Warga Perumahan JGC Mengungsi Akibat Polusi Udara dari Uji Coba RDF
Ratusan warga Perumahan Jakarta Garden City (JGC), Jakarta Timur, memilih mengungsi setelah puluhan anak mengalami gangguan kesehatan yang diduga dipicu oleh polusi udara dari uji coba operasional pabrik pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara. Uji coba berlangsung pada 3–31 Oktober 2025 dan kembali memunculkan bau sampah menyengat yang sebelumnya sudah dikeluhkan warga.
Ketua RT 18 RW 14 Klaster Shinano, Wahyu Andre, mengatakan sebagian besar warga meninggalkan rumah sejak beberapa hari terakhir. “Banyak warga saya yang sudah mengungsi ke rumah saudaranya. Ketika saya minta untuk datang ke sini, mereka sudah ada yang di Bogor, Bandung, Jakarta Selatan,” kata Wahyu, Selasa (4/11/2025).
Dari sekitar 600 warga di klaster tersebut, Wahyu memperkirakan setidaknya setengahnya memilih pergi karena tidak tahan dengan kondisi udara. Menurut dia, bau sampah kembali tercium kuat sejak 28 Oktober hingga 1 November 2025. “Di klaster kami ini ada 600 warga, mungkin sekitar 300-an sudah enggak ada di rumahnya karena udah capek, tanggal 28 bau, 29 bau, terus saja,” sambung Wahyu.
Truk Sampah Diduga Jadi Penyebab
Secara geografis, lokasi RDF Rorotan berjarak sekitar 800 meter dari Perumahan JGC. Pada uji coba pertama, Maret–April 2025, bau sampah dan asap hitam dari cerobong pabrik terpantau jelas. Pada uji coba kedua yang berlangsung sejak 3-31 Oktober 2025, asap tidak terlihat, namun bau menyengat kembali muncul.
Warga menilai persoalan bau ini salah satunya disebabkan sistem pengangkutan sampah yang belum sesuai standar. Wahyu menyebut jumlah truk kompaktor tertutup yang tersedia tidak sebanding dengan kapasitas pengolahan. “Untuk kapasitas 2.500 ton itu yang dibutuhkan kira-kira 500 truk, sementara truk kompaktor yang dimiliki hanya 98 unit. Sisanya campur-campur, ada yang semi tertutup, ada yang terbuka,” ujar Wahyu.
Padahal, kata Wahyu, pengelolah berjanji truk pengangkut sampah RDF Rorotan semuanya harus tertutup agar air lindi dan baunya tidak mencemari jalan yang menjadi akses berlalu lalang warga. Ia juga menyampaikan laporan warga terkait truk sampah yang melintas dalam keadaan bak terbuka sehingga air lindi menetes ke jalan.
“Di lapangan ada sejumlah warga kami menemukan beberapa truk melewati BKT dengan kondisi terbuka, kemudian air lindinya tumpah di jalan. Itu yang saya laporkan kepada Pak Gubernur,” katanya.
Gubernur Jakarta Akui Kekeliruan
Gubernur Jakarta Pramono Anung mengakui adanya kekeliruan dalam sistem pengangkutan sampah selama uji coba RDF. “Saya mengakui secara jujur, problem-nya adalah di pengangkutan sampahnya,” ujar Pramono, di Taman Ismail Marzuki, Senin (3/11/2025).
Ia menambahkan terdapat penumpukan sampah di area fasilitas yang menyebabkan proses pengolahan tidak berjalan optimal sehingga bau mudah tersebar hingga ke perumahan warga. Selain itu, kata Pramono, sampah di RDF Rorotan tidak boleh menumpuk lebih dari dua hingga tujuh hari. Namun, dalam praktiknya ketika uji coba kemarin, tetap terjadi penumpukan sehingga sampah yang belum diolah sudah lebih dulu berbau.
23 Anak Sakit, Mayoritas Gangguan Pernapasan
Wahyu menyebut, hingga saat ini terdapat setidaknya 23 anak di Perumahan JGC menderita infeksi saluran pernapasan (ISPA) hingga infeksi mata diduga akibat paparan udara dari RDF. “Kalau besok masih beroperasi akan tambah lagi, karena pas kejadian di Maret dan April itu kan udah 30-an anak,” ujarnya.
Wahyu menyebutkan, 23 anak yang mengalami sakit tersebut sudah dibawa orangtuanya masing-masing ke rumah sakit langganan. Dari hasil pemeriksaan kesehatan, sebagian besar anak yang sakit disebabkan oleh polusi udara. Menurut Ketua RT 14, RW 14, Klaster Shinano, Perumahan JGC, Cakung Timur, Joni, polusi udara atau bau sampah dari uji coba RDF Rorotan sangat terasa, meski perumahan JGC dipenuhi dengan pepohonan.
“Katanya mau menciptakan udara bersih, lingkungan yang sudah banyak pohon aja bisa bau kayak begini,” ujar Joni. Sebagian anak telah mendapat penanganan medis dan didiagnosis mengalami infeksi saluran pernapasan serta iritasi mata.
Uji Coba Dihentikan, Evaluasi Akan Dilakukan
Project Manager KSO Wika–Jaya Konstruksi, Angga Bagus, mengatakan uji coba RDF telah dihentikan sejak 1 November 2025 sesuai jadwal. “Sudah dihentikan sejak hari Sabtu,” ujar dia ketika dikonfirmasi, Senin (3/11/2025). Ia menjelaskan bau dapat menyebar ke perumahan warga apabila pintu hanggar utama terbuka.
Ia menjelaskan bahwa pada kondisi tertentu, seperti saat pergantian shift pekerja atau pengisian BBM alat berat, pintu hanggar utama pengolahan sampah terpaksa dibuka. “Hal tersebut diindikasikan mempengaruhi sirkulasi atau tata udara,” kata Angga. Namun, jika dalam kondisi mesin beroperasi, maka sirkulasi udara di dalam RDF Rorotan dikendalikan oleh empat Deodorizer serta Flue Gas Treatment Rotary Dryer yang sampai saat ini berfungsi dengan baik.
Pengelola menyatakan akan mengevaluasi prosedur pembukaan pintu dan tata kelola fasilitas untuk mencegah kejadian serupa. “Penyedia akan mengevaluasi Standard Operational Procedure (SOP) pembukaan pintu hanggar, termasuk frekuensi dan durasi, guna memastikan pengelolaan sirkulasi udara berjalan optimal,” tutur dia.
Terikat Kontrak
Pengamat tata kota, Agus Pambagyo, menilai munculnya bau menyengat saat uji coba RDF Rorotan terjadi karena fasilitas tersebut didorong untuk segera beroperasi. Hal ini berkaitan dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemprov Jakarta dan salah satu pabrik semen di Rorotan, yang mewajibkan RDF memproduksi bahan bakar alternatif pengganti batu bara.
Nantinya, bahan bakar alternatif RDF akan digunakan pabrik semen tersebut untuk menggantikan diesel sebagai bahan untuk produksi setiap harinya. “Mungkin karena truk pengkutannya sampahnya dari mana-mana kan ke situ, waktu itu berhenti karena kekurangan bahan baku, sekarang sudah diurus Pemprov.”
Menurut Agus, dorongan untuk memenuhi kewajiban produksi membuat proses persiapan teknis, termasuk pengendalian emisi dan penataan sistem pengolahan, belum sepenuhnya optimal. Ia menilai RDF semestinya sepenuhnya berada dalam bangunan tertutup dan dilengkapi sistem pengendalian emisi. “Kalau sampah pasti ada tumpukannya, dan itu pasti bau. Mungkin bisa dibangunkan bangunan tertutup. Tapi gas metannya berbahaya, tetap harus dikendalikan,” ujarnya.
Selain itu, Agus juga menyarankan agar RDF Rorotan benar-benar dilengkapi dengan teknologi canggih sehingga uji coba dan pengoperasiannya nanti tidak lagi menimbulkan bau dan berbahaya untuk warga.

















