otomotifTeknologi

Depresiasi Mobil Listrik Bekas Mencapai 60 Persen: Tantangan dan Prospek Industri Kendaraan Listrik di Indonesia

×

Depresiasi Mobil Listrik Bekas Mencapai 60 Persen: Tantangan dan Prospek Industri Kendaraan Listrik di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Mobil listrik (Foto : freepik.com)

Industri kendaraan listrik di Indonesia tahun 2025 menghadapi dinamika yang kompleks. Di satu sisi, harga jual mobil listrik bekas mengalami depresiasi ekstrem hingga mencapai 60 persen. Sementara itu, sektor industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika (ILMATE) justru mencatat pertumbuhan yang menggembirakan sebesar 5,19 persen. Artikel ini akan membahas secara mendalam penyebab penurunan harga kendaraan listrik bekas, anjloknya penjualan motor listrik, pertumbuhan sektor ILMATE, serta prospek dan tantangan yang harus dihadapi oleh industri kendaraan listrik Tanah Air.


Depresiasi Ekstrem Mobil Listrik Bekas di Indonesia

Fenomena Depresiasi Tinggi Mobil Listrik Bekas

Mobil listrik bekas di pasar Indonesia kini mengalami depresiasi yang jauh lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional. Rata-rata depresiasi mobil listrik battery electric vehicle (BEV) mencapai 35-60 persen per tahun, sementara mobil konvensional dan hybrid mengalami depresiasi hanya 10-15 persen per tahun.

Faktor Penyebab Depresiasi

  • Kondisi Baterai: Kekhawatiran konsumen terkait kondisi baterai dan biaya penggantiannya.

  • Infrastruktur Charging: Keterbatasan stasiun pengisian daya di banyak daerah.

  • Persaingan Harga Mobil Baru: Penurunan harga mobil listrik baru membuat harga bekas semakin tertekan.

  • Minim Akses Kredit: Perusahaan multifinance cenderung enggan memberikan kredit untuk mobil listrik bekas karena risiko nilai aset turun drastis.

Contoh Kasus Depresiasi Mobil Listrik

  • Wuling Air EV mengalami depresiasi hingga 60 persen.

  • BYD Seal mencatat depresiasi terendah sebesar 35 persen.

  • Hyundai Ioniq 5 turun dari harga awal Rp925,6 juta ke harga bekas sekitar Rp435 juta.

  • Mercedes EQS turun sekitar 52 persen, sedangkan BYD Atto 3 turun 40 persen.

Baca Juga :  Lewat WhatsApp!! Begini Cara Ambil Antrean Paspor

Penurunan Penjualan Motor Listrik

Data Penjualan Motor Listrik 2025

Penjualan motor listrik semester pertama 2025 melorot hingga 80 persen, dari 63.146 unit pada 2024 menjadi hanya sekitar 1.000-12.000 unit.

Penyebab Penurunan

  • Hilangnya Insentif: Pemerintah menghentikan insentif Rp7 juta per unit yang sebelumnya mendorong penjualan.

  • Perkiraan Pasar ke Depan: Dengan tanpa subsidi, target penjualan motor listrik tahun 2025 turun drastis menjadi 20.000-25.000 unit dibanding target awal 100.000 unit.

Upaya Pengusaha Motor Listrik

Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi menyarankan pemerintah menunda kembali pemberian insentif dengan skema multi-tahun agar pasar motor listrik dapat bergairah kembali.


Pertumbuhan Sektor Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE)

Laju Pertumbuhan Positif 5,19 Persen

Sektor ILMATE mencatat pertumbuhan sebesar 5,19 persen pada semester I tahun 2025, salah satu yang terbaik sejak beberapa tahun terakhir.

Kontributor Utama Pertumbuhan

  • Subsektor Industri Mesin dan Perlengkapan: Tumbuh hingga 18,75 persen, didorong oleh peningkatan belanja modal pemerintah sebesar 30,37 persen.

  • Investasi: Total realisasi investasi di sektor ILMATE mencapai Rp181,35 triliun dengan dominasi penanaman modal asing.

Kontribusi Sektor ILMATE terhadap Ekonomi

Sektor ini menyumbang stabil 4,19-4,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan 24,7 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.


Tantangan Utama Industri Kendaraan Listrik Indonesia

Berkurangnya Nilai Jual Kembali (Resale Value)

Kekhawatiran atas nilai jual kembali yang cepat turun menjadi hambatan signifikan adopsi kendaraan listrik, khususnya bagi konsumen yang mempertimbangkan investasi jangka panjang.

Terbatasnya Infrastruktur Pengisian

Keterbatasan dan ketidakmerataan stasiun pengisian daya menjadi masalah yang berulang dan mendesak.

Baca Juga :  Infinix Note 50 Pro+: Flagship 3 Jutaan dengan Periskop & Chipset Monster

Perubahan Teknologi yang Cepat

Perkembangan pesat teknologi baterai dan kendaraan listrik membuat kendaraan lama cepat terasa usang dan kurang diminati.

Kebijakan Pemerintah yang Berubah-ubah

Kebijakan insentif yang tidak konsisten menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku industri dan konsumen.


Peluang dan Prospek Industri Kendaraan Listrik

Ketertarikan Generasi Milenial dan Gen Z

Segmen ini tetap berminat pada kendaraan listrik karena kepedulian terhadap lingkungan dan biaya operasional yang lebih rendah.

Potensi Pasar dan Pertumbuhan Industri ILMATE

Meskipun kendaraan listrik bekas tertekan, industri pendukung kendaraan listrik di sektor ILMATE menunjukkan tren positif yang menciptakan peluang investasi baru.

Kebutuhan Konsistensi Kebijakan

Pemerintah diharapkan memberikan dukungan insentif multi-tahun serta mengembangkan infrastruktur yang memadai untuk memacu adopsi kendaraan listrik.


Strategi Memperbaiki Pasar Mobil dan Motor Listrik Bekas

Edukasi Konsumen Tentang Teknologi dan Manfaat

Meningkatkan pemahaman akan teknologi baterai dan biaya pemeliharaan dapat mengubah persepsi negatif tentang nilai jual kembali kendaraan listrik.

Pengembangan Infrastruktur Pengisian

Pemerataan dan peningkatan jumlah stasiun pengisian daya listrik wajib dipercepat.

Insentif dan Kredit yang Mendukung

Mendorong lembaga pembiayaan dan multifinance untuk menyediakan kredit dengan risiko terkelola bagi kendaraan listrik bekas.


Kesimpulan

Meskipun menghadapi tantangan signifikan berupa depresiasi tinggi dan penurunan penjualan, industri kendaraan listrik Indonesia masih memiliki prospek yang menjanjikan terutama ditopang oleh pertumbuhan sektor ILMATE. Kunci keberhasilan industri ini adalah konsistensi kebijakan pemerintah, pengembangan infrastruktur, serta edukasi konsumen yang tepat agar adopsi kendaraan listrik dapat berkelanjutan dan industri dapat berkompetisi dengan baik dalam era transisi energi.