bahwa kebutuhan dasar para korban terpenuhi tanpa penundaan.

“Program bantuan pangan reguler, pada saat hari H, langsung kita kirim. Kita percepat karena stok beras dan minyak goreng ada di lokasi,” ungkap Amran saat meninjau kesiapan distribusi di Dermaga Kolinlamil Tanjung Priok, Jakarta. Pernyataan ini menegaskan komitmen Bapanas untuk tidak hanya menyediakan bantuan, tetapi juga memastikan kelancaran dan kecepatan distribusinya.

Dua Skema Penyaluran untuk Jangkauan Maksimal

Baca Juga :  Borneo FC Menang Telak 3-1 atas Arema FC di Kanjuruhan

Keberhasilan penyaluran bantuan pangan ini didukung oleh dua skema utama yang diterapkan oleh Bapanas: bantuan pangan reguler dan bantuan pangan nonreguler.

  • Bantuan Pangan Reguler: Skema ini telah berjalan sejak bulan Oktober dan berfungsi sebagai bantalan awal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sebelum dampak bencana meluas. Khusus untuk wilayah Aceh, Sumut, dan Sumbar, bantuan reguler ini dirancang untuk menjangkau 1.715.126 Penerima Bantuan Pangan (PBP). Alokasi awal untuk skema ini mencakup 34,3 ribu ton beras dan 6,86 juta liter minyak goreng. Hingga tanggal 12 Desember, realisasi dari skema reguler ini telah mencapai 21,1 ribu ton beras dan 4,2 juta liter minyak goreng, menunjukkan progres yang signifikan dalam pemenuhan kebutuhan.

    Rincian realisasi bantuan reguler per provinsi menunjukkan distribusi yang disesuaikan dengan tingkat dampak dan kepadatan sasaran:
    * Aceh: Menerima 3,7 ribu ton beras dan 741,7 ribu liter minyak goreng.
    * Sumatera Utara: Menerima 11,5 ribu ton beras dan 2,3 juta liter minyak goreng.
    * Sumatera Barat: Menerima 5,9 ribu ton beras dan 1,18 juta liter minyak goreng.

  • Bantuan Pangan Nonreguler (Cadangan Beras Pemerintah untuk Bencana): Skema kedua ini berasal dari penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dialokasikan khusus untuk penanganan bencana. Bantuan ini diberikan berdasarkan permintaan resmi dari pemerintah daerah yang terdampak. Hingga 12 Desember, realisasi CBP untuk bencana di ketiga provinsi tersebut telah mencapai 7,8 ribu ton.

    Kecepatan respons dalam skema nonreguler ini sangat patut diapresiasi. “Bantuan nonreguler ini berbasis permintaan gubernur, bupati, dan wali kota. Tiga hari lalu Gubernur Aceh meminta tambahan 10 ribu ton, dalam 1 x 24 jam kami selesaikan,” tegas Amran, menyoroti efektivitas birokrasi dalam situasi darurat.

Baca Juga :  Cen Sui Lan Pastikan Maju Bersama Jarmin di Pilkada Natuna 2024

Alokasi CBP bencana per tanggal 10 Desember menunjukkan skala sasaran yang sangat luas untuk membantu jutaan jiwa:

  • Aceh: Mendapatkan pagu sebesar 16,29 ribu ton, yang diperuntukkan bagi 1,9 juta jiwa.
  • Sumatera Utara: Menerima alokasi 6,53 ribu ton, ditujukan untuk 1,8 juta jiwa.
  • Sumatera Barat: Mendapatkan pagu 795,7 ton, yang menyasar 237 ribu jiwa.

Upaya terpadu antara Bapanas dan Perum Bulog, didukung oleh permintaan proaktif dari pemerintah daerah, memastikan bahwa bantuan pangan dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan di tengah situasi sulit akibat bencana. Kesiapan stok dan efisiensi distribusi menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak kemanusiaan dan memulihkan ketahanan pangan di wilayah terdampak.