Inggris Tawarkan Dukungan Pengelolaan Sampah untuk Bali
Pemerintah Inggris tidak hanya menunjukkan komitmennya untuk mengatasi masalah kemacetan di Bali melalui Program Infrastruktur Kota Masa Depan (Future Cities Infrastructure Programme), tetapi juga secara proaktif menawarkan bantuan untuk menangani persoalan sampah yang kian mendesak di pulau dewata. Tawaran ini mengemuka setelah pertemuan audiensi antara Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia, HE Matthew Downing, dengan Gubernur Bali, Wayan Koster, yang berlangsung di Ruang Tamu Gubernur Bali, Renon, Denpasar, pada Jumat, 30 Januari 2026.
Dalam pertemuan tersebut, HE Matthew Downing mengungkapkan bahwa selain fokus pada sektor transportasi, Pemerintah Inggris juga siap memberikan dukungan signifikan dalam bidang pengelolaan sampah (waste management). Inggris memiliki rekam jejak panjang dan pengalaman mendalam dalam implementasi sistem daur ulang yang efektif, teknologi pengolahan sampah modern, serta strategi perubahan perilaku masyarakat guna meningkatkan kesadaran dalam membuang sampah secara bertanggung jawab.
“Kami siap membantu Bali melalui penyediaan konsultan ahli dalam pengelolaan sampah, pengembangan sistem daur ulang, serta program edukasi yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat terkait kebiasaan membuang sampah,” ujar Matthew Downing.
Menanggapi tawaran kolaborasi tersebut, Gubernur Koster secara terbuka mengakui bahwa tantangan utama yang dihadapi Bali saat ini memang berkisar pada tiga isu krusial: kemacetan lalu lintas yang semakin parah, pengelolaan sampah yang belum optimal, dan perilaku wisatawan yang terkadang kurang bertanggung jawab.
Menyadari urgensi persoalan ini, Pemerintah Provinsi Bali sedang gencar mempercepat pembangunan berbagai infrastruktur penghubung antarwilayah yang diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk kemacetan. Sementara itu, untuk sektor persampahan, Pemprov Bali tengah berupaya menyelesaikan penanganan masalah dari tahap hulu hingga hilir. Upaya ini puncaknya adalah pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy) yang dirancang mampu menampung kapasitas lebih dari 1.000 ton sampah per hari.
“Target saya adalah dalam dua tahun ke depan, persoalan sampah di Bali dapat terselesaikan. Lebih jauh lagi, pada tahun 2030, kita akan melihat perubahan yang sangat signifikan dalam penanganan kemacetan dan peningkatan kualitas infrastruktur secara keseluruhan,” jelas Gubernur Koster.
Pertemuan tersebut ditutup dengan ungkapan apresiasi yang mendalam dari Gubernur Wayan Koster atas kerja sama yang telah terjalin erat dengan Pemerintah Inggris. Beliau berharap agar kolaborasi yang produktif ini dapat terus diperluas dan mencakup berbagai sektor pembangunan lainnya di masa mendatang.
Proyek Waste to Energy: Bali Siap Sambut Teknologi Energi dari Sampah
Sebelumnya, inisiatif pembangunan fasilitas teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah – PSEL) berbasis waste to energy (WtE) di Bali semakin mendekati kenyataan. Proyek vital ini akan segera dibangun setelah mendapatkan dukungan anggaran yang kuat dari Pemerintah Pusat melalui Dana Antar Dana (Danantara).
Terkait dengan program strategis ini, Pemerintah Provinsi Bali hanya diminta untuk menyediakan lahan yang memadai untuk lokasi pembangunan PSEL. Lahan seluas 6 hektar telah berhasil disiapkan di kawasan Pelindo, sebagai hasil kerja sama yang baik dengan pihak Pelindo.
“Pemerintah daerah diminta untuk menyiapkan lahan seluas 5 hektare. Syukurlah, kita sudah berhasil mendapatkan lahan seluas 6 hektare berkat kerja sama dengan Pelindo. Selain itu, kita juga diminta untuk menjamin ketersediaan volume sampah minimum 1.000 ton per hari. Komitmen ini juga sudah kami penuhi, dan dokumen-dokumen pendukung lainnya yang diperlukan telah kami siapkan dengan seksama,” ungkap Gubernur Koster pada Kamis, 30 Oktober 2025.
Gubernur Koster menegaskan optimisme dan kesiapan Bali dalam mengadopsi program pengelolaan sampah menjadi energi listrik ini. Beliau membandingkan kesiapan Bali dengan daerah lain, seperti DKI Jakarta, Yogyakarta, dan berbagai daerah lainnya, dan menyatakan bahwa Bali berada di garis depan dalam hal persiapan untuk menerima dan mengimplementasikan teknologi PSEL. Kesiapan ini mencakup aspek lahan, komitmen volume sampah, serta infrastruktur pendukung yang terus dikembangkan.
Tantangan dan Solusi Pengelolaan Sampah di Bali
Masalah sampah di Bali bukan hanya isu lokal, tetapi juga menjadi sorotan internasional mengingat statusnya sebagai destinasi wisata dunia. Volume sampah yang terus meningkat, terutama sampah plastik, menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan, keindahan alam, dan kesehatan masyarakat.
Beberapa tantangan utama dalam pengelolaan sampah di Bali meliputi:
- Volume Sampah yang Tinggi: Jumlah sampah yang dihasilkan oleh penduduk lokal dan wisatawan terus meningkat secara eksponensial.
- Sampah Plastik: Dominasi sampah plastik menjadi masalah yang sangat mendesak, mengingat sulitnya terurai dan potensi pencemaran laut.
- Infrastruktur Pengolahan yang Terbatas: Fasilitas pengolahan sampah yang memadai masih terbatas, menyebabkan penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
- Perilaku Masyarakat dan Wisatawan: Kebiasaan membuang sampah sembarangan masih sering terjadi, baik dari sebagian masyarakat maupun wisatawan yang kurang sadar akan pentingnya menjaga kebersihan.
- Kurangnya Sistem Daur Ulang yang Terintegrasi: Sistem daur ulang yang komprehensif dan terintegrasi belum sepenuhnya berjalan efektif di seluruh wilayah.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Bali telah merancang berbagai strategi dan solusi, di antaranya:
- Pembangunan Fasilitas Waste to Energy (WtE): Seperti yang telah disebutkan, pembangunan PSEL ini diharapkan mampu mengolah ribuan ton sampah menjadi energi listrik, sekaligus mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.
- Pengembangan Infrastruktur Pengelolaan Sampah: Melibatkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang lebih modern dan efisien.
- Program Edukasi dan Sosialisasi: Meningkatkan kesadaran masyarakat dan wisatawan melalui kampanye yang gencar mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang benar, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, dan praktik daur ulang.
- Penguatan Peraturan: Penerapan regulasi yang lebih ketat terkait pengelolaan sampah, termasuk sanksi bagi pelanggar.
- Kolaborasi Internasional: Menjalin kerja sama dengan negara-negara maju seperti Inggris untuk mendapatkan transfer teknologi, keahlian, dan dukungan finansial dalam pengelolaan sampah.
Dukungan dari Pemerintah Inggris dalam bentuk keahlian dan teknologi diharapkan dapat mempercepat terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Bali, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan peningkatan kualitas pariwisata pulau ini.















